post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

KHADIJAH menjadi yang paling sibuk tatkala suatu strategi baru dakwah telah dititahkan oleh Tuhan. Istri Rasulullah itu menyiapkan berbagai hidangan berselera guna menyambut para tetamu.

Tokoh-tokoh penting dari kalangan Bani Hasyim dan Bani Muthalib akan berdatangan. Pasalnya, Nabi Muhammad telah mengundang mereka untuk suatu perjamuan dan tentulah Khadijah yang paling berperan menyiapkan makanan dan minuman.

Demikianlah sejarah mencatatnya dengan ciamik, dakwah yang pertama kalinya disyiarkan secara terbuka itu pun digelar dengan jamuan makan. Hikmahnya, dalam dakwah didahulukan sikap memuliakan orang lain, di antaranya dengan memenuhi kebutuhan perutnya. Karena dengan tenangnya kondisi perut, maka terbukalah pemikiran mereka.

Dan terpujilah pengorbanan Khadijah yang melayani empat puluh orang tetamu yang meramaikan rumahnya. Khadijah memahami ini bukan perkara jamuan makan biasa sebagai penghargaan terhadap perikemanusiaan, melainkan bagian dari menampakkan kemuliaan dakwah Islam itu sendiri.

Setelah menjalani fase dakwah sembunyi-sembunyi yang cukup lama, kemudian turunlah wahyu Ilahi agar seruan dakwah disampaikan secara terbuka kepada karib kerabat. Dari itulah Nabi Muhammad mengundang pihak keluarga besarnya dari Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Khadijah adalah sosok yang dengan sigap menyiapkan segala sesuatunya dengan apik.   

Perintah berdakwah secara terbuka kepada pihak keluarga besar ini turun dalam rupa wahyu suci.

Surat asy-Syuara ayat 214-216, yang artinya, “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan."

Rangkaian ayat-ayat ini sudah menggambarkan dimulainya dakwah terbuka yang terlebih dulu menyasar karib kerabat.  Mengapa demikian? Jelas ada tujuan mulia yang hendak disasar.

Biasanya pihak keluarga atau karib kerabat itu akan lebih mudah menerima panggilan suci, mengingat adanya hubungan darah. Setidaknya nih, andai pun belum memeluk agama Islam, setidaknya pihak keluarga besar Rasulullah akan turut membela para pengikut Islam.

Terkait dengan Surat asy-Syuara ayat 214-216, pada Tafsir Jalalain diterangkan, bahwa:
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,” mereka adalah Bani Hasyim dan Bani Muthalib, lalu Nabi Saw. memberikan peringatan kepada mereka secara terang-terangan. “Dan rendahkanlah dirimu,” berlaku lemah lembutlah kamu, “terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” “Jika mereka mendurhakaimu,” yakni kerabat-kerabat terdekatmu itu, “maka katakanlah,” kepada mereka, “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kalian kerjakan,” tentang penyembahan kalian kepada selain Allah itu.

Memang perintah berdakwah kepada kerabat itu ditujukan kepada Rasulullah, tetapi dalam praktiknya jangan pernah mengabaikan kerja keras Khadijah yang menjelma jadi tuan rumah yang baik.

Berikutnya, upaya dakwah kepada karib kerabat tidak berlangsung mulus-mulus saja. Karena memang demikian hakikatnya perjuangan, bertabur onak dan duri serta jalannya pun terjal.

M. Quraish Shihab dalam bukunya Membaca Sirah Nabi Muhammad (2018: 325-327) menerangkan:
Memenuhi perintah ini Nabi Saw. menyiapkan santap siang dengan mengundang sekitar tiga puluh atau empat puluh orang dari keluarga terdekat beliau, antara lain Abu Thalib, Hamzah, Abbas dan Abu Lahab. Selesai makan dan sebelum Nabi Saw. berbicara, Abu Lahab mengajak hadirin untuk meninggalkan rumah sehingga Nabi Saw. tidak sempat menyampaikan sesuatu yang penting.

Beliau hanya sempat mengajak keluarga Ka’ab bin Luaiy, Bani Murrah bin Ka’ab, Bani Abd Syams, Bani Abdul Muththalib, bahkan menyebut nama putri beliau, Fatimah, walau sebelum ini Fathimah telah memeluk Islam. Masing-masing diingatkan, “Selamatkanlah diri kamu dari api neraka,” yakni dengan beriman kepada Allah Yang Maha Esa.

Selanjutnya, karena dalam pertemuan pertama ini Nabi Saw. tidak mendapat sambutan yang baik, maka sekali lagi beliau mengundang mereka. Kali ini beliau mengatakan, “Aku tidak melihat ada seseorang dari kalangan masyarakat Arab yang dapat mengundang suatu kebajikan di tengah mereka melebihi daripada apa yang aku sampaikan kepada saudara-saudara sekalian. Yang aku sampaikan adalah kebajikan duniawi dan ukhrawi. Allah mengutus aku untuk mengajak saudara-saudara ke arah itu, siapakah yang akan menyambut ajakanku ini?”

Mereka terdiam menolak.

Tetapi, tiba-tiba Ali bin Abi Thalib, yang ketika itu belum dewasa, berucap lantang, “Rasulullah, saya akan membantumu, saya akan menjadi lawan siapa pun yang menantangmu.”

Hadirin tersenyum, bahkan tertawa, melecehkan ucapan Ali tapi Nabi Saw. menepuk bahu Ali sambil bersabda, “Inilah saudaraku. Inilah yang membantuku.”

Dan ternyata hanya seorang anak kecil yang dengan gagah bertekad membela perjuangan Rasulullah. Karib kerabat bukannya mendukung malah menertawakan. Dan yang paling keras menolak Rasulullah adalah Abu Lahab dan gengnya.

Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dalam buku Periode Mekkah (2021: 2-4) menceritakan:
Tiba-tiba Abu Lahab memotong pembicaraan Rasulullah sembari berkata, “Mereka itu  adalah paman-pamanmu, anak-anak mereka; bicaralah dan tinggalkanlah masa kekanak-kanakan! Ketahuilah! Bahwa kaummu tidak memiliki cukup kekuatan untuk melawan seluruh bangsa Arab. Akulah orang yang berhak membimbingmu. Cukuplah bagimu suku-suku dari pihak bapakmu.”

“Bagi mereka, jika engkau ngotot melakukan sebagaimana yang engkau lakukan sekarang, adalah lebih mudah ketimbang bila seluruh suku Quraisy bersama-sama bangsa Arab bergerak memusuhimu. Aku tidak pernah melihat seseorang yang datang kepada suku-suku dari pihak bapaknya dengan membawa suatu yang lebih jelek dari apa yang telah engkau bawa ini.”

Nabi Muhammad adalah pribadi yang santun dan berbicara, “Alhamdulillah, aku memuji-Nya, meminta pertolongan, beriman, serta bertawakkal kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah semata Yang tiada sekutu bagi-Nya.”

Selanjutnya beliau berkata, “Sesungguhnya seorang pemimpin tidak mungkin membohongi keluarganya sendiri. Demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya! Sesungguhnya aku adalah Rasulullah yang datang kepada kalian secara khusus, dan kepada manusia secara umum.”

“Demi Allah! Sungguh kalian akan mati sebagaimana kalian tidur dan kalian akan dibangkitkan sebagaimana kalian bangun dari tidur. Sungguh kalian akan dihisab (diminta pertanggungjawabannya) terhadap apa yang kalian lakukan. Sesungguhnya yang ada hanya surga yang abadi atau neraka yang abadi.”




Raja yang Menolak Hadiah

Sebelumnya

Jalan Berliku Hijrah ke Habasyah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Sirah Nabawiyah