Ilustrasi bunga, lambang kebahagiaan hati perempuan/Freepik
Ilustrasi bunga, lambang kebahagiaan hati perempuan/Freepik
KOMENTAR

TIDAK mudah memenangkan hati perempuan, meskipun telah menikahinya selama puluhan tahun. Hati perempuan adalah tempat yang sangat misterius, teramat unik dinamikanya. Banyak yang mengakui, upaya memenangkan hati kaum hawa menjadi hal yang menantang.

Nabi Muhammad pun demikian, beliau berupaya memenangkan hati seorang perempuan di tengah suasana berselimut duka. Dengan bijaksana ia mengedepankan pendekatan humanis dan agamis.

Ibnu Hamzah Al-Husaini Al-Hanafi Ad-Damsyiqi dalam buku Asbabul Wurud Jilid 2 (2011: 156) menceritakan seorang anak di bawah umur bernama Haritsah ibnu Rabi’ datang ke medan Perang Uhud, untuk menunggu/menantikan (hasil peperangan itu). Tiba-tiba ia terkena anak panah yang menembus lehernya. Ia tewas seketika.

Ibunya lalu datang menemui Rasulullah Saw untuk menanyakan keadaan anaknya (di hari akhirat kelak).

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mengetahui keadaan Haritsah (bahwa ia telah meninggal dunia). Jika dia tergolong calon penghuni surga, aku akan sabar menerima musibah ini. Jika tidak, engkau akan melihat apa yang akan aku lakukan.”

Beliau menjawab, “Wahai Ibu Haritsah, sesungguhnya surga itu tidak hanya satu melainkan banyak. Anakmu berada di surga Firdaus yang paling tinggi.”

Perempuan itu (lega) dan menjawab, “Aku akan sabar.”

Kisah Haritsah membawa pada momen mengharukan. Kepercayaan kepada Allah dan janji-Nya terhadap surga membuka lembaran baru dalam jiwa Sang Ibu untuk ikhlas. Betapa kuat keimanannya kepada Allah dan Rasulullah dalam menghadapi cobaan. Dan Surga Firdaus menjadi simbol kemenangan bagi mereka yang mengorbankan segalanya demi agama.

Nabi Muhammad memberikan harapan yang tinggi dan pasti, bukan janji palsu, bukan pula permainan kata-kata manis. Dengan tegas dikatakan Surga Firdaus untuk Haritsah.

Rasulullah tidak akan memenangkan hati Sang Ibu jika ia menyalahkan. Karena bisa saja demikian, lantaran Sang Ibu membiarkan anaknya datang ke lokasi Perang Uhud yang sangat berbahaya. Tidaklah tega Rasulullah menuangkan cuka di atas luka hati wanita yang sedang berduka. Tidaklah bagian dari kepribadian beliau meruntuhkan mental perempuan yang sedang rapuh disebabkan kehilangan putranya.

Al-Qur’an memberikan banyak sekali harapan kebenaran, yaitu surga. Seperti di dalam surat An-Nisa yang diartikan perempuan, maka patutlah menangkanlah hati kaum hawa dengan surga, karena keduanya memang memiliki tempat yang istimewa dalam Islam.

Lantas mengapa hati perlu dimenangkan?

Perkembangan peradaban di dunia seringkali merendahkan perempuan, bahkan ada yang memandang bukan manusia seutuhnya. Islam hadir memuliakan perempuan, di mana Allah menganugerahkan kelembutan hati yang diperlukan cara-cara elegan untuk memenangkannya.

Apabila hati perempuan bisa dimenangkan, maka kita semua akan beruntung, sebab kaum hawa dapat mengoptimalkan segala potensinya. Selain itu, insyaallah kita juga akan dicintai Rasulullah karena telah melaksanakan wasiat sucinya.




Apakah Kita Layak Merayakan Kemenangan?

Sebelumnya

Minal ‘Aidin Wal Faizin

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur