post image
KOMENTAR

PEREMPUAN muda itu mengusap bibirnya yang mengucurkan darah segar. Itulah buah dari pilihan hidupnya untuk menjadi seorang muslimah, mengikuti langkah keimanan suaminya Said bin Zaid.

Namun, pilihan tidaklah goyah, perempuan itu teguh menjadi pengikut setia Rasulullah dibangkai keimanan.

Hanya dalam satu terjangan suaminya langsung terpental, maka Fatimah binti Al-Khattab tegak dengan gagah melindungi. Akhirnya, sebuah pukulan mendarat di mukanya yang halus, kerasnya hantaman tidak membuatnya gentar. Benar-benar perempuan bernyali!

Siapakah lelaki yang pukulannya demikian dahsyat?

Namanya adalah Umar bin Khattab, yang kemudian hari malah berhasil mendirikan negara adikuasa dunia.    

Perempuan yang mukanya kena hantam itu adalah adik kandungnya sendiri. Mengapa Umar demikian tega?

Setelah memutuskan untuk menjadi pengikut Nabi Muhammad saw., Fatimah binti Al-Khattab tentunya sudah menyadari ancaman kekerasan yang mengincarnya. Namun, jika pukulan itu berasal dari kakak laki-lakinya, maka persoalan bukan lagi perkara perih di pipi, tetapi juga konflik batin yang menyesakkan dada.

Dan saat Fatimah memilih untuk meneguhkan diri dalam barisan Rasulullah, maka bukan hanya dirinya yang memetik buah manisnya.

Kisah utuhnya ternyata tidaklah menyeramkan. Sebagaimana yang diceritakan dengan manis oleh Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam buku Biografi Umar bin Al-Khathab (2008: 24-26):

Ketika Umar mendengar bahwa saudarinya beserta suaminya telah masuk Islam, ia marah dan mendatangi mereka berdua, ketika ia mengetuk pintu, mereka berdua berkata, “Siapa ini?”
Umar berkata, “Ibnu Al-Khattab.”

Mereka berdua sedang membaca kitab (Al-Qur'an) yang ada di tangan mereka, ketika mereka mendengar kedatangan Umar, mereka berdua segera bersembunyi.

Ketika Umar memasuki rumah, Fatimah merasakan aroma kemarahan di wajahnya, Fatimah menyembunyikan lembaran-lembaran itu di bawah pahanya. Umar berkata, “Bisikan dan suara pelan apa yang aku dengar dari kamu tadi?”

Saat itu mereka sedang membaca surat Thaha. Mereka berdua berkata, “Hanya cerita antara kami berdua.”

Umar berkata, “Mungkin kamu berdua telah berpihak pada Muhammad.”

Adik ipar Umar berkata, “Wahai Umar, bagaimana jika kebenaran berada di luar agamamu?”

Umar menendang Said adik iparnya dan menggenggam jenggotnya kuat sekali. Said ia banting ke tanah, lalu menginjaknya dan kemudian menduduki dadanya.

Fatimah menolak tubuh Umar dari atas tubuh suaminya, Umar memukulnya hingga wajahnya berdarah, Fatimah marah sambil berkata, “Wahai musuh Allah, apakah engkau memukul aku hanya karena aku mentauhidkan Allah?”

Umar berkata, “Ya.”

Fatimah berkata, “Lakukanlah apa yang ingin engkau lakukan, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah, kami telah masuk Islam meskipun engkau tidak suka.”

Ketika Umar mendengarkan kata-kata itu, ia menyesal dan berdiri dari dada suami Fatimah, ia duduk, kemudian ia berkata, “Berikanlah kepadaku lembaran yang ada pada kamu, agar aku dapat membacanya.”

Fatimah berkata, “Aku tidak akan memberikannya.”

Umar berkata, “Celakalah engkau, apa engkau katakan itu telah merasuk ke dalam hatiku, berikanlah kepadaku agar aku dapat melihatnya, aku janjikan padamu bahwa aku tidak akan mengkhianatimu hingga engkau dapat menyimpannya di tempat yang engkau inginkan.”

Fatimah berkata, “Engkau itu najis, tidak boleh meyentuhnya kecuali orang-orang yang suci, maka mandilah atau berwudu!”

Umar keluar untuk mandi, kemudian ia kembali kepada saudarinya, Fatimah memberikan lembaran (Al-Qur'an), di dalamnya terdapat surat Thaha dan beberapa surat lain. Kemudian Umar berkata, “Yang mengatakan ini, maka pastilah tidak ada (Tuhan) lain yang disembah bersama-Nya. Tunjukkan kepadaku tempat Muhammad.”




Dilema Keindahan Wanita

Sebelumnya

Korban Bullying

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Sirah Nabawiyah