Ilustrasi/ Net
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

CEMBURU dibutuhkan sebagai bumbu penyedap cita rasa pernikahan, bahkan kecemburuan punya andil menghangatkan cinta suami istri.

Akan tetapi jika cemburu itu sudah berlebihan, maka berbagai petaka dapat saja tercipta. Inilah urgensi dari dicantumkannya teguran Allah Swt. pada kitab suci perihal cemburu yang melebihi takaran kewajaran.

Wajar saja bila Aisyah dan Hafshah terbakar cemburu menyaksikan Nabi Muhammad saw. cukup lama berada di kediaman Zainab, yang melayani suami mereka menyantap madu. Ini cemburu yang boleh-boleh saja.

Akan tetapi menjadi berlebihan ketika kedua perempuan yang sedang terbakar cemburu itu kompak mengatakan napas suami bau, disebabkan minum madu yang berasal dari getah pohon Maghafir. Karena bohong yang terkesan ringan ini malah membuat sang suami sampai tega mengharamkan dirinya minum madu, padahal madu sudah jelas halal hukumnya.

Barangkali ada yang berpikir masalah macam ini tergolong ringan belaka, toh hanya perkara minum madu. Akan tetapi yang disorot Al-Qur’an adalah antisipasi agar cemburu dalam urusan apapun tidak membawa pada petaka, sehingga dijadikanlah rumah tangga Nabi Muhammad sebagai contoh kasusnya.

Surat at-Tahrim ayat 4, yang artinya, “Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, sungguh hati kamu berdua telah condong (pada kebenaran) dan jika kamu berdua saling membantu menyusahkan dia (Nabi), sesungguhnya Allahlah pelindungnya. Demikian juga Jibril dan orang-orang mukmin yang saleh. Selain itu, malaikat-malaikat (juga ikut) menolong.”

M. Quraish Shihab pada Tafsir Al-Mishbah Jilid 14 (2011: 171) menguraikan:

Ayat di atas membuka pintu tobat kepada kedua istri Nabi saw. itu dengan menyatakan: Jika kamu berdua, wahai Aisyah dan Hafshah, bertobat kepada Allah, yakni menyesali perbuatan kamu itu dan bertekad tidak akan mengulanginya sambil memohon ampun kepada Allah dan meminta maaf kepada Nabi, maka sungguh telah cenderung kepada kebaikan hati kamu berdua dan telah sesuai ia dengan kewajiban bergaul secara baik dengan pasangan hidup kamu.   

Betapa indahnya keberpihakan Al-Qur’an terhadap perempuan, solusinya langsung diberikan, suatu solusi yang memuliakan Aisyah dan Hafshah, yakni dengan bertobat. Cemburu yang berlebihan memang berbahaya, tetapi dapat dimaafkan dengan tobat yang sebenar-benarnya, maka sesungguhnya Allah Swt. adalah yang sebaik-baik penerima tobat.

Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy pada Tafsir Al-Quranul Majid An-Nur Jilid 4 (2011: 372) menjelaskan:

Jika kamu berdua (Hafsah dan Aisyah) bertobat kepada Allah dari dosa yang telah kamu kerjakan, maka berarti hatimu telah cenderung kembali kepada kebajikan dan kamu telah menunaikan tugasmu terhadap Rasul.

Bahkan tobat itu dapat menambah kemuliaan Aisyah dan Hafshah, disebabkan menjadi bukti ketaatan kepada Allah sekaligus pertanda kemampuan mereka dalam menata kecemburuan. Singkat kata singkat cerita, sekiranya kita pernah cemburu melampaui batas, maka segera tuntaskan dengan tobat dan meminta maaf. Itu saja! Dan itulah kemudahan yang diberikan Allah.

M. Quraish Shihab pada Tafsir Al-Mishbah Jilid 14 (2011: 172) mengungkapkan:

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa apa yang dilakukan oleh kedua istri Nabi itu adalah sesuatu yang menyimpang dari kewajaran dan kebenaran, walau kita semua mengetahui penyebabnya yaitu kecemburuan. Tidak seorang pun di antara mereka yang bermaksud menyakiti Nabi saw.

Inilah bagian yang menarik diperhatikan, bahwa baik Aisyah atau Hafshah tidak berniat sedikit pun menyakiti suami. Keduanya bertindak sedikit melewati batas disebabkan kecemburuan belaka. Dari itulah pintu tobat senantiasa terbuka lebar, dan kemuliaan Aisyah maupun Hafshah tetap terjamin.

Bagaimana sekiranya tidak segera bertobat menyesali perbuatannya?

Surat at-Tahrim ayat 5, yang artinya, “Jika dia (Nabi) menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang berserah diri, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang beribadah, dan yang berpuasa, baik yang janda maupun yang perawan.”

Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy (2011: 372) menjelaskan:

Bukan tidak mungkin apabila Nabi menceraikanmu, Allah akan menggantinya dengan istri-istri lain yang lebih baik daripada kamu, baik tentang keislamannya, keimanannya, ketekunannya dalam beribadah, senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan dosa maupun ketundukannya dalam menjalankan perintah-perintah Rasul. Sebagian mereka terdiri dari perempuan-perempuan janda dan sebagian lagi masih gadis.

Perceraian adalah akhir yang sangat menyakitkan, maka berhati-hatilah dengan cemburu. Tuhan tidak lagi meredai hubungan pernikahan yang tiap sebentar diwarnai ledakan cemburu. Bagaimana pula sakinah akan tercipta sekiranya api cemburu terus membara.

Dari itu, siapapun yang pencemburu berlebihan terhadap pasangan hendaknya bersikap lebih tahu diri. Selain pintu perceraian jadi terbuka, dan sangat mudah bagi Allah akan memberikan ganti kepada pasangan kita tersebut suami atau istri yang lebih baik kualitasnya, yang lebih unggul dalam pengendalian diri, serta lebih dewasa dalam perkara cemburu.

Elok sekali cara Allah Swt. memberi tarbiyah dalam rangkaian kisah rumah tangga Rasulullah. Memang terlihat hanya peristiwa kecemburuan yang melibatkan madu, tetapi dari kejadian ringan beginilah hendaknya kita memahami betapa penting menata kecemburuan.




Pantaskah Bagi Allah Anak Perempuan?

Sebelumnya

Betapa Lembutnya Al-Qur’an Menerangkan Surga Adalah Hak Perempuan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tafsir