Bagi Fifie Rahardja, sampah memiliki nilai rupiah yang tidak sedikit jumlahnya/IG
Bagi Fifie Rahardja, sampah memiliki nilai rupiah yang tidak sedikit jumlahnya/IG
KOMENTAR

SELALU ada asa dan harapan di balik semua peristiwa, bahkan di gunungan sampah sekalipun. Jika orang merasa jijik dan selalu menutup hidung ketika dihadapkan dengan sampah yang menggunung, yang dipenuhi dengan lalat dan ulat, tidak bagi perempuan yang satu ini. Fifie Rahardja, berhasil memberikan asa dan menjadi inspirasi bagi warga Sungai Citarum.

Perempuan kelahiran Bandung, 19 Juli 1964 ini mendirikan Bank Sampah Bersinar (BSB) yang kini sudah beranggotakan 7.000 dan terbagi dalam 235 kelompok. Sepertinya, hanya Fifie yang tersenyum bahagia begitu melihat tumpukan sampah yang terus menggunung. Karena dibalik aroma busuk sampah-sampah itu, tersimpan pundi-pundi rupiah yang bisa mensejahterakan masyarakat di sekitarnya.

“BSB hadir dari keprihatinan melihat banyak genangan sampah di Citarum. Selain memicu banjir, kehidupan warga sekitar juga terganggu, sekolah ikut terendam. Jadi, ada pemikiran jika sampah bisa dikumpulkan dan dijual, penderitaan warga jadi lebih ringan,” kata Fifie, dikutip dari beberapa sumber.

Untuk memulainya, Fifie mengirimkan tim khusus untuk belajar cara pengelolaan bank sampah di Malang, Jawa Timur. Tim yang terdiri dari warga setempat itu belajar selama enam hari. Setelah siap dengan segala aspek penunjangnya, pada 27 September 2014, Fifie mantap mendirikan BSB.

BSB tidak hanya mengumpulkan sampah, namun membantu membuka wawasan Masyarakat bahwa sampah bisa bernilai ekonomi dan menjadi alat tukar. Dengan demikian, BSB ikut memberdayakan masyarakat agar mandiri.

Yang unik dari itu semua adalah gagasan Fifie mendirikan ‘mal kaki lima’. Salah satu konsep mal tersebut adalah menyediakan beragam pakaian yang bisa dibeli dengan voucher tabungan sampah. Pembelinya adalah masyarakat umum, tidak hanya anggota BSB.

Fifie memastikan baju yang tersedia di mal kaki lima itu bukan pakaian bekas. Semuanya adalah barang baru yang ia ambil langsung dari pabrik. Maklum, latar belakang sebagai pengusaha memudahkannya mendapatkan barang berkualitas dari rekan pemilik pabrik garmen dan tekstil.

“Dengan harga murah, saya berharap warga dapat menjualnya lagi untuk memperoleh keuntungan lebih besar. Sampah bisa ikut membantu penghasilan mereka,” ujar dia.

Melalui BSB, Fifie juga berhasil menjajaki kerja sama pendidikan dengan dua perguruan tinggi di Bandung, di mana salah satu komponen biaya kuliahnya bisa dibayar menggunakan hasil mengumpulkan sampah.

Kerja sama juga telah dibina dengan beberapa klinik Kesehatan di Kecamatan Ciparay dan Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung.




Mooryati Soedibyo Tutup Usia

Sebelumnya

Bukan Salah Kartini

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Women