post image
KOMENTAR

UTBAH bin Rabi’ah mencoba lebih menyederhanakan persoalan yang tengah mengguncang kota Mekah, yang membuat heboh masyarakatnya, yang menjadikan para tokohnya gundah gulana. Menurutnya, masalah Nabi Muhammad saw. dapat lekas dipadamkan cukup dengan senjata pamungkas; harta, takhta dan wanita.

Malahan Utbah teramat percaya diri untuk bernegosisasi langsung kepada Rasulullah. Tidak ada yang meminta kepala suku tersebut turun tangan, melainkan dirinyalah yang menawarkan diri untuk mengakhiri kemelut dalam masyarakat.

Inisiatif Utbah bin Rabi’ah dilepas dengan sepenuh harapan para pemuka Quraisy yang kedudukannya tengah terguncang karena syiar agama tauhid.

Patut diapresiasi kelihaian Utbah dalam melakukan pendekatan, baik itu tutur katanya maupun penawarannya yang menggoda hati. Sebagaimana yang acap kali dilihatnya, orang-orang gemar berbuat heboh demi meraih maksud-maksud duniawi.

Tanpa tedeng aling-aling, Utbah bin Rabi’ah atau yang terkenal juga dengan sebutan Abu al-Walid langsung saja membuka sejumlah penawaran menarik.

Shafiyurrahman al-Mubarakfuri pada buku Sirah Nabawiyah (2020: 72-73) mengisahkan:

Utbah berkata, “Wahai Anak Saudaraku! Sesungguhnya engkau telah datang kepada orang-orang dengan sesuatu hal yang amat besar sehingga membuat mereka bercerai-berai, angan-angan mereka engkau kerdilkan, tuhan-tuhan serta agama mereka engkau cela dan nenek-nenek moyang mereka engkau kafirkan. Dengarlah! Aku ingin menawarkan beberapa hal kepadamu, lantas bagaimana pendapatmu tentangnya? Semoga saja sebagiannya dapat engkau terima.”

“Wahai Abu al-Walid! Katakanlah, aku akan mendengarkannya!” jawab Rasulullah.

“Wahai Anak Saudaraku! Jika apa yang engkau bawa itu semata hanya menginginkan harta, kami akan mengumpulkan harta-harta kami untukmu, sehingga engkau menjadi orang yang paling banyak hartanya di antara kami. Jika apa yang engkau bawa itu semata hanya menginginkan kedudukan, maka kami akan mengangkatmu menjadi tuan kami hingga kami tidak akan melakukan sesuatupun sebelum engkau perintahkan. Jika apa yang engkau bawa itu semata hanya menginginkan kerajaan, maka kami akan mengangkatmu menjadi raja.”

“Dan jika apa yang datang kepadamu adalah jin yang engkau lihat dan tidak dapat engkau mengusirnya dari dirimu, kami akan memanggilkan tabib untukmu serta akan kami infakkan harta kami demi kesembuhanmu, sebab orang terkadang terkena oleh jin sehingga perlu diobati,” katanya.

Dengan terus terang Utbah bin Rabi’ah menawarkan berbagai hal yang didamba kebanyakan manusia; mereka rela mengumpulkan timbunan harta untuk dipersembahkan kepada Rasulullah, mereka siap mengangkat Nabi Muhammad sebagai raja, bahkan menyiapkan pengobatan sekiranya beliau tengah diganggu makhluk halus.

Tidak akan pernah mudah menepis tawaran-tawaran yang menggoda itu, yang tidak setiap manusia bisa mendapatkan sepanjang hayatnya. Hanya saja dalam negosiasi tentulah ada kompensasi yang diharapkan, mereka cuma meminta satu perkara, yakni Rasulullah menghentikan dakwah Islam. Itu saja!

Abdul Karim al-Khathib dalam bukunya Muhammad Saw.: Manusia Paling Sempurna, Nabinya Para Nabi (2021: 289) menerangkan:

Utbah bin Rabi’ah mendatangi Rasulullah sebagai delegasi Quraisy untuk mengajak beliau meninggalkan agama yang memisahkan beliau dengan kaumnya, memprovokasi motif permusuhan antara seorang teman dengan teman lainnya, kerabat dengan kerabat lainnya, lalu menawarkan bentuk-bentuk rayuan agar beliau mau menjauhi dakwah.

Di antara usaha mereka adalah meminta setiap ahli tenung dan peramal yang bisa mengobati ayan dan gila, kalau beliau terkena gangguan jin atau gejala kegilaan. Mereka akan mengumpulkan harta sesuai keinginan beliau, kalau itu adalah tujuan dakwah beliau, atau mereka akan menjadikan beliau sebagai raja kalau menginginkan kekuasaan dan kekuatan. 

Tawaran itu sebetulnya merendahkan idealisme para pejuang, terlebih mereka menawarkan tabib guna mengobati Rasulullah yang dikira terkena penyakit ayan atau diganggu jin. Padahal beliau benar-benar berdakwah karena mengemban amanah Ilahi, bukan disebabkan gangguan makhluk halus atau pun penyakit.

Utbah bin Rabi’ah membaca raut wajah Rasulullah yang belum menunjukkan ekspresi yang diharapkan. Dari itu, dia pun menambah lagi suatu penawaran yang biasanya lekas menggoyahkan persendian kaum lelaki.

Sayyid Qutb pada Tafsir Fi Zhilalil Qur`an Jilid 12 (2007: 128) menceritakan:

Mereka memberikan tawaran kepada beliau untuk menjadi penguasa, untuk mendapatkan harta yang menyenangkan, dan untuk mendapatkan kenikmatan fisik. Maka mereka menawarkan kepadanya kedudukan dan kekayaan, hingga beliau menjadi orang yang paling kaya di antara mereka.

Sebagaimana mereka menawarkan kebaikan-kebaikan (duniawi) yang sarat dengan fitnah, ketika Utbah bin Rabi’ah berkata kepada beliau, “Tinggalkanlah tugas dakwah ini nanti kukawinkan engkau dengan putriku, karena aku adalah orang Quraisy yang memiliki putri-putri yang cantik-cantik.”

Semua tawaran yang diberikan para pemeluk kebatilan itu adalah untuk membeli para juru dakwah di setiap bumi dan setiap generasi.

Di sini terlihat ada upaya melemahkan fokus dakwah Rasulullah dengan tawaran perempuan jelita. Utbah bin Rabi’ah memanfaatkan perempuan untuk melemahkan lelaki.   

Ketika Nabi Muhammad saw. dengan tegas menepis tawaran wanita cantik, beliau bukan hanya menunjukkan keteguhan hati dalam syiar agama tauhid, tetapi juga sekaligus memuliakan harkat dan martabat perempuan.

Harta dan takhta memang lazim dijadikan penawaran, tetapi menjadikan wanita sebagai alat negosiasi jelas bentuk pelecehan terhadap perikemanusiaan.




Raja yang Menolak Hadiah

Sebelumnya

Jalan Berliku Hijrah ke Habasyah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Sirah Nabawiyah