KOMENTAR

PEMUKIM Israel mulai mengganggu warga Palestina di wilayah Homesh. Di pekan terakhir bulan Mei, pemukim Israel mulai membangun kembali dan mendiami pos terdepan Homesh yang ilegal, yang telah kosong sejak tahun 2005. Namun pada Maret lalu, pemerintah Israel telah memberi izin untuk warganya bermukim kembali di Homesh.

Samer Rashed Masood kehilangan sumber pendapatan satu-satunya setelah pemukim Israel membakar lumbung untuk dombanya hingga rata dengan tanah. Lumbung itu sudah berdiri sejak 15 tahun lalu.

Ada pula Fatma Ibrahim Ali Raad (64) perempuan asal Lebanon yang menikah dengan laki-laki Palestina dari Burqa. Suaminya meninggal 13 tahun lalu, dan Fatma hidup sendirian sejak saat itu.

Pemukim Israel menghancurkan tiga jendelanya saat ia keluar rumah. "Saya berbohong jika saya mengatakan saya tidak takut," katanya seperti dilaporkan Al Jazeera.

Setelah 18 tahun berlalu, pemukim Israel ingin kembali ke Homesh. Menyelesaikan apa yang belum mereka tuntaskan.

Kapan pun mereka mau, mereka akan turun dari puncak bukit ke rumah-rumah warga Palestina dengan sangat mudah. Hanya butuh hitungan menit untuk masuk ke rumah warga.

"Jika kami punya sesuatu untuk membela diri, kami akan bertahan. Tapi kami tidak punya apa-apa. Kami butuh perlindungan," kata Fatma lagi, seraya mencontohkan pasukan internasional yang disediakan untuk Lebanon di perbatasan.

Para warga Palestina memahami bahwa tujuan akhir segala pelecehan, tindakan kasar, dan penyerangan yang dilakukan pemukim maupun tentara Israel adalah untuk mengusir mereka.

Mereka tahu banyak pemukim dibayar untuk melakukan penganiayaan dan perusakan dengan tekad bulat agar warga Palestina meninggalkan tanah mereka dan Israel bisa mengambil alih.

Tindakan Israel tersebut sebelumnya telah mendapat reaksi keras dari Amerika Serikat. AS meminta Israel tidak melegitimasi Palestina sesuka hati, apalagi dengan memerintahkan pemukim Yahudi membangun kembali pemukiman di pos terdepan Tepi Barat.

Departemen Luar Negeri AS meminta Israel untuk menahan diri dari tindakan yang memicu ketegangan dengan Palestina.

Dikutip dari Reuters, Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS bahkan mengatakan bahwa kehadiran permanen warga Israel di pos terdepan Homesh di Tepi Barat utara menurut hukum Israel dibangun secara ilegal di tanah pribadi Palestina. Dan apa yang dilakukan pemerintah Israel tersebut dianggap tidak konsisten dengan komitmennya di tahun 2004 maupun terhadap pemerintahan Biden.




Komnas Perempuan: Saatnya Pekerja Rumah Tangga (PRT) Dihormati dan Diakui Hak-haknya Selaku Warga Negara Indonesia

Sebelumnya

Palang Merah Indonesia Berkomitmen Melanjutkan Layanan Kesehatan Keliling di Kamp Pengungsian Khan Younis

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel News