Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net
KOMENTAR

KASUS perundungan yang menewaskan seorang pelajar, kembali terjadi. Adalah B, yang diketahui duduk di kelas 1 SD di Medan, Sumatera Utara, menjadi korbannya. B diduga mengalami perundungan sekaligus tindak kekerasan yang diduga dilakukan oleh para seniornya.

Kejadian berlangsung pada Kamis (22/6), di mana B yang pulang sekolah diduga di-bully sekaligus dipukul oleh kakak kelasnya. Dalam keadaan sakit karena dipukul, B sempat menghampiri sang ibu yang sedang berjualan di pasar dan menceritakan kejadian tersebut.

“Kami berjualan di Masjid Raya, Kota Medan. Dia (B) datang dan bilang kalau dirinya baru saja dipukul. Sambil menangis (korban bercerita), dia sampai pucat,” cerita Yusraini, ibu korban, mengutip Merdeka.com.

Setelah pulang ke rumah, B mengalami trauma yang sangat berat. Menurut sang ibu, anaknya tidak mau makan, mengalami demam tinggi, hingga mengigau saat tidur.

“Semenjak dipukul itu, anak saya macam orang ketakutan. Sudah begitu, waktu tidur malam macam ketakutan, kayak trauma. Semenjak dipukul, B tidak mau makan, hanya maunya minum. Sakit badannya semua katanya, tapi dia tidak bilang di bagian mana,” kenang Yusraini.

Beberapa hari kemudian, kondisi B semakin menurun. Ia terpaksa dilarikan ke rumah sakit, namun sayang nyawanya tidak dapat diselamatkan. Tetapi, sebelum meninggal dunia B sempat menyebutkan nama-nama yang diduga pelaku pemukulan dirinya.

“Dekat-dekat sini juga (pelakunya), tapi orangnya enggak bisa kami sebut, nanti merumitkan masalah. Saya maafkan siapapun yang menjahati B, tapi saya enggak iklas, sakit hati ini. Gara-gara dipukuli orang, anak saya meninggal. Itu anak pertama, anak kebahagiaanku,” kata dia.

Sementara itu Kapolsek Medan Kota Selvin Trianingsih, masih menyelidiki kasus tersebut. “Mengenai kasus ini, masih dalam penyidikan Unit PPA Polrestabes Medan,” ucap Selvin.

Anak B adalah satu dari sekian banyak kasus perundungan yang berakhir pada hilangnya nyawa korban. Biasanya, korban perundungan akan mengalami depresi berat dan trauma. Tidak jarang korban akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

KemenPPPA memandang bahwa kasus bullying di Indonesia sangat memprihatinkan dan perlu upaya yang holistik dan integratif dalam pencegahannya. Upaya mewujudkan pendidikan yang berkualitas bukan hanya tanggung jawab guru, namun seluruh sektor seperti orang tua sebagai pendidik utama, pemerintah, dunia usaha, lembaga masyarakat, media, dan masyarakat itu sendiri.




Potensi Tsunami Masih Ada, Warga Diminta Waspadai Erupsi Gunung Ruang

Sebelumnya

Fasilitas Kesehatan Hancur, Sebanyak 562 Warga Palestina Menderita Hemofilia

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel News