post image
Dahlan Iskan saat didatangi remaja bernama Christy Lorenz/Disway
KOMENTAR

"Apakah Anda tidak pernah dimarahi orang tua?" tanya saya.

"Pernah dong. Kan biasa anak dimarahi orang tua," jawabnya.

"Anda merasa sangat dimanjakan orang tua?“.

"Tidak."

"Tapi kenapa Anda begitu sensitif?" tanya saya lagi.

"Karena, itu diucapkan oleh orang yang saya jadikan panutan," jawabnya.

Ups... Ternyata berat menjadi panutan itu. Kata dan kalimat yang diucapkan harus benar-benar terkontrol. Berat menjadi guru itu. Lebih berat lagi menjadi bos-nya para guru.

"Apa yang kemudian membuat Anda bisa bangkit dari bully itu?" tanya saya lagi. "Waktu saya menangis malam itu. Saya ingat sesuatu. Yakni esok paginya saya harus ujian internasional piano," jawab Christy.

Dia tidak ingin gagal di ujian piano itu. Level ujian itu sudah fondasi 6. Setelah ingat ujian piano itu Christy ingat pula cerita film. Tentang perenang yang di-bully. Yang dikata-katai tidak mungkin bisa juara. Kata-kata pem-bully itu justru ditulis. Lalu ditempel di dinding kamarnya. Bully itu dijadikan motivasi. Sewaktu terjun ke kolam renang ia ingat kata-kata di dinding itu.

Perenang itu juara.

Christy tidak sampai menuliskan kata-kata bully dan menempelkannya di dinding kamarnya. Yang dia tempel adalah tulisan tentang tekadnya untuk mendapat nilai sempurna di IB.

Maka ketika akhirnya Christy mendapat nilai 44, dia ingat bully itu. Dia pun melakukan penyanggahan yang berhasil itu.

Semua itu berawal ketika Christy menyampaikan tekadnyi untuk menjadi yang pertama di sekolah itu: meraih nilai sempurna IB. Respons sang panutan jauh dari yang dia harapkan. Sang panutan justru mengatakan jangan terlalu bermimpi muluk-muluk. Christy juga diminta untuk siap mental kalau tidak berhasil.

"Kata-kata seperti itu sudah membuat Anda terpukul? Begitu sensitifkah Anda ini?" komentar saya.

Sebelum dia menjawab saya menyesal berkomentar seperti itu. Takut tiba-tiba Christy meraungkan tangisnya. Ternyata tidak. Christy sudah move on agak jauh. "Kata-katanya mungkin biasa. Tapi tone dan mimiknya yang membuat saya terpukul," katanyi.

Ups... Mimik itu ternyata lebih penting dari yang diucapkan. Tone itu tidak kalah penting dari bunyi kata. Saya harus selalu ingat pelajaran dari Christy ini. Pun para orang tua yang lain. Terutama guru.

"Anda main basket?" tanya saya.

"Tidak. Saya menari ballet," jawabnyi.

Wow.

"Kapan terakhir menari ballet? “ tanya saya lagi.

"Delapan bulan lalu. Waktu mementaskan Clara and the Nutcracker," jawabnyi.

Saya tahu Clara itu ballet klasik sekelas Swan Lake. Saya pernah nonton Swan Lake di 'ibu kota' ballet dunia: St Petersburg, Rusia. Di gedung ballet yang terkenal di dunia. Yakni saat Rusia masih bernama Uni Soviet. Saat saya masih wartawan muda. Waktu itu saya diikutkan rombongan Presiden Soeharto ke Moskow, St Petersburg, Taskent, dan Samarkhand.

Cantik, cerdas, tinggi, pinter main piano, penari ballet. Apa lagi nikmat Tuhan yang masih kita dustakan.

Pun sebentar lagi Christy ke Toronto. Dia sudah benar-benar move on. Bully sudah jauh dia tinggalkan. Begitu banyak bully sekarang ini. Berarti betapa banyak anak yang terpukul jiwa mereka. Dan si anak hanya protes lewat tangis. Itu pun sendirian di dalam kamar.
 

Close X

Kantong Plastik

Sebelumnya

Dua Lawan Tiga

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Disway