Bencana terbesar Turki abad ini/ The New York Times
Bencana terbesar Turki abad ini/ The New York Times
KOMENTAR

TIM penyelamat gempa di Turki dan Suriah terus menarik lebih banyak orang yang selamat dari puing-puing bangunan. Namun di sisi lain, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa juga terus bertambah.

Hingga Senin (13/2/2023)Tercatat 31.643 korban meninggal dunia di Turki dan 4.614 korban meninggal di Suriah. Jumlah lebih dari 36.000 itu diperkirakan masih akan terus bertambah.

Bertahan dari gempa bumi dan terjebak di bawah puing -puing selama berhari -hari membutuhkan keberuntungan dan akses ke air, menurut Dr. Malcolm Russell, dari tim pencarian dan penyelamatan internasional Inggris.

"Kisah mereka benar-benar luar biasa, ketika mereka bisa bertahan hidup hingga saat ini, itu waktu yang luar biasa," ujar Dr. Malcolm kepada Al Jazeera.

Menurut Dr. Malcolm, tak bisa dipungkiri adanya keberuntungan. Mereka terperangkap dalam ruang kosong, sekalipun tidak berukuran besar, tapi memberi ruang untuk fisik mereka tetap utuh. Masalah utamanya adalah kurangnya air dan dehidrasi.

"Dan tidak diragukan lagi, faktor utama yang menyelamatkan mereka adalah ketahanan emosional, kekuatan luar biasa untuk mempertahankan harapan, juga memiliki akal untuk terus membuat suara-suara yang bisa didengar melalui peralatan canggih bersensor sensitif yang dibawa tim penyelamat," imbuhnya.

Lansia dan bayi selamat setelah lebih dari 176 jam terperangkap di bawah puing

Seorang wanita berusia 70 tahun, Nuray Gurbuz, diselamatkan dari puing-puing bangunan tiga lantai yang runtuh di Provinsi Hatay Turki, 178 jam setelah gempa bumi mematikan menghantam wilayah itu.

Ada pula Serap Donmez yang diselamatkan dari bawah puing -puing bangunan yang runtuh di Hatay, Turki, 176 jam setelah gempa bumi yang menghancurkan melanda, menurut kantor berita Anadolu.

Demikian pula seorang anak perempuan berusia 6 tahun bernama Miray, seperti dilaporkan CNN, berhasil diselamatkan dari puing -puing blok apartemen di kota Adiyaman Turki selatan pada hari Senin, 178 jam setelah gempa bumi yang menghancurkan mengguncang wilayah itu.

Kemarahan warga Suriah

Kemarahan atas kurangnya bantuan menyeruak di antara para korban gempa di Suriah barat laut, di mana para penyintas mengatakan komunitas internasional telah meninggalkan mereka.

“Seluruh dunia mengecewakan orang -orang Suriah. Jika kehancuran ini berada di Eropa atau negara asing, seluruh dunia akan berkumpul untuk menyelamatkan mereka yang meninggal, tetapi di sini, tidak ada yang peduli,” kata Abdel-Monem Qassem al-Razouq, berdiri di depan reruntuhan di Sarmada, seperti dilaporkan Al Jazeera.

"Saya di sini untuk menyaksikan dan mengingat, ada kenangan di sini. Saya melihat pakaian saudara perempuan saya, pakaian putranya, dan semuanya. Bau mereka ada di sini."




Hadiri Pertemuan WIPO di Jenewa, Menparekraf Sandiaga Uno: Indonesia Punya Potensi Kekayaan Intelektual yang Sarat Tradisi dan Kearifan Lokal

Sebelumnya

Dari Kampung Zakat Hingga Kota Wakaf, Kementerian Agama RI Terus Optimalkan Pemberdayaan Ekonomi Umat

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel News