KOMENTAR

SEMBILAN anggota tim robotika perempuan Afghanistan telah tiba di Qatar pada Jumat (20/8/21) waktu setempat setelah organisasi induk tim tersebut berjuang berhari-hari menyelamatkan para anggota yang memenangkan penghargaan istimewa pada kompetisi robotika internasional di Amerika Serikat tahun 2017.

Penerbangan mereka diatur oleh pemerintah Qatar yang mempercepat penerbitan visa dan mengirimkan pesawat.

Sembilan remaja putri ini banyak mendapat pujian masyarakat internasional sebagai contoh potensial dari pendidikan perempuan di Afghanistan.

Keberangkatan para anggota tim yang terdiri dari remaja putri berusia 15 hingga 19 tahun ini, berikut seorang guru berusia 25 tahun menjadi mendesak setelah situasi keamanan di ibu kota Kabul makin memburuk.

Organisasi induk tim robotika  yaitu Digital Citizen Fund (CDF) yang berbasis di AS menyatakan bahwa mereka meminta bantuan dari Qatar pada tanggal 12 Agustus, tiga hari sebelum Kabul jatuh ke tangan Taliban.

Para anggota pemerintah Qatar memang masih menjalin komunikasi dengan DCF setelah tim robotika tersebut berkunjung ke Doha pada tahun 2019. Para remaja putri yang tergabung dalam tim ini berasal dari Herat, kota yang ada di belahan barat Afghanistan.

"Ketika kami mendengar kabul akan jatuh, kami menghubungi Kementerian Luar Negeri Qatar dan mereka segera mengurus visa kami. Mereka sangat peduli kepada anggota tim," ujar Elizabeth Schaeffer Brown, anggota DCF, dilansir BBC.

Elizabeth menegaskan bahwa tim robotika putri bukan 'diselamatkan' melainkan menyelamatkan diri mereka sendiri dengan penuh keberanian melalui kerja keras dan keberanian mereka selama beberapa tahun terakhir. Penerbangan keluar dari Kabul hanyalah akhir dari perjalanan yang mengancam jiwa mereka.

Kini, anggota tim tiba dengan selamat di Doha dan kemungkinan akan menetap di Qatar untuk meneruskan sekolah mereka.

Meskipun tidak menyebutkan secara detail, Elizabeth mengatakan ada beberapa universitas di berbagai negara—termasuk di AS yang menawarkan beasiswa. "Sangat penting bagi anggota tim untuk melanjutkan pendidikan mereka," kata Elizabeth.

Menurut Elizabeth anggota tim lain beserta para mentor masih tetap berada di Afghanistan bersama beberapa anggota organisasi.

Tim robotika yang terdiri dari para remaja putri ini dibentuk oleh CEO perusahaan teknologi perempuan pertama Afghanistan sekaligus founder DCF, Roya Mahboob di tahun 2017.

Tahun lalu, tim robotika Afghanistan ini fokus pada pandemi Covid-19 dengan menciptakan ventilator berbiaya rendah yang bermanfaat bagi pasien Covid-19. Ventilator tersebut dibuat dengan memanfaatkan komponen bekas dari mobil-mobil tua Toyota.

Tim yang dijuluki "The Afghan Dreamers" ini seharusnya menjadi visi baru dari negara Afghanistan. Mereka terdiri dari para remaja belasan tahun yang tumbuh di era pascaTaliban. Mereka memiliki akses ke telepon selular, televisi, dan internet. Tim ini bermarkas di kota terbesar ketiga di Afghanistan, Herat.

Tim ini berkompetisi di kancah internasional dan menang. Dikutip dari Rest of World, kesuksesan tim ini berhasil mendapat dukungan dari pemerintah Afghanistan yang sepakat untuk membantu pembangunan The Dreamer Institute di Kabul. Lembaga pendidikan tersebut akan menerima para remaja dari berbagai daerah di Afghanistan.

Para anggota tim robotika putri ini punya beragam mimpi besar. Mulai dari memiliki perusahaan sendiri, menjadi insinyur, bahkan pergi ke Mars. Namun melihat kondisi Afghanistan saat ini, rasanya jalan menuju mimpi-mimpi itu akan mereka tempuh di luar negara mereka.




Komnas Perempuan: Saatnya Pekerja Rumah Tangga (PRT) Dihormati dan Diakui Hak-haknya Selaku Warga Negara Indonesia

Sebelumnya

Palang Merah Indonesia Berkomitmen Melanjutkan Layanan Kesehatan Keliling di Kamp Pengungsian Khan Younis

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel News