Ilustrasi ikhlas/Freepik
Ilustrasi ikhlas/Freepik
KOMENTAR

DI ISTANA ada air mata, di gubuk ada canda tawa. Ungkapan ini berusaha menggambarkan betapa bahagia atau derita adalah pilihan masing-masing. Sesuatu itu bisa dijadikan bahagia atau malah derita, tergantung persepsi yang kita bangun.

Seorang pembantu membawa pulang makanan yang oleh majikan diminta untuk dibuang ke tong sampah. Namun setibanya di rumah, makanan sisa itu disambut suka cita oleh keluarganya

yang sedang kelaparan. Anak-anak bersantap malam dengan penuh kebahagiaan. Di rumah gubuk mereka terpancar aura bahagia.

Sementara, di rumah majikan yang megah bagaikan istana, justru yang terpancar aura derita. Wajah-wajah murung menggelayuti penghuninya. Pertengkaran setiap kali meledak. Kehidupan rumah tangga tidak pernah akur.

Kenapa rumah megah, mobil mewah, dan harta melimpah tidak memberi efek apapun kepada ketentraman hati? Mengapa makanan bercita rasa tinggi terasa tidak enak di lidah, apalagi di hati?

Kuncinya adalah ikhlas!

Seorang pria kaya raya jatuh bangkrut setelah bisnisnya hancur dipukul pandemi. Dahulu banyak pembantu yang mengerjakan kebutuhan dirinya. Kini dia harus mengerjakan hal-hal yang berat dengan kedua tangannya yang rapuh. Namun, dia takjub dalam rumah tangganya mulai terbit senyuman. Mereka punya waktu untuk bersama dan bahagia malah bersinar dari kondisi pahit yang terjadi.

Kuncinya, seberapa besar kita mampu ikhlas dalam kehidupan ini.

Abdul Qadir Isa pada buku Hakekat Tasawuf (2005: 211) menerangkan, diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak akan melihat jasad dan bentuk tubuh kalian. Akan tetapi, Allah akan melihat hati kalian." (HR. Muslim)

Kondisi hatilah yang menjadi perhatian Allah dan menjadi ukuran dari nilai diri kita. Hati yang ikhlas bukan hanya menjadi modal bahagia, tetapi juga meninggikan derajat diri.

Erbe Sentanu dalam bukunya Quantum Ikhlas (2007: 112-113) menjelaskan, di dalam diri kita terdapat dua zona, yaitu zona nafsu dan zona ikhlas. Zona nafsu adalah wilayah hati yang dipenuhi berbagai keinginan, namun terasa menyesakkan dada. Zona ini diselimuti oleh energi rendah karena yang ada di dalamnya adalah perasaan negatif cemas, takut, keluh kesah, dan amarah.

Sedangkan zona ikhlas adalah zona yang bebas hambatan, terasa lapang di hati. Energi yang menyelimuti zona ikhlas adalah berbagai perasaan positif yang berenergi tinggi seperti rasa syukur, sabar, fokus, tenang dan happy.

Ketika kita ikhlas, kita pun merasa penuh tenaga. Sebaliknya, saat tidak ikhlas kita merasa resah, kacau, tidak bahagia, dan kehabisan tenaga.

Keikhlasan membawa kita pada pengertian bahwa kebahagiaan sejati bukanlah hasil dari memperoleh banyak materi atau memenuhi segala keinginan nafsu semata, melainkan datang

dari dalam hati yang bersih dan ikhlas. Ikhlas adalah modal utama untuk mencapai kebahagiaan yang abadi.

Sebaliknya, ketika hati tidak ikhlas, kita merasa resah dan kehilangan arah. Kekacauan batin dan ketidakpuasan menciptakan kekosongan dalam diri yang tak terbayangkan. Hati yang tidak ikhlas adalah seperti tanah kering yang tidak dapat merasakan kesuburan hidup.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menemukan dan merawat zona ikhlas di dalam diri kita. Ikhlas bukanlah sekadar kata-kata, tetapi suatu sikap hidup yang dapat membawa pada kebahagiaan sejati. Dengan hati yang ikhlas, kita dapat melihat dunia dengan mata yang penuh rasa syukur, merasakan ketenangan dalam setiap situasi, dan menjalani hidup dengan damai serta bahagia.




Anggunnya Keberanian Seorang Asma binti Abu Bakar

Sebelumnya

Memahami Faedah Bertawakal untuk Membebaskan Diri dari Penderitaan Batin

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur