KOMENTAR

KEBAIKAN adalah sesuatu yang dilakukan dengan dilandasi ketaatan kepada Allah Swt. Banyak orang memilih untuk menyembunyikan kebaikan yang dilakukan karena mereka memahami hakikat ikhlas dan lillahi ta’ala.

Hati orang yang melakukan kebaikan akan dipenuhi ketenangan. Segala tindak tanduknya positif dan membangkitkan semangat orang-orang di sekitarnya untuk menjadi baik pula.

“Kebaikan adalah dengan berakhlak mulia. Sedangkan kejelekan (dosa) adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwa. Ketika kejelekan itu dilakukan, tentu engkau tidak suka hal itu tampak di tengah-tengah manusia.” (HR. Muslim)

Maka ketika ada sesuatu yang salah, kita pasti menemukan dua cirinya berikut ini.

Pertama, jiwa yang gelisah.

Nurani manusia sejatinya berpijak pada kebenaran dan kebaikan. Maka ketika ia berbohong, mengambil yang bukan haknya, merugikan orang lain, atau melakukan maksiat dan kejahatan lainnya, jiwanya pasti gelisah.

Bahkan sekalipun ia menutupi keburukan dengan keburukan lainnya hingga menumpuk, bisa dikatakan jiwanya telah ‘mati’.

Kedua, bersembunyi karena tidak mau orang lain mengetahuinya.

Bahkan pembunuh terkeji sekalipun tidak mau memamerkan kepada dunia tindak kejahatannya. Karena fitrah manusia yang berpijak kepada kebenaran, bukan memberi ruang pada kejahatan.

Jika akhirnya melakukan keburukan, pasti terbersit rasa malu dan rasa menyesal. Hawa nafsu berhasil mengalahkan nurani dan akal sehat dan itu menimbulkan rasa yang tidak nyaman. Pasti ada yang berubah dalam keseharian karena ia berusaha keras menutupi keburukan yang dilakukan. Akibatnya, ia tak bisa utuh menjalani segala aktivitasnya.

Ya, karena dosa menggelisahkan jiwa.

Maka ketika kita tergelincir melakukan dosa, segeralah memohon ampunan Allah. Kita meminta sepenuh jiwa raga agar Allah Swt. mengampuni kita dan menjauhkan kita dari keburukan-keburukan lainnya.

Setelah kita bertobat, barulah jiwa kita bisa tenang. Dan pertempuran kita selanjutnya adalah bagaimana agar tak lagi dikalahkan hawa nafsu dan bisa terus istiqamah mengerjakan kebaikan. Wallahu a’lam bishshawab.




Ramadan Waktu yang Tepat Menyapih Hawa Nafsu

Sebelumnya

Menjaga Romantika Dunia dengan Kesucian Fitrah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur