post image
Gua Hira, tempat pertama Rasulullah menerima wahyu/ Net
KOMENTAR

KERUSAKAN moral masyarakat jahiliah benar-benar menjadi polusi sosial yang parah bagi kehidupan Mekah dan juga semenanjung Arabia. Nabi Muhammad dan Khadijah bertahan sekuat tenaga memelihara kesucian diri. Namun kemudian, Rasulullah merasa perlu lebih menjernihkan hatinya agar menemukan kebenaran hakiki.

Khadijah menyetujui serta memberikan dukungan yang optimal. Dan Gua Hira dipilih oleh Rasulullah untuk beribadah dan bertafakur.  

Dalam keheningan Gua Hira beliau mendapatkan ketentraman hati melihat langit luas yang menaungi Mekah, serta Ka’bah yang terlihat begitu agung di kejauhan. Ketika malam tiba, giliran bintang gemintang dan bulan menghiasi langit yang memberi inspirasi tentang kebenaran yang hendak diraih.

Bassam Muhammad Hamami dalam buku Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam (2017: 35) menerangkan, saat itu, Allah membuat Nabi Muhammad Al-Amin menjadi suka berkhalwat hingga tidak ada sesuatu pun yang lebih beliau sukai daripada menyepi seorang diri.

Setiap tahunnya, Nabi Muhammad menyendiri di Gua Hira untuk beribadah selama satu bulan penuh.

Nabi Muhammad tinggal di gua itu selama bermalam-malam yang panjang dengan bekal yang hanya sedikit, jauh dari permainan dan senda gurau penduduk Mekah, serta menjaga diri penyembahan terhadap berhala yang biasa mereka lakukan.

Khadijah tidak ingin mengganggu hari-hari yang dilalui suaminya dengan penuh khusyuk dalam berkhalwat. Khadijah tidak mau mengeruhkan kejernihan perenungan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dengan banyak bertanya dan berbicara. Bahkan, ia berusaha sekuat mungkin untuk memberikan perlindungan dan ketenangan ketika Nabi Muhammad berada di rumah.

Khalwat Nabi Muhammad tidak akan lancar tanpa kemampuan cemerlang Khadijah dalam membereskan segala urusan rumah tangga, termasuk itu mengasuh anak-anak. Sehingga suaminya dapat fokus dalam agenda spiritual meraih cahaya Ilahi.  

Khadijah adalah aktor penting di balik gemilangnya tahannuts Rasulullah yang kemudian hari menjadi demikian melegenda. Sulit dibayangkan bagaimana jadinya apabila menyepinya beliau ke Gua Hira tanpa keikhlasan istri tercinta, yang tentu Rasulullah akan terganggu oleh berbagai urusan rumah tangga. Dan Khadijah mempersembahkan kerelaan yang demikian tulus, seiring kesadaran dirinya supaya suami menemukan cahaya kebenaran bagi kaumnya.

Muhammad Abduh Yamani dalam buku Khadijah: Cinta Abadi Kekasih Nabi (2008: 76) menguraikan, dengan tekun, perempuan terbaik ini menyiapkan dan menyediakan makanan, minuman dan perkara lain yang diperlukan Rasulullah pada saat bersendiri. Khadijah sendiri yang menyiapkan semua itu sebelum Rasulullah berangkat dan Khadijah juga yang mengirim orang membawa makanan dan minuman apabila khalwat Rasulullah terlalu panjang sehingga bekalan mencukupi.

Bahkan, kadangkala Khadijah sendiri yang mengantarkannya ke tempat Rasulullah beribadah di Gua Hira, walaupun jarak yang perlu ditempuhnya perlu mendaki gunung. Sedangkan Gua Hira, yang sehingga hari ini masih dapat dikunjungi, sukar untuk didaki bahkan oleh orang muda sekalipun.

Pada waktu-waktu tertentu, Khadijah menemani Rasulullah semasa berkhalwat, melayani, memberi minum, makan dan meneguhkan tekad Rasulullah dalam beribadah dan bertafakur.

Agar lebih meresapi perjuangan Khadijah demi mendukung khalwat suaminya, maka perlu diketahui pula kondisi Gua Hira yang terletak di bukit Jabal Nur.      

Mustafa Khalid dalam buku The Greatest Story of Muhammad (2017: 16) menerangkan, Jabal Nur terletak sekitar 6 km dari Masjidil Haram. Di puncak bukit itu terdapat Gua Hira. Jabal Nur memiliki ketinggian 2.500 kaki. Untuk mendaki ke atas memerlukan waktu kurang lebih 1 jam. Gua Hira memiliki panjang 3,5 meter dan lebar 1,5 meter, serta letaknya berada 4 meter dari atas bagian puncak gunungnya.

Seorang perempuan menempuh perjalanan beberapa kilometer lalu mendaki bukit berbatu demi mengantarkan perbekalan makanan dan minuman, begitulah bakti Khadijah demi suami tercinta. Bukan sekadar kata, melainkan bukti nyata!

Pada usia yang tidak lagi muda Khadijah melakukan perjuangan yang cukup menguras energi fisik. Tidak dikeluhkannya kelelahan disebabkan terpatrinya keyakinan kuat bahwa apa yang ditempuh suaminya adalah jalan kebenaran.

Nabi Muhammad pun kian khusyuk dalam bermunajat kepada Ilahi Rabbi. Hatinya benar-benar dikosongkan dari riuh-rendah kemaksiatan dan kejahatan yang merajalela di kalangan kaum jahiliah Mekah.

Upaya beliau dalam bertahannuts akhirnya mencapai puncak yang tiada terduga. Pada suatu malam yang dinaungi keberkahan, Allah Swt. pun mengutus malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu.
 

Ahmad Mustafa Mutawalli dalam buku Syama’il Rasulullah (2019: 32) menceritakan:
Akhirnya al-Haq (kebenaran) tiba-tiba datang di Gua Hira. Malaikat menemui beliau dan berkata, “Bacalah!”
Rasulullah bersabda:
Aku berkata, “Aku tidak bisa membaca.”

Lalu malaikat itu memegang dan memelukku sekuat-kuatnya sehingga aku merasa lelah dan payah. Kemudian dia longgarkan pelukannya dan berkata, “Bacalah!”

Aku pun berkata, “Aku tidak bisa membaca.”

Lalu untuk kedua kalinya dia memegang dan memelukku sekuat-kuatnya sampai aku merasa lelah dan payah. Kemudian ia melonggarkan pelukannya dan berkata, “Bacalah!”

Aku pun menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”

Lalu untuk ketiga kalinya dia memegang dan memelukku sekuat-kuatnya sehingga aku merasa lemah dan payah. Kemudian ia melonggarkan pelukannya dan berkata, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu yang menciptakan... (selengkapnya pada Surat Al-Alaq ayat 1-5).”




Mereka yang Menyongsong Cahaya

Sebelumnya

As-Sabiqun al-Awwalun

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Sirah Nabawiyah