Penyambutan Dubes RI untuk Mesir Lutfi Rauf tahun 2020/ Dok. Kementerian Luar Negeri
Penyambutan Dubes RI untuk Mesir Lutfi Rauf tahun 2020/ Dok. Kementerian Luar Negeri
KOMENTAR

HUBUNGAN dagang Indonesia-Mesir menurut Duta Besar RI untuk Mesir Lutfi Rauf tetap berada dalam tren positif di tengah isu geopolitik global, terutama konflik Rusia-Ukraina.

Seperti diketahui, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kairo, Mesir baru saja mengadakan pertemuan bisnis dengan 35 pelaku usaha dan buyer asal Mesir di Taman Wisma Duta KBRI awal minggu ini.

“Apresiasi setinggi-tingginya atas kerja keras pelaku usaha dan buyer Mesir yang terus berkelanjutan mengimpor produk primer dan produk potensial asal Indonesia walaupun dampak resesi global, perang Ukraina-Rusia, juga permasalahan moneter Mesir belum mereda,” kata Dubes Lutfi dalam keterangan resmi, Sabtu (18/3/2023).

Pertemuan bisnis tersebut merupakan upaya KBRI Kairo untuk mendekatkan diri dengan para pelaku usaha dan buyer Mesir yang selama ini antusias pada produk-produk buatan anak bangsa. Pembicaraan yang berlangsung juga diharapkan dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Mesir.

Diketahui bahwa angka ekspor produk Indonesia ke Mesir pada tahun 2021 mengalami lonjakan hingga 50 persen, dengan komoditas ekspor utama dari sektor pertanian.

Produk utama Mesir yang terbanyak diekspor ke Indonesia mulai dari jeruk, anggur, kurma, juga fosfat.

Sedangkan produk utama asal Tanah Air yang diekspor ke Mesir di antaranyaadalah besi, ban kendaraan bermotor, juga kakao, biji kopi, kelapa kering, hingga minyak sawit dan turunannya.

Diakui Dubes Lutfi, perang Rusia-Ukraina memang berdampak secara global, terutama menghantam perekonomian dan perdagangan dunia. Tidak bisa dipungkiri, konflik geopolitik itu juga berdampak terhadap kinerja perdagangan Indonesia-Mesir.

Para pelaku usaha Mesir berharap Indonesia terus mengekspor produk-produk unggulan ke Mesir dengan harga yang terjangkau. Selain itu, mereka juga berharap mendapat sejumlah opsi terkait mekanisme pembayaran yang lebih fleksibel.

“Perlu upaya peningkatan kerja sama, utamanya dengan menyegerakan nota kesepahaman (MoU) Joint Trade Committee (JTC), serta menjajaki opsi kerja sama perdagangan lain seperti skema imbal dagang,” ungkap Dubes Lutfi.




Korea Selatan Impor Siswa dari Empat Negara Imbas Tingkat Kelahiran yang Terus Menurun

Sebelumnya

Penusukan Massal di Sydney, Kementerian Luar Negeri Pastikan Tidak Ada WNI yang Menjadi Korban

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel News