post image
Amat penting untuk kita menyayangi diri kita sendiri selama proses menyembuhkan trauma, agar kita memiliki kepercayaan diri untuk bertahan di tengah derasnya ombak yang menghantam/ Foto: Pixabay
KOMENTAR

TRAUMA masa kecil adalah topik pembicaraan yang sangat sensitif. Jujur saja, hal itu adalah sebuah perjalanan yang bersifat sangat pribadi dan kompleks. Dan banyak dari kita tidak menyadari bahwa trauma itu nyata, bahkan mengganggu stabilitas kehidupan masa dewasa kita. Padahal amat penting untuk menyembuhkan trauma masa kecil kita, seperti dilansir Darling.

Trauma itu nyata, bukan mimpi. Tapi trauma itu mampu menghadirkan mimpi buruk pada malam-malam kita. Karena trauma itu terlampau berat untuk dipikul seorang gadis kecil. Karena itulah diri kita pantas untuk sembuh dari trauma masa kecil. Kita adalah manusia yang berhak untuk dicintai dan diperlakukan dengan baik.

Efek Trauma
Trauma adalah pencuri. Ia mencuri kepolosan masa kecil kita. Peristiwa, kata-kata, maupun perbuatan dari pengalaman traumatik akan membebani kita dengan pertanyaan "mengapa". Dan selama kita tidak mampu menemukan jawabannya, sekali pun kita tumbuh dewasa secara fisik, sosok kanak-kanak dalam diri kita tetap berada dalam kondisi trauma: sedih, bingung, malu, dan disalahkan.

Banyak dari kita mungkin tidak mengingat banyak tentang trauma masa kecil kita. Sampai kita mendewasa dan kita menyadari ada yang salah dengan diri kita. Sampai kita mampu 'mendengarkan' tubuh kita sendiri.

Sampai kita mau membuka diri mencari pertolongan dari orang lain. Psikolog atau psikiater. Atau ustaz/ ustazah yang mampu menyimak dengan seksama, yang akhirnya membuat kita yakin bahwa kita berharga untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

Kesabaran Memproses Trauma
Memproses sebuah trauma membutuhkan kerja keras dan pasang surut. Selama proses itu, ada kalanya ombak besar meluluhlantakkan semua yang berdiri tegak. Namun ada kalanya semua terang benderang bak matahari pagi yang kita saksikan dari tepi lautan.

Karena itulah amat penting untuk kita menyayangi diri kita sendiri selama proses menyembuhkan trauma. Agar kita memiliki kepercayaan diri untuk bertahan di tengah derasnya ombak yang menghantam.

Kita mungkin tidak mengingat persis trauma masa kecil yang kita alami. Dengan begitu, kita melanjutkan hidup kita dalam sebuah kondisi trauma response. Artinya, ketika kita mengalami trauma, tubuh kita akan melawan. Entah itu dengan cara membeku atau menghindar. Kita bisa saja 'membeku' sampai kita mencari pertolongan untuk mengenyahkan trauma tersebut.

Jika Kita Tidak Mengatasi Trauma, Apa Yang Terjadi?

Tubuh kita sangat bijaksana. Tubuh kita melakukan apa yang harus dilakukan untuk bisa bertahan dari trauma. Namun jika trauma tidak kita proses dengan baik, tubuh kita tidak mengetahui bahwa sebenarnya ancaman masa lalu itu sudah hilang. Trauma itu 'membeku' dalam diri kita dan kita terus-menerus berada dalam kondisi trauma response.

Semakin bertambah usia, kita belajar untuk hidup berdampingan dengan trauma yang tidak terselesaikan. Kita melakukan banyak cara untuk menghadapinya, menciptakan perisai yang menjauhkan kita dari trauma. Kita bisa saja mengalami gangguan pola makan, kecanduan terhadap sesuatu, atau cenderung menyakiti diri sendiri bahkan mencoba bunuh diri.

Tubuh kita seolah frustasi untuk mencari cara mengatasi stres yang tak kunjung berkurang. Karena itu pula kita bisa dengan mudah terjerumus dalam permasalahan keluarga dan hubungan yang merusak usia dewasa kita. Perasaan cemas, depresi, dan mati rasa menjadi norma baru dalam hidup kita. Semua itu terjadi karena kita tidak mengenali dan tidak mampu memproses trauma masa kecil kita dengan bijak.

Mulailah Mengindentifikasi Trauma
Mari bersahabat dengan tubuh kita. Saatnya kita tahu bahwa tubuh kita berada di pihak yang sama dengan kita. Tubuh kita ingin bebas dari trauma. Apa pun yang dilakukan tubuh kita, itu semua adalah upaya untuk bertahan dan mengelola pengalaman yang menakutkan.

Amat penting untuk memahami bahwa sisi kanak-kanak dalam diri kita masih takut dan terbebani beratnya trauma di masa silam. Karena itulah kita harus bisa mengeluarkan gadis kecil dalam diri kita untuk bebas dan melangkah maju. Kita harus dapat menjadi pribadi yang dibutuhkan gadis kecil itu.

Tanyakan pada diri kita, apa yang gadis kecil itu butuhkan. Apakah dia membutuhkan keyakinan? Apakah dia membutuhkan rasa aman? Apakah dia membutuhkan pegangan yang kuat? Pertimbangkan juga apa yang kita butuhkan saat ini.

Dengan menyatukan apa yang kita butuhkan saat ini dan apa yang kita butuhkan sebagai gadis kecil yang mengalami trauma, saat itulah kita bisa menjadi kuat. Dengan memenuhi kebutuhan diri kita dulu dan kini, kita belajar untuk merangkul sisi gadis kecil dalam diri kita dengan kasih sayang. Kita membangun kembali kepercayaan dengan diri kita. Kita belajar untuk menyibak gelapnya trauma demi kebaikan diri kita.

Kita tidak bisa menyangkal bahwa trauma merampas hal-hal positif dari diri manusia. Tapi semua hal berat dan menyakitkan yang menjadi bagian dari kisah hidup kita tidak mungkin sia-sia. Rasa sakit kita menumbuhkan benih yang hanya bisa dihasilkan dari rasa sakit. Benih itulah yang berkembang menjadi kekuatan unik yang hanya bisa muncul setelah kita bertahan dari kepedihan. Itulah yang disebut ketabahan.

Saat itulah kita bisa berkata pada gadis kecil dalam diri kita: Aku tahu bahwa tidak ada yang bisa menghapus apa yang sudah terjadi, tapi kita bisa menyembuhkan semuanya. Ada cukup ruang bagi aku dan kamu untuk bersedih dan berduka, juga untuk bertumbuh. Kamu memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi seseorang seperti yang kamu butuhkan dulu. Semua bagian dari dirimu; tubuh, pikiran, dan jiwamu semua ada di pihakmu. Di pihak kita.

Ya, kita memiliki semua yang kita butuhkan di dalam diri kita untuk bisa sembuh dari segala trauma dan duka masa silam. Kita akan bisa membebaskan gadis kecil di diri kita yang selama ini dilumpuhkan oleh trauma. Pantang menyerah dan bersabarlah. Trauma akan berkata "kamu tidak bisa (untuk sembuh)". Tapi sebenarnya, kita bisa.

 

Close X

Sembuh dari Covid-19, Risiko Kesehatan Apa Saja Yang Mengintai di Kemudian Hari?

Sebelumnya

Urgensi Vaksin Covid-19 Untuk Lansia

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Health