Ilustrasi/Getty Images
Ilustrasi/Getty Images
KOMENTAR

AL-QUR’AN membahas secara gambling hal yang menjadi perhatian penting manusia, yaitu tentang syahwat. Allah menciptakan syahwat tersebut dan meminta manusia untuk mampu mengendalikannya tanpa perlu menghilangkannya. Inilah tantangan bagi manusia yang memelukan kearifan dalam menyikapinya.

Syahwat memiliki macam jenis, yaitu syahwat seksual, syahwat bermegahan dengan perhiasan, syahwat terhadap kekuasaan, dan sebagainya. Syahwat-syahwat itu bisa saja ‘menguasai’ manusia.

Dalam surat Ali Imran ayat 14 Allah Swt berfirman, yang artinya: “Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan yang berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertimbun tak terhingga berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dann di sisi Allah lah tempat kembali yang baik”.

Kemudian, M Quraish Shihab dalam buku Berbisnis dengan Allah (2011: 2-3) menjelaskan, Allah menjadikan hal-hal di atas indah bagi manusia -secara naluriah atau fitriah- karena Allah menugaskan makhluk sempurna ini membangun dan memakmurkan bumi.

Untuk melaksanakan tugas kekhalifahan itu, manusia harus memiliki naluri mempertahankan hidup di tengah aneka makhluk, baik dari jenisnya maupun dari jenis makhluk hidup yang lain, yang memiliki naluri yang sama. Naluri inilah yang merupakan pendorong utama bagi segala aktivitas manusia. Dorongan ini mencakup dua hal pokok, yaitu memelihara diri dan memelihara jenis.

Dari keduanya lahir aneka dorongan, seperti memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan, keinginan untuk memiliki, dan hasrat untuk menonjol. Semuanya berhubungan erat dengan dorongan/fitrah memelihara diri, sedangkan dorongan seksual berkaitan dengan upaya manusia memelihara jenisnya.

Allah memang menciptakan semua keindahan itu, layaknya kecintaan terhadap perempuan dan lainnya. Ayat di atas dengan tegas menyebutnya sebagai hubbu syahwat (kecintaan atau kecenderungan terhadap syahwat).

Dalam konteks pernikahan, hubbu syahwat itu sangatlah indah karena punya andil untuk berketurunan. Namun, bersama hubbub syahwat itu tersembunyi beberapa bahaya mengancam seperti:

Pertama, mengekalkan hubungan suami istri tidak cukup mengandalkan hubbu syahwat. Jika diibaratkan syahwat itu sesuatu yang bergejolak, maka suatu saat nyalanya akan redup atau padam. Penyebabnya bisa saja rasa bosan yang menjadikan hubbu syahwat kehilangan energinya.

Lelaki datang kepada perempuan dalam cinta atau syahwat, itulah mengapa terjadi hubungan intim antara suami dan istri. Tetapi jika hanya mengandalkan syahwat belaka, lama-lama akan hilang energinya karena manusia memiliki rasa bosan.

Kedua, perempuan adalah pemicu syahwat. Selain istri di rumah, ada banyak perempuan di luar sana yang bisa menjadi pemicu syahwat. Apabila suami sudah kehilangan syahwatnya terhadap istri, maka peluang berpaling hati sangatlah besar hingga mampu mengoyak bahtera pernikahan.

Perlu diingat, nafsu itu durasinya sangat pendek sehingga tak heran jika pernikahan yang hanya meluapkan emosi syahwat tidak akan berlangsung lama. Cinta yang menggebu-gebu bisa pupus Sakinah redupnya Sakina syahwat. Pasutri tidak bisa mengandalkan sesutau yang lemah demi melanggengkan rumah tangga.

Solusinya adalah Sakinah!

Contohlah para suami yang mampu mengelola syahwatnya dengan baik, cinta yang berbingkai sakinah, yang dapat memberikan rasa tenang kepada pasangannya. Sakinah dapat memperkokoh cinta di atas cinta. Jadi baiknya tidaklah bergantung pada hubbu syahwat yang lemah.




Anggunnya Keberanian Seorang Asma binti Abu Bakar

Sebelumnya

Memahami Faedah Bertawakal untuk Membebaskan Diri dari Penderitaan Batin

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur