ilustrasi salah satu warga Inggir mengenakan masker saat berada di luar rumah/net
ilustrasi salah satu warga Inggir mengenakan masker saat berada di luar rumah/net
KOMENTAR

JUMLAH kasus positif Covid-19 di Inggris melonjak 27,8 persen atau sekitar 887 kasus dalam tujuh hari pada periode 23-29 Juli 2023. Hal ini berdasarkan data resmi organisasi kesehatan dunia (WHO) baru-baru ini.

Covid-19 varian baru yang diumumkan jenis Omicron EG.5.1 alias 'Eris' yang mulai menyebar luas di kawasan Inggris dan sejumlah negara.  

Varian 'Eris' disebutkan WHO termasuk dalam klasifikasi sebagai variant under monitoring (VUM). Atau varian yang diawasi akibat penyebaran yang luas dan menyebabkan angka kasus Covid-19 di beberapa negara semakin meningkat.

Dilaporkan, 'Eris' sudah mendominasi 20 persen dari sekuen yang ada di Asia, 10 persen sekuen di Eropa, dan 7 persen sekuen di Amerika Utara.

Merujuk pada data coronavirus.data.gov.uk, 'Eris' memiliki gejala yang tidak banyak berbeda dari subvarian Omicron lainnya seperti pilek, sakit kepala, kelelahan ringan hingga berat, bersin dan sakit tenggorokan.

Data Badan Kesehatan Inggris (UKHSA) juga menunjukkan angka peningkatan positivity rate Covid-19, yakni menjadi 5,4 persen pada pekan lalu, dari sebelumnya 3,7 persen.

Sementara itu, Layanan Kesehatan Inggris (NHS), melaporkan jumlah pasien yang dirawat akibat Covid-19 meningkat hampir 50 persen, yakni menjadi 253 orang pada 27 Juli 2023. Pekan sebelumnya, jumlah pasien yang dirawat adalah 127 orang.

"Kami terus memonitor jumlah kenaikan kasus pada minggu ini. Kami memang melihat ada peningkatan pasien di rumah sakit, terutama di kalangan pasien berusia lanjut," kata kepala imunisasi Inggris UKHSA, Dr Mary Ramsay, dilansir Daily Mail.

Dia menyebutkan, salah satu faktor penyebaran infeksi 'Eris' adalah libur musim panas serta perilisan film Barbie dan Oppenheimer. Kedua film yang dirilis bersamaan pada akhir Juli tersebut menimbulkan banyak kerumunan, terutama di bioskop.

 




Korea Selatan Impor Siswa dari Empat Negara Imbas Tingkat Kelahiran yang Terus Menurun

Sebelumnya

Penusukan Massal di Sydney, Kementerian Luar Negeri Pastikan Tidak Ada WNI yang Menjadi Korban

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel News