KOMENTAR

TIDAK ada yang benar-benar mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Kendati demikian, Al-Qur’an memotivasi umat Islam untuk memikirkan, mempersiapkan, dan merancang yang terbaik untuk hari esok dan seterusnya. Sehingga ayat-ayat bernuansa futuristik juga menghiasi kitab suci, sebagai isyarat supaya kita berani melihat jauh ke masa depan dengan merancang strategi nan cemerlang.

Surah al-Hasyr ayat 18, yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

M. Quraish Shihab dalam bukunya Membumikan Al-Quran Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (1994: 730) mengungkapkan:

Menarik untuk diamati bahwa ayat di atas dimulai dengan perintah bertakwa dan diakhiri dengan perintah yang sama. Ini mengisyaratkan bahwa landasan berpikir serta tempat bertolak untuk mempersiapkan hari esok haruslah ketakwaan, dan hasil akhir yang diperoleh pun adalah ketakwaan.

Hari esok yang dimaksud oleh ayat ini tidak hanya terbatas pengertiannya pada hari esok di akhirat kelak, melainkan termasuk juga hari esok menurut pengertian dimensi waktu yang kita alami.

Kata ghad dalam ayat di atas yang diterjemahkan dengan esok, ditemukan dalam Al-Qur’an sebanyak lima kali; tiga di antaranya secara jelas digunakan dalam konteks hari esok duniawi, dan dua sisanya dapat mencakup esok (masa depan) baik yang dekat maupun yang jauh.

Ternyata Al-Qur’an memberikan dua makna untuk ghad atau hari esok, yaitu ketika berbicara mengenai masa depan maka yang dituju adalah; esok dalam arti masa depan di dunia dan esok dalam arti masa depan di akhirat.

Selaras dengan apa yang dijelaskan pada surah al-Qashash ayat 77, yang artinya, “Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Islam memang mengingatkan tentang masa depan di negeri akhirat, akan tetapi masa depan kehidupan di dunia tidak boleh dilupakan. Demi mencapai kesuksesan dan kejayaan di masa depan, setiap pribadi muslim harus mempersiapkan diri sebaik mungkin dan menyusun strategi masa depan yang jitu.

Setelah hari ini berlalu maka esok hari akan segera datang. Sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an, sebelum esok hari datang maka dari hari ini kita sudah mempersiapkannya. Bahkan, bukan saja esok hari, ghad atau masa depan yang akan disambut dengan persiapan matang itu juga untuk hari-hari esok yang sangat panjang, yang kita tidak tahu di mana ujungnya, tetapi tugas kita adalah mempersiapkannya.

Namun, upaya keras menyongsong masa depan cerah itu mestilah dalam bingkai takwa kepada Allah. Manusia memang didorong untuk memahami, mempersiapkan, dan memperhitungkan masa depan, akan tetapi dibutuhkan landasan takwa, sehingga yang terbaik untuk masa depan kita peroleh dalam rida Allah.

Kisah Mudhar

Masih berhubungan dengan tafsir surah al-Hasyr ayat 18, yang berkaitan dengan persiapan menyongsong masa depan, maka Hamka pada Tafsir al-Azhar Jilid 9 (2020: 54-55) menceritakan:

Menurut suatu hadis yang dirawikan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dengan isnadnya dari Abu Juhaifah, dari Al-Mundzir bin Jurair, dari ayahnya, dia berkata, “Sedang kami duduk bersama di hadapan Rasulullah pada suatu tengah hari, datanglah kepada beliau suatu kaum, tidak beralas kaki, tidak berpakaian, hanya berikat pinggang dan menyandang pedang. Umumnya dari Mudhar, bahkan semua dari Mudhar.

Maka berubahlah muka Nabi saw. melihat kemiskinan mereka itu. Lalu beliau masuk ke dalam rumahnya, kemudian beliau keluar pula. Lalu beliau perintahkan Bilal supaya azan dan beliau pun mengimami shalat.

Sehabis salat beliau berdiri dan berpidato. Di antara ucapan beliau, ‘Yaa ayyuhan naasut taquu rabbakumul ladzii khalaqakum min nafsin waahidah.’ Kemudian itu beliau baca pula ayat dalam surah al-Hasyr (yaitu ayat ini), ‘Wal tanzhur nafsun maa qaddamat li ghadin.’

Lalu berkata selanjutnya, ‘Bersedekahlah seorang lelaki dari dinarnya, dari dirhamnya, dari kain, dari segantang gandumnya, dari segantang kurmanya. Bersedekahlah, walaupun hanya sepotong buah kurma!

Setelah mendengar pidato Rasulullah saw. itu tampillah ke depan seorang dari Anshar membawa sebuah pundi-pundi dengan isi yang berat, sampai lemah telapak tangannya karena beratnya; pundi-pundi itu langsung diserahkannya kepada Nabi.

Kemudian tampil pula yang lain, dan tampil pula berturut-turut, semuanya memberikan pemberian dan teronggok di hadapan Nabi saw. ada makanan, ada pakaian, sehingga aku lihat wajah beliau berseri-seri seakan-akan disepuh emas layaknya.

Lalu beliau bersabda pula, ‘Barangsiapa yang menempuhkan dalam Islam suatu jalan yang baik, niscaya untuknya pahalanya dan pahala orang yang turut mengamalkannya sesudahnya; dengan tidak akan mengurangi pahalanya yang telah disediakan buat dia itu sedikit pun. Dan barangsiapa yang menempuhkan dalam Islam suatu jalan yang buruk, maka dia akan ditimpa oleh dosanya dan dosa orang-orang yang menuruti jejaknya itu, dengan tidak pula mengurangi ganjaran dosa buat dia itu sedikit pun.” (HR. Muslim)

Maka dari sebab anjuran Rasulullah saw. itu timbullah keinsafan lantaran adanya iman dan adanya takwa dalam hati sahabat-sahabat Rasulullah saw. ketika itu, sehingga terkumpullah bantuan untuk orang-orang muslim dari kabilah Mudhar yang melarat, saat mereka datang menyerahkan diri dan bersedia memeluk Islam, ke dalam kota Madinah itu, berpindah daripada hidup mengelana seperti Badawi ke dalam kehidupan kota yang beradab.

Menarik sekali bagaimana cara Rasulullah menanggapi kondisi memprihatinkan orang-orang suku Mudhar justru dengan memaparkan surat al-Hasyr ayat 18 yang berbicara tentang masa depan (futuristik).

Atas motivasi Nabi Muhammad maka kaum muslimin berlomba-lomba bersedekah, sehingga kaum fakir miskin yang kelaparan itu mendapatkan asupan gizi memadai, dan mereka memperoleh pakaian yang terhormat. Selain itu, bagi mereka yang dulunya suku nomaden yang berpindah-pindah menjadi suku yang berperadaban di lingkungan Madinah.  

Nabi Muhammad tidak meminta sahabat-sahabatnya memberikan belas kasihan kepada suku Mudhar, melainkan beliau menyerukan agar memperjuangkan ghad atau masa depan. Karena belas kasihan hanya sesuatu yang sesaat, tapi menyiapkan masa depan akan memberikan penghidupan yang layak sepanjang hayat bagi mereka.




Kemilau Mutiara Iyyaka

Sebelumnya

Memahami Hamma Biha dan Konsep Ma’shum

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tafsir