KOMENTAR

GENDER equity atau kesetaraan gender dalam keluarga ternyata masih memerlukan perhatian khusus dari semua kalangan.

Di Indonesia, gender equity dalam rumah tangga sudah mulai banyak digaungkan. Sayangnya masih banyak pasangan suami istri, yang belum benar-benar bisa membangun dan menerapkan gender equity dalam hubungan mereka. 

Berdasarkan data Global Gender Gap Report tahun 2022, Indonesia masih berada di posisi ke-92 dari 146 negara di dunia. Peringkat tersebut menunjukkan bahwa kesetaraan gender di kalangan masyarakat Tanah Air masih rendah.

Namun satu hal yang perlu diperhatikan, kesetaraan gender tidak lantas meniadakan atau bertukar peran antara ayah sebagai kepala keluarga dan ibu sebagai sekolah pertama bagi anak. Bukan lantas jika ayah membanting tulang menghidupi keluarga dan ibu mengurus rumah menandakan ketidaksetaraan gender.

Yang terpenting adalah tidak merasa gengsi untuk saling membantu dan meringankan pekerjaan pasangan tanpa harus memandang apakah itu tugas laki-laki atau tugas perempuan.

Nah, beberapa tips membangun gender equity dalam rumah tangga berikut ini diharapkan dapat membantu Sahabat Farah menjaga keharmonisan keluarga.

1. Mengomunikasikan dengan baik perihal kesetaraan gender

Langkah pertama yang bisa dilakukan yaitu mengomunikasikan perihal gender equity dengan pasangan maupun anak-anak di rumah. Dengan membicarakan masalah kesetaraan tersebut, maka pola pikir dan kesadaran seluruh anggota keluarga bisa dibangun dengan lebih baik.

2. Membagi pekerjaan rumah

Selanjutnya, jangan pernah ragu untuk berbagi tugas pekerjaan rumah tangga. Mulai dari memasak, mencuci piring, menyapu, mengepel, dan lainnya. 

Libatkan anak-anak untuk ikut serta dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut. Berikan kesadaran tentang tanggung jawab bahwa pekerjaan rumah tidak menjadi tugas Ibu saja.

3. Berani melawan stereotip

Pada dasarnya gender bukan tentang perbedaan biologis antara jenis kelamin, melainkan konstruksi sosial yang mengakibatkan orang mendefinisikan apa artinya menjadi laki-laki atau perempuan.

Stereotip ini sering kali mengharapkan seorang individu untuk menyesuaikan diri dengan peran dan harapan gender yang spesifik, sehingga membatasi dari nilai-nilai sosial yang diberlakukan oleh masyarakat.

4. Hindari perasaan rendah diri

Rasa rendah diri seringkali membuat ibu atau perempuan sulit menghindari stereotip yang dibangun oleh masyarakat.

Misalnya saja, suami yang sepulang bekerja masih mau membantu istri mencuci piring akan mendapat banyak pujian. Padahal istilah "membantu" tidaklah tepat jika gender equity diterapkan. Karena mencuci piring tidak harus dilakukan oleh istri. Mencuci piring adalah basic life skill yang bisa dilakukan siapa saja asal ada kemauan.

Gender equity bukan lagi hal yang tabu untuk dibicarakan dan diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Butuh kesadaran dari berbagai pihak agar benar-benar bisa diterapkan.




Bikin Suasana Tidak Nyaman, Ini 3 Ciri ‘Agak Laen’ Orang yang Overconfident

Sebelumnya

Permasalahan Hidup Makin Kompleks, Saatnya Membangun Inner Calm untuk Menyikapinya

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Family