(Ilustrasi) perempuan depresi/Freepik
(Ilustrasi) perempuan depresi/Freepik
KOMENTAR

ADAKAH pasangan suami istri yang menginginkan terjadinya perceraian? Rasanya tidak ada. Siapa pun tidak ingin setelah ‘capek-capek’ meyakinkan diri, meminta izin orang tua (yang bagi banyak orang bukanlah perkara mudah), dan menyelenggarakan pesta nan meriah justru biduk rumah tangga kandas di tengah jalan.

Namun entah mengapa, semakin bertambahnya usia pernikahan justru menghadirkan permasalahan yang terus bertambah pula. Hal itu tak pelak membuat retaknya hubungan suami istri hingga tak jarang berujung ke perceraian.

Penting bagi pasangan yang bercerai untuk mampu mengelola emosi dengan baik agar tidak larut dalam keterpurukan.

Berikut ini dua langkah penting untuk menjaga kesehatan mental pascaperpisahan rumah tangga versi Farah.id.

Yang pertama (dan terutama), jangan mengelak dari kenyataan pedih yang terjadi. Tak ada salahnya mengakui bahwa diri kita sedang tidak baik-baik saja. Bagaimanapun juga, semua keseharian kita akan berubah total. Jika selama ini terbiasa menjalani berbagai aktivitas berdua, maka kini sendiri.

Sakit hati, sedih, dan terluka adalah perasaan-perasaan yang memenuhi dada. Rasakan saja, berikan waktu untuk diri kita berduka. Namun berusahalah untuk belajar dari rasa duka itu. Jika memang ada kesalahan diri kita terlanjur kita lakukan, berjanjilah untuk memperbaiki kesalahan itu dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Kita boleh berduka. Tapi dari hari ke hari, duka itu sebaiknya bisa berkurang sedikit demi sedikit. Lalu berganti menjadi rasa lega. Jika hati kita sudah bisa merasa lega, tidak aka nada lagi emosi meluap yang menyalahkan mantan pasangan maupun menyalahkan diri sendiri.

Dan yang kedua, bersyukurlah bahwa Allah masih memberikan jalan yang lurus kepada kita hingga saat ini. Banyak orang yang ketika ditimpa masalah berat—salah satunya perpisahan rumah tangga—memilih jalan yang tidak diridhai Allah untuk melupakannya.

Dan sebagai tanda syukur, tak ada jalan yang lebih indah selain menjadikan diri kita pribadi yang lebih berkualitas. Saatnya memantaskan diri untuk menjadi hamba-Nya yang lebih taat dalam beribadah dan lebih sukses dalam kehidupan pribadi dan profesional.

Jika kita sudah memiliki buah hati, fokuslah pada diri kita dan anak. Jangan biarkan perpisahan menjadi trauma berlarut di hati anak. Yakinkan anak bahwa orang tuanya akan selalu hadir utuh untuknya. Dan perpisahan ini justru harus menjadi kesempatan baginya untuk lebih menyayangi dan berbakti kepada ayah dan ibu.




4 Langkah Mengatasi Toxic Marriage

Sebelumnya

Silent Treatment, Salah Satu Ciri Toxic Marriage yang Mesti Diwaspadai

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Family