post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

SUNGGUH kondisi yang jauh berbeda, kontras sekali!

Tatkala istri mendapatkan istana di surga, sementara suaminya malah mati tenggelam di laut. Akan tetapi, tidak akan pernah sia-sia apapun yang disajikan oleh Al-Qur’an, termasuk menceritakan kondisi suami istri yang tidak akan selalu sama.

Asiyah menjalani suratan nasib yang getir. Kecantikan, keanggunan dan kehalusannya justru diterkam oleh seorang raja kejam bernama Fir’aun. Tentunya perempuan baik-baik itu tidak menghendaki bersanding dengan lelaki yang bahkan mengaku dirinya sebagai Tuhan.

Apalah daya, Asiyah mesti berkorban demi keselamatan keluarganya dari kebiadaban Fir’aun. Dalam keterpaksaan, dirinya terhempas di istana yang malah membuat dirinya menderita.

Namun, pengorbanan besar Asiyah justru memengaruhi jalannya sejarah kebenaran di persada bumi ini. Dia adalah perempuan agung, yang baginya dibangunkan oleh Tuhan istana khusus di surga.

Ibu Musa menghanyutkan bayinya di sungai Nil, agar selamat dari pembunuhan massal. Saat itu pasukan Fir’aun memang mengincar semua bayi laki-laki dari Bani Israil untuk dihabisi.  

Akhirnya, bayi Musa justru diselamatkan oleh Asiyah dan diboyong ke istana. Kontan raja itu murka, tidak mau ambil risiko dengan bayi antah berantah itu, Fir’aun pun hendak menghabisinya.

Asiyah tampil gagah berani melindungi bayi yang kelak akan menjadi nabi, yang kemudian hari menjungkalkan kesombongan Fir’aun. Perlindungan Asiyah pun membuat Fir’aun tidak berkutik.

Surah Al-Qashash ayat 9, yang artinya, “Dan istri Fir‘aun berkata, ‘(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak,’ sedang mereka tidak menyadari.”

Mushthafa Murad dalam buku 10 Wanita Ahli Surga (2016: 29) menerangkan, Asiyah telah melindungi anak itu dengan cinta, tirai yang halus dan tipis, bukan dengan pedang, kekuasaan, dan harta. Ia melindunginya dengan cinta yang bersemi dalam hati seorang perempuan.

Dengan cinta itu pula, ia menantang kekerasan, kekejaman, ketamakan dan kewaspadaan Fir'aun. Raja yang zalim itu meremehkan Allah dalam melindungi anak yang lemah itu, padahal Dia melindunginya hanya dengan tirai yang tipis ini.

Dan sejarah mencatat dalam pengasuhan Asiyah maka tumbuhlah bayi itu menjadi lelaki gagah perkasa yang melawan kejahatan Fir’aun. Bukan hanya mengantar Nabi Musa kepada jalan perjuangannya, sesungguhnya dari dalam istana Fir’aun itulah Asiyah telah terlebih dahulu menggelorakan perjuangan keimanan.

Berbagai penyiksaan ataupun intimidasi tidak membuat Asiyah tergeser sejengkal pun dari agama Ilahi. Fir’aun tidak mampu mengoyahkan keimanan istrinya sekalipun menggunakan cara-cara kekerasan.

Syaikh Muhammad Abdul Athi Buhairi dalam Tafsir Ayat-Ayat Ya Ayyuhal-Ladzina Amanu (2005: 417) mengungkapkan, Fir'aun telah menyiksanya dan mengancam untuk membunuhnya, namun ia tetap tidak memperhatikan itu semua, bahkan keimanannya tidak berkurang sedikit pun.

Hingga ia berkata kepada Fir’aun, “Demi Allah, saya tidak akan mendurhakai Allah walaupun harus berhadapan dengan maut. Jika engkau dapat menguasai jiwa dan tubuhku, akan tetapi hatiku berada dalam perlindungan Tuhanku, maka kerjakanlah apa pun yang engkau inginkan, karena tempat kembali kita semua adalah kepada Allah.”

Atas pengorbanan luar biasa dari Asiyah, wajar bila Allah Swt. pun mengabulkan permintaan perempuan salehah itu.

Surat at-Tahrim ayat 11, yang artinya, “Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir‘aun, ketika dia berkata, ‘Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.”

Betapa teguhnya keimanan yang tegak di relung hati Asiyah, yang membuatnya tidak terjerat dalam fatamorgana kehidupan dunia. Aisyah memiliki pandangan hidup yang terang benderang, yang tidak silau dengan kemilau duniawi yang sementara. Inilah yang penting diteladani oleh kaum muslimah, hiduplah dalam prinsip yang kokoh.

Hamka dalam Tafsir al-Azhar Jilid 9 (2020: 228) menyanjung, perempuan inilah yang telah menjadi perempuan beriman di tengah-tengah pergaulan raja yang kafir. Kekafiran suaminya tidak memengaruhi keimanan yang tumbuh dalam jiwanya. Apapun kejahatan yang diperbuat suaminya, namun dia tidak mau campur.

Seorang perempuan kelas tinggi, istri atau permaisuri seorang raja besar, yang hidup di dalam istana mewah, dikelilingi oleh seluruh kemewahan dan kebanggaan, kekayaan dan kemuliaan, gelombang dari rakyat yang datang sembah, menjunjung duli, menerima hadiah berbagai ragam. Semua itu tidak ada yang menarik hatinya.

Dia merasakan itu semuanya hanyalah kemegahan yang rapuh, kemewahan yang ditegakkan di atas bahu rakyat yang miskin-miskin. Sebagai seorang yang beriman, beliau bosan melihat semuanya itu.

Lalu dia memohonkan kepada Allah agar dibikinkan oleh Allah sendiri langsung sebuah rumah di surga yang diredai Allah.

Ketika Asiyah mendapatkan jaminan istana di surga, lantas bagaimana dengan akhir hayat Fir’aun?

Ternyata, dia berakhir dengan teramat tragis, tenggelam di laut bersama pasukan yang disombongkannya.




Mengintai Bayi yang Dihanyutkan di Sungai Nil

Sebelumnya

Mengikhlaskan Putrinya untuk Allah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tafsir