Ilustrasi/ Net
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

BOLEHLAH kita berdecak kagum terhadap sosok Zainab binti Jahsy. Kemuliaan dirinya sebagai istri Rasulullah kian mengagumkan ketika dia memutuskan untuk bekerja.

Lha, bukannya perempuan bekerja itu biasa saja?

Iya, tapi yang ini beda.

Nabi Muhammad memberikan nafkah yang mencukupi untuk istri-istrinya. Dan keluarga Rasulullah telah sepakat dalam menganut pola hidup sederhana, agar menjadi teladan bagi umat.

Lalu mengapa Rasul masih membolehkan istrinya bekerja?

Bagaimana hati sang suami tidak akan luluh, tatkala Zainab binti Jahsy meniatkan uang hasil kerjanya, bukan untuk kesenangan pribadi atau foya-foya, melainkan untuk disedekahkan.

Dahsyat!

Akan cukup sulit menemukan orang yang bekerja keras, yang hasilnya diniatkan untuk disumbangkan kepada mereka yang membutuhkan. Betul-betul niat suci yang terbit dari hati bak permata.

Sebetulnya, kini sudah mulai agak basi membahas semboyan bekerja dari rumah. Karena Alvin Toffler sejak tahun 1980-an sudah memprediksi dengan jitu tentang tren ini.

Sebagaimana dikutip dari buku Komunikasi CSR Politik, di mana Alvin Toffler dalam bukunya The Third Wave (1980), memberikan gambaran apa itu realitas komunikasi era siber. Siber, baginya sebuah definisi yang muncul jauh sebelum fenomena internet lahir.

Toffler menyatakan bahwa eksistensi teknologi merupakan fasilitas umum yang muncul pada akhir era sosial-kapitalis, di mana kehadiran teknologi bisa mengubah pola-pola kerja dan juga komunikasi.

Setiap pekerja sekarang bisa melakukan semua pekerjaannya di rumah sehingga interaksi mereka dengan anggota keluarga dan tetangga menjaid intens; ini yang disebutnya dengan “selective substitution of communication for transportation.”

Pembahasan bekerja di rumah mulai tidak seksi lagi, karena orang-orang mulai beralih semboyan, kaya dari rumah. Dan ajaibnya, datanglah teknologi smartphone dan berbagai perangkat pendukung lainnya, sehingga semboyan ini makin mudah direalisasikan.

Kalau dipikir-pikir, jauh sebelum ini, belasan abad yang lampau istri-istri Nabi Muhammad sudah membuktikan kaya dari rumah lho!

Nasaruddin Umar dalam buku Mendekati Tuhan Dengan Kualitas Feminin menegaskan, istri-istri Nabi sendiri aktif dalam bidang ekonomi dan dalam beragam profesi, seperti Khadijah, konglomerat yang berhasil dalam bidang usaha ekspor-impor; Shafiyah binti Huyay, perias pengantin, dan Zainab binti Jahsy, bekerja dalam bidang home industri pada proses menyamak kulit binatang.

Khadijah tidak perlu capek-capek berdagang ke Syam, tetapi dirinya adalah pebisnis yang luar biasa tajir. Zainab binti Jahsy tidak perlu perah keringat di pabrik. Dia berkreasi di rumahnya dan menjadi kaya. Aisyah juga bekerja di sektor intelektual. Banyak orang mendatanginya untuk bertanya, belajar atau berkonsultasi.

Alhamdulillah, kita pun mendapatkan secercah harapan di tengah gulitanya masa pandemi, utamanya yang merontokkan sektor ekonomi. Kita perlu membuka mata, ada banyak orang yang berhasil membela ekonomi keluarganya dari rumah, dan tidak sedikit pula yang menjadi kaya raya dan juga bahagia dengan profesinya.

Perubahan dramatis dari dunia online saat ini membuat siapa saja dapat berbisnis, tanpa perlu toko, tanpa butuh karyawan, tanpa beban modal malahan.Teknologi makin memanjakan kita, apa sih yang tidak dapat dibisniskan saat ini?

Kini tantangan kita bukan bekerja apa, melainkan bekerja yang bahagia. Bagaimana ya caranya?

Pertama, pekerjaan yang paling banyak berkahnya.

Buat apa bekerja keras tapi tidak berkah. Dan keberkahan itu dapat kita petik melalui dampak dari yang dikerjakan. Kita dapat menghidupi keluarga dengan layak, syukur-syukur dapat bersedekah. Nah, di sini pun berkahnya makin terasa.

Kedua, pekerjaan berdasar dari sesuatu yang disukai, atau kalau bisa dari hobi.

Hobi itu suatu gerbang yang paling mudah membahagiakan hati. Zainab binti Jahsy hobi menyamak kulit, lalu dibuatlah berbagai kerajinan handmade, kemudian laris manis. Dengan demikian, ia bekerja dengan sesuatu yang memang disukainya.

Kita pun perlu melihat kepada diri sendiri. Coba cermati hobi yang disukai dan pelajari cara membuatnya berkembang menjadi sumber penghasilan. Dan mudah-mudahan membuat kita bahagia dalam memperjuangkannya.




Adab Anak Adalah Tanggung Jawab Orang Tuanya

Sebelumnya

Apa Hubungan Bersyukur dengan Percaya Diri bagi Seorang Muslimah?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur