Ilustrasi Nyi Ageng Serang/ Net
Ilustrasi Nyi Ageng Serang/ Net
KOMENTAR

KOMISI Nasional Perempuan menyebutkan tiga nama tokoh perempuan yang dinilai layak ditetapkan sebagai pahlawan nasional; The Sin Nio, Ni Sombro, dan Johanna Tumbuan Masdani.

Apa kontribusi ketiga tokoh perempuan tersebut?

Dalam webinar Peringatan Hari Pahlawan Nasional 2022 bertema "Merayakan Perempuan Nusantara, Pahlawan Kita" yang digelar Kamis (10/11/2022), Wakil Ketua Komnas Perempuan Mariana Amiruddin menjelaskan bahwa Ni Sombro adalah empu pembuat keris dari Tanah Pasundan di masa Padjajaran, Johanna Tumbuan Masdani adalah perempuan pembaca naskah Sumpah Pemuda 1928 asal Sulawesi Utara, dan The Sin Nio adalah adalah pejuang kemerdekaan dalam revolusi Indonesia.

Komnas Perempuan meminta kepada sejumlah pihak untuk lebih mengakui eksistensi pahlawan perempuan.

Selain meminta Kementerian Sosial memberi perhatian lebih kepada tokoh-tokoh perempuan di berbagai daerah dan memperbaharui metode penetapan status pahlawan nasional, Komnas Perempuan juga meminta Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi memasukkan tokoh pahlawan perempuan ke dalam muatan pembelajaran sejarah bangsa.

Komnas Perempuan berharap semakin banyak kiprah pahlawan perempuan yang dipublikasikan, termasuk dalam literatur sejarah dan bahan ajar di sekolah.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua Komnas Perempuan juga mengkritisi masih minimnya sejarah pahlawan perempuan yang masuk dalam narasi perjuangan kemerdekaan dan kepahlawanan nasional.

Data Sekretariat Negara menunjukkan hingga tahun 2022 sudah ada 185 laki-laki yang diangkat sebagai pahlawan nasional. Sementara itu, hanya ada 15 perempuan yang diangkat sebagai pahlawan nasional.

Padahal sebenarnya ada banyak pahlawan perempuan yang tak kalah hebat dalam perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia dan mempertahankan kedaulatan NKRI.

Tak hanya mengingatkan soal pentingnya menghargai pahlawan perempuan tapi juga mendorong kepemimpinan perempuan Indonesia di masa kini dan di masa depan.




Din Syamsuddin Jadi Pembicara dalam Sidang Grup Strategis Federasi Rusia-Dunia Islam di Kazan

Sebelumnya

Buku “Perdamaian yang Buruk, Perang yang Baik” dan “Buldozer dari Palestina” Karya Teguh Santosa Hadir di Pojok Baca Digital Gedung Dewan Pers

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel News