post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

PERBINCANGAN perihal sosok Hawa akan terus diperhatikan dengan cermat, sebab pada diriya mencakup sejumlah perkara penting; asal muasal penciptaan perempuan, untuk apa diciptakan, apa perannya setelah diciptakan, bagaimana kedudukan dan lain sebagainya.

Tentunya berbagai agama atau kepercayaan lainnya turut membahas sosok Hawa. Ketika Al-Qur’an turut memaparkan Hawa sebagai pasangan Adam dan leluhurnya kaum perempuan, jelas ini bukan ikut-ikutan dari cerita yang pernah ada sebelumnya.

Karena Al-Qur’an membangun suatu perspektif yang berkeadilan, yang bukan hanya berkaitan dengan memuliakan posisi Hawa, tetapi juga menjelaskan hakikat dari penciptaan makhluk Tuhan yang disebut perempuan.

Pada pon-poin yang krusial, Al-Qur’an juga meluruskan perspektif terdahulu yang melenceng dalam memahami penciptaan Hawa, yang berujung salah kaprahnya mereka dalam memahami peranan perempuan.

Para pakar Al-Qur’an meyakini penciptaan Hawa diterangkan pada surat An-Nisa ayat 1, yang artinya, “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”

Muhammad Nasib Ar-Rifa’i dalam bukunya Kemudahan Dari Allah Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Volume 1 (1999: 646) menguraikan:

Allah Ta'ala menyuruh makhluk-Nya agar bertakwa kepada-Nya, yaitu beribadah kepadanya Yang Esa tanpa menyekutukan-Nya. Dia pun mengingatkan mereka terhadap kekuasaan-Nya, yang dengan kekuasaan itulah Dia menciptakan mereka dari diri yang satu, yaitu Adam a.s.

 “Dan Dia menciptakan dari diri itu pasanganya,” yaitu Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk Adam bagian belakang yang sebelah kiri ketika dia sedang tidur. Kemudian Adam bangun dan dikejutkan oleh keberadaan Hawa. Keduanya pun saling tertarik.

Surat an-Nisa ayat 1 itu telah dengan jelas mengungkapkan tujuan penciptaan Hawa adalah menjadi pasangan Adam. Dan hingga kini masih berlangsung dengan apiknya; perempuan adalah pasangan sejatinya lelaki.

Lebih syahdu lagi apa yang diceritakan oleh Ibnu Katsir pada buku Kisah Para Nabi (2017: 21) yaitu:     
Adam ditempatkan di surga. Beliau berjalan-jalan sendirian di dalam surga dan mengisi hari-harinya di sana tanpa ada istri yang mendampinginya. Beliau tertidur sejenak. Ketika terbangun tiba-tiba telah ada seorang wanita yang duduk di sisi kepalanya. Allah menciptakannya dari tulang rusuk Adam.

Beliau bertanya, “Siapa engkau?”

Ia menjawab, “Seorang wanita.”

Beliau bertanya, “Untuk apa engkau diciptakan?”

Ia menjawab, “Agar engkau merasa tenang bersamaku.”

Selanjutnya para malaikat bertanya kepada Adam yang telah mencapai kesempurnaan ilmu, “Siapakah namanya, wahai Adam?”

Adam menjawab, “Namanya Hawa.”

Para malaikat kembali bertanya, “Mengapa (namanya) Hawa?”

Adam menjawab, “Ia diciptakan dari sesuatu yang hidup.”

Paling menarik dari rentetan dialog di atas adalah perkataan Hawa, “Agar engkau merasa tenang bersamaku.”

Hawa yang secara langsung mengungkapkan hakikat tujuan penciptaan perempuan, yakni demi menciptakan sakinah bagi kehidupan lelaki. Inilah yang hendaknya menjadi perhatian bagi segenap keturunan Hawa, di bumi ini tebarlah energi ketenangan dan kedamaian.

Sebagaimana biasa, perbedaan para ulama dalam penafsiran telah memperkaya khazanah intelektual Islam. Kali ini, para pakar berbeda pendapat terkait; dari apakah Hawa tercipta?

Dengan apik Nurjannah Ismail pada buku Perempuan dalam Pasungan Bias Laki-laki dalam Penafsiran (2003: 167-168) menjelaskan:

Penciptaan Hawa dalam ayat itu diungkapkan dengan kalimat wa khalaqa minha zaujaha (Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa)). Persoalannya, apakah Hawa diciptakan dari tanah sama seperti penciptaan Adam, atau diciptakan dari (bagian tubuh) Adam itu sendiri.

Kalimat minha (darinya), apakah menunjukkan bahwa untuk Adam diciptakan istri dari jenis yang sama dengan dirinya, atau diciptakan dari diri Adam itu sendiri.




Keteladanan Isya’; Perjuangan Ibu Demi Anak Saleh

Sebelumnya

Keberkahan Laya yang Telaten Merawat Suami

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tafsir