Ilustrasi mawar hitam/Pxfuel
Ilustrasi mawar hitam/Pxfuel
KOMENTAR

SEBAGAI salah satu pilar pertama kekuatan Islam, Hamzah memiliki peran sentral dalam melindungi Nabi Muhammad Saw. Dia berani menghadapi tantangan keras yang dihadirkan oleh musuh-musuh Islam pada zamannya.

Khalid Muhammad Khalid dalam buku 60 Orang Besar di Sekitar Rasulullah Saw (2014: 206) menjelaskan, sungguh, Allah memuliakan Islam melalui Hamzah. Ia berdiri tegap dan kukuh membela Rasulullah Saw, membela orang-orang lemah dari sahabat-sahabatnya.

Tentu saja, Hamzah tidak bisa mencegah semua bentuk aniaya. Meski demikian, keislamannya membuat Islam menjadi lebih kuat dan berperisai, sebagaimana hal itu menjadi daya tarik pertama yang efektif untuk masuk Islamnya berbagai kabilah yang kemudian disusul oleh keislaman Umar bin Khattab sebagai daya pikat berikutnya. Maka, orang-orang berbondong-bondong memeluk Islam.

Sejak memeluk Islam, ia menazarkan semua kesehatan, kekuatan, dan kehidupannya untuk Allah dan Rasul-Nya sehingga beliau kemudian menjulukinya “Singa Allah dan Rasul-Nya.” Pasukan pertama kaum muslimin yang kemudian bertemu dengan musuh tidak lain dipimpin oleh Hamzah. Panji pertama yang ditegakkan Rasulullah Saw kepada salah seorang kaum muslimin, beliau berikan kepada Hamzah. Saat dua pasukan bertemu saling menikam dalam Perang Badar, Singa Allah dan Rasul-Nya ini membuat berbagai hal yang menakjubkan.

Allah memuliakan Islam melalui Hamzah, yang berdiri gagah membela Rasulullah Saw. Hamzah tetap tak tergoyahkan dalam membela kebenaran. Dia menjadi benteng pertama yang kuat dan kokoh bagi perjuangan dakwah Nabi Muhammad.

Ternyata, takdir kepahlawanan Hamzah menemui puncaknya pada Perang Uhud. Tatkala Wahsyi bin Harb, seorang budak yang dimiliki oleh Jubair bin Muth’im, mendapatkan tawaran

kebebasan dari majikannya dengan syarat mampu membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib.

Jubair bin Muth’im sangat dendam atas kematian pamannya di tangan Hamzah pada Perang Badar. Hindun juga punya dendam serupa, karena saudara dan ayahnya mati di tangan Hamzah. Wanita itu menjanjikan hadiah perhiasan asalkan Hamzah binasa.

Dengan keahlian melempar tombak Habasyah, Wahsyi bergabung dengan pasukan Quraisy yang berangkat ke Perang Uhud. Misinya hanya satu, yakni membunuh paman Nabi tersebut.

Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam Al-Muafiri dalam kitab Sirah Nabawiyah (2020: 34-35) menceritakan pengakuan Wahsyi:

“Aku orang Habasyah yang ahli melempar tombak ala Habasyah dan lemparanku jarang sekali meleset. Ketika kedua belah pihak telah bertemu, aku keluar mencari Hamzah bin Abdul Muthalib dan mengincarnya.”

“Aku lihat dia berada di samping orang-orang yang sedang bertempur bak unta belang-belang yang membunuh lawan-lawannya dengan pedang dan tidak ada satupun lawan yang sanggup berdiri di depannya.”

“Aku mengendap-ngendap di balik pohon atau batu untuk mendekat kepadanya, namun aku kalah cepat dengan Siba’ bin Abdul Uzza yang terlebih dahulu mendekat kepada Hamzah bin Abdul Muthalib.”

Ketika Hamzah bin Abdul Muthalib melihat Siba’ bin Abdul Uzza, ia berkata kepadanya:

“Kemarilah, hai anak wanita pemotong pemutus clitoris (kelentit)!”

Kemudian Hamzah bin Abdul Muthalib memukul Siba’ bin Abdul Uzza dan pukulannya tepat mengenai kepala Siba’ bin Abdul Uzza.

Paman Nabi itu terlalu tangguh untuk dihadapi secara jantan satu lawan satu. Makanya Wahsyi memilih cara yang sangat pengecut. Dia secara sembunyi-sembunyi mengincar paman Nabi dan menanti dirinya terlengah.

Syekh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dalam bukunya Ar-Rahiq al-Makhtum (2015: 304) menerangkan, selanjutnya kuayun-ayunkan lembingku. Saat kurasa sudah tepat sasaran, langsung kubidikkan ke arahnya, tepat kena lambungnya hingga tembus di selangkangannya.

Dia berjalan terhuyung-huyung ke arahku lalu jatuh tersungkur. Aku menunggu sampai dia mati, lalu menghampirinya untuk mencabut lembingku. Setelah itu, aku kembali ke barak dan duduk di situ. Aku memang tidak punya kepentingan lain. Aku membunuhnya dengan tujuan agar aku bisa bebas. Maka setibanya di Mekah, aku pun dimerdekakan.”

Pada Perang Uhud, Hamzah bin Abdul Muthalib gugur sebagai syuhada. Nabi Muhammad sedih kehilangan paman tercinta yang rela mengorbankan jiwa raga demi syiar Islam. Singa Allah dan Rasul-Nya sudah menyelesaikan tugas mulia, sedangkan Perang Uhud berkecamuk semakin dahsyat.




Perang Badar Kedua

Sebelumnya

Pengkhianatan Yahudi Bani Nadhir

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Sirah Nabawiyah