Menkes Budi Gunadi Sadikin saat melaporkan turunnya angka stunting di Indonesia, beberapa waktu lalu/Net
Menkes Budi Gunadi Sadikin saat melaporkan turunnya angka stunting di Indonesia, beberapa waktu lalu/Net
KOMENTAR

STUNTING masih menjadi pembahasan serius di Indonesia. Meskipun Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, angka stunting turun dari 24,4% (2021) menjadi 21,6% (2022), namun persentase tersebut masih terbilang tinggi. Indonesia masih berada di bawah ancaman kehilangan generasi yang sehat dan cerdas.

Mengutip laman Instagram resmi Kemenkes RI, dari data SSGI tahun 2022 diketahui stunting terjadi sejak anak belum lahir dan meningkat 1,6 kali pada rentang usia 6-12 bulan (13,8%) ke 12-23 bulan (22,4%). Karenanya, Indonesia masih terus berupaya mencapai target penurunan stunting pada 2024, sebesar 14%.

Dari fakta demikian, penting untuk memenuhi gizi para remaja, ibu hamil, menyusui, dan gizi pada makanan pendamping ASI balita. Jika tidak, berpotensi pada perlambatan perkembangan otak, dengan dampak jangka panjang berupa keterbelakangan mental, rendahnya kemampuan belajar, dan risiko serangan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, hingga obesitas.

Karenanya, penting bagi orangtua untuk:

1. Berikan ASI ekslusif sampai bayi berusia 6 bulan, dilanjutkan hingga 2 tahun. Serta berikan MP ASI yang kaya akan protein hewani seperti telur, daging, ikan, atau ayam, setiap kali makan. Protein hewani ini sebaiknya berasal lebih dari satu jenis hewan. Tidak perlu mencari bahan pangan dari luar negeri, protein lokal juga tidak kalah hebat dan harganya terjangkau. Seimbangkan dengan mengonsumsi sumber karbohidrat, protein nabati, sayur, dan buah.

2. Lakukan pencegahan pada masa remaja, yakni dengan ‘Aksi Bergizi di Sekolah’, mulai dari minum tablet penambah darah, melakukan aktivitas fisik, dan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang.

3. Lakukan pemeriksaan kehamilan minimal 6 kali. Apabila teridentifikasi anemia atau kurang gizi, segera konsultasi ke dokter.

4. Lakukan penimbangan anak secara rutin, seperti di posyandu, untuk memantau tumbuh kembangnya. Jika berat badan bayi tidak naik, segera bawa ke dokter terdekat.

Ayah Bunda, ayo perhatikan lagi asupan gizi anak-anak. Mencegah stunting tidak hanya dilakukan saat anak sudah besar, namun direncanakan sebelum mereka lahir. Caranya, dengan memberikan asupan makanan bergizi seimbang kepada ibu-ibu yang sedang mengandung.

Lakukan pula aksi bergizi di sekolah, dengan sasaran anak-anak remaja, agar stunting bisa diatasi.




Menkes Budi: Deteksi Dini Kanker Bisa Dilakukan di Puskesmas

Sebelumnya

Pentingnya Kesehatan Mental Ibu Melahirkan, RS Marzoeki Mahdi & King’s College London Hospital Tanda Tangani Kerja Sama

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel News