post image
Rezeki terbesar kita adalah anak-anak tercinta/ Net
KOMENTAR

DAN sampailah sudah pria tersebut pada usia 35 tahun, sementara statusnya tetap lajang. Sehari-hari rautnya tegang, wajahnya terus serius, dan amat jarang tertawa. Dia tipe pekerja keras, malahan lebih kerja keras dibanding orang yang sudah punya anak.

Bagaimana dengan pernikahan? Tentu saja dia berminat. Alasan itulah yang melecut dirinya kerja superkeras agar kelak anak-anaknya hidup makmur.

Tanpa terasa bumi berputar cepat, usianya pun menapak angka 40 tahun. Teman-temannya makin gencar memberi pengertian, “Kalau pun nanti kamu punya anak di usia tua, kamu akan kehilangan momen-momen indah bersama anak di usia mudamu.”

Pria itu sulit mencerna, apalagi menerimanya. Dia masih trauma dengan kesuraman masa kecil. Ketika masih bocah, dia masih ingat bagaimana sebutir telur dibagi enam oleh ibunya.

Dia pernah menjadi pebisnis sukses, pernah pula kaya mendadak. Tapi namanya bisnis kan naik turun, sehingga membuat dirinya makin tak percaya diri untuk menikah. Nanti bagaimana anak-anaknya makan kalau lagi jatuh miskin?

Sejatinya pria di atas tidaklah buruk, justru dirinya gambaran lelaki yang bertanggung jawab, bukan tukang kawin yang tak mau tahu nasib anaknya. Tetapi, pria tersebut dirundung rasa khawatir yang overdosis, apabila dibiarkan, dikhawatirkan dirinya malah tidak menikah sepanjang hayat.

Tampaknya, semangat menikah generasi jadul dengan generasi milenial telah berbeda secara dramatis. Orang-orang masa kini memutuskan menikah setelah mapan; setidaknya punya mobil, rumah, tabungan dan investasi. Dan tidaklah mengherankan apabila usia pernikahan generasi ini malah menjadi semakin mundur.

Bagaimana dengan orang-orang dulu? Boro-boro berinvestasi atau lebih dulu cari kaya, mereka tidak ambil pusing besok mau makan apa. Mereka menjadikan pernikahan itu sarana perjuangan. Menikah yang membuat mereka semangat mengejar impian sejahtera.

Lain orang lain pula prinsip yang dipegangnya, dan kita perlu menghormati prinsip hidup siapapun orangnya. Kita bukan berbicara salah atau benar. Namun, ada baiknya kita melihat dari perspektif agama, sebagaimana berikut ini:

Setiap Anak Dijamin Rezekinya
    
Surat al-An’am ayat 151, yang artinya, “Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena miskin, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.”

Pada kitab Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim, Ibnu Katsir menerangkan, bahwa hal itu karena mereka dahulu membunuh anak-anak mereka seperti yang diperintahkan setan. Mereka mengubur anak-anak perempuan karena takut aib, dan terlarang juga mereka juga membunuh anak-anak laki-laki karena takut miskin.

Sedangkan firman-Nya: min imlaaqin, Ibnu Abbas, Qatadah, as-Suddi, dan yang lainnya berkata, “Yaitu, kemiskinan.” Maksudnya, janganlah membunuh mereka karena kemiskinan yang menimpa kalian. Apabila kemiskinan itu terjadi, maka Allah berfirman, yang artinya, “Kamilah yang akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.”

Pada Tafsir Al-Misbah, M. Quraish Shihab mengingatkan, motivasi pembunuhan yang dibicarakan oleh ayat al-An’am itu, adalah kemiskinan yang sedang dialami oleh ayah dan kekhawatirannya akan semakin terpuruk dalam kesulitan hidup akibat lahirnya anak.

Karena itu, di sini Allah segera memberi jaminan kepada sang ayah dengan menyatakan bahwa, “Kami memberi rezeki kepada kamu,” baru kemudian dilanjutkan dengan jaminan ketersediaan rezeki untuk anak yang dilahirkan.  

Nah, bagi yang akan menikah atau pun sudah, tetapi dalam kondisi lagi miskin, maka rajin-rajinlah membaca dan memahami ayat ini. Karena ada jaminan Allah yang akan memberi rezeki kepada orangtua, lalu juga kepada anak-anaknya.

Jelas sekali ditegaskan bahwa rezeki itu didahulukan kepada orangtuanya, barulah anaknya. Tentunya syarat dan ketentuan berlaku; rezeki Allah akan terbuka seiring dengan gigihnya berusaha.

Menumpang Rezeki Pada Anak

Surat al-Isra’ ayat 31, yang artinya, “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu.”

Ibnu Katsir dalam kitabnya Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim menerangkan, ayat ini menunjukkan bahwa Allah Swt. lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada orangtua kepada anaknya. Oleh sebab itulah, dalam firman-Nya disebutkan tentang rezeki anak-anak mereka. Dengan kata lain, sasaran ayat ini adalah kepada orang yang mampu, lain dengan ayat di dalam surat Al-An'am, sasarannya ditujukan kepada orang miskin.

Pada Tafsir Al-Misbah, M. Quraish Shihab menjelaskan, adapun dalam surat al-Isra’ ayat 31, kemiskinan belum terjadi, baru dalam bentuk kekhawatiran. Karena itu, dalam ayat tersebut ada penambahan kata “khasyyat”, yakni takut. Kemiskinan yang dikhawatirkan itu adalah kemiskinan yang boleh jadi akan dialami anak.

Maka, untuk menyingkirkan kekhawatiran sang ayah, ayat ini segera menyampaikan bahwa, “Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka,” yakni anak-anak yang kamu khawatirkan jika dibiarkan hidup akan mengalami kemiskinan. Setelah jaminan ketersediaan rezeki itu, barulah disusulkan jaminan serupa kepada ayah dengan adanya kalimat, “dan juga kepada kamu.”

Sekiranya kita akan atau telah menikah, lalu dalam kondisi berkecukupan (tidak miskin), maka rajin-rajinlah membaca dan menyerap saripati ayat ini. Karena tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Allah menjamin rezeki bagi anak-anak kemudian juga untuk orangtuanya. Dari itulah orang-orang tua dahulu punya istilah, “Menumpang hidup sama anak.” Maksudnya, Allah kasih rezeki sama anak dan nantinya orangtua yang menumpang (baca: ikut menikmati) pada rezeki tersebut.

Bagaimana konkritnya? Mari kita simak kisah nyata berikut:

Tersebutlah janda beranak 9 orang yang bekerja sebagai buruh tani di kaki gunung, di pulau Jawa. Kalau imannya tipis, mungkin saja dia akan menyengsarakan anak-anak itu. Namun janda itu percaya bahwa anak adalah rezeki terbesarnya. Janda itu bekerja keras banting tulang dan terus menyemangati anak-anaknya agar tidak putus asa. Kini, setelah puluhan tahun apa yang terjadi?

Close X

Memetik Cinta Di Penghujung Malam

Sebelumnya

Nikmatnya Menjadi Kekasih Allah di Dunia

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Islam