post image
ilustrasi/ Net
KOMENTAR

DENGAN sigap Abdul Muthalib mengambil alih pengasuhan cucunya yang telah resmi menjadi anak yatim piatu. Nabi Muhammad tidak akan pernah terlantar, tidak akan tersia-siakan, karena sang kakek menaunginya dengan curahan cinta kasih.

Peran Abdul Muthalib dalam pengasuhan Rasulullah memang luar biasa, mengingat sang kakek adalah tokoh penting di Mekah yang memikul amanah berat. Akan tetapi, padatnya kesibukan tidak melalaikan Abdul Muthalib dalam mengasuh cucu tercinta. Bahkan sejarah mencatat dengan apik berbagai perlakuan istimewa yang dipersembahkannya kepada sang cucu.

Bahkan posisi Abdul Muthalib sebagai tokoh terkemuka Mekah menjadi inspirasi bagi Nabi Muhammad, sehingga semenjak kecil beliau pun mulai menyerap seni kepemimpinan. Hal ini dapat terjadi dikarenakan Abdul Muthalib sering membawa serta cucunya di berbagai acara penting yang dihadiri tokoh-tokoh Quraisy.

Pernah pula Mekah dilanda musim kemarau yang teramat menyiksa. Maka Abdul Muthalib memimpin doa bersama dari para Quraisy begitu pun penduduk Mekah. Mereka menaiki gunung Abu Qubais, dan di puncaknya Abdul Muthalib memimpin doa hingga turunlah hujan. Kehadiran cucunya tercinta di sampingnya pada momen penting itu menunjukkan besarnya perhatian Abdul Muthalib bagi perkembangan Nabi Muhammad.

Sang kakek mengasah jiwa kepemimpinan cucunya, utamanya dalam menempa rasa percaya diri. Namun demikian, Nabi Muhammad bukan hanya mendapatkan perhatian, tetapi juga memperoleh keleluasaan dalam menikmati masa kanak-kanak.

Ibnul Jauzi dalam bukunya Al-Wafa Kesempurnaan Pribadi Nabi Muhammad (2018: 111) menceritakan, Abdul Muthalib adalah orang yang paling tinggi perawakannya dan yang paling tampan wajahnya. Setiap orang yang memandangnya pasti akan tertarik kepadanya. Ia mempunyai sebuah sofa dalam sebuah ruangan, yang tidak boleh diduduki orang lain selain dirinya. Tak seorang pun berani duduk di atas sofa itu.

Sebuah perkumpulan Bani Quraisy, Harb bin Umayyah beserta bawahan-bawahannya, duduk di sekitar tilam itu. Lalu, pada suatu ketika, datanglah Rasulullah, beliau masih kecil belum dewasa. Kemudian, beliau duduk di atas tilam itu. Namun, seseorang mengangkat beliau dari tempat itu. Maka, Rasulullah menangis.

Sehingga, Abdul Muthalib bertanya, “Apakah yang membuat anakku menangis?”

Mereka menjawab, “Dia ingin duduk di atas tilam itu, tapi mereka melarangnya.”

“Biarkanlah dia duduk di atas tilam itu. Sesungguhnya dia merasakan kemuliaan pada dirinya. Dan aku berharap semoga dia memperoleh kemuliaan yang belum pernah diraih oleh orang-orang sebelum dan sesudahnya,” bela Abdul Muthalib.

Betapa manisnya perlakuan Abdul Muthalib, yang amat memperhatikan perkembangan psikologis cucunya, yang mementingkan mekarnya rasa percaya diri semenjak usia dini. Orang-orang Mekah boleh sungkan dengan kharisma Abdul Muthalib hingga tidak berani menduduki sofa atau tilamnya.

Akan tetapi, Nabi Muhammad adalah calon pemimpin yang disiapkan oleh sang kakek, sehingga diberi kesempatan membangun kepercayaan diri yang tinggi.

Sang kakek telah memahami kelak cucunya akan menjadi nabi utusan Tuhan, sehingga ia sering melibatkan putra Aminah itu pada kejadian-kejadian penting di Mekah. Bahkan sang kakek memberikan penghormatan terhadap Nabi Muhammad yang melebihi anak kandungnya sendiri.

Ini seperti sudah menjadi skenario Ilahi, kematian ayah bunda justru membuka lebar kesempatan bagi Nabi Muhammad menyerap keterampilan leadership semenjak belia. Sejak kecil pula Rasulullah memiliki rasa percaya diri untuk tampil di depan publik.

Dan Abdul Muthalib pun tidak mengabaikan masa kanak-kanak Nabi Muhammad yang membutuhkan kasih sayang. Abdul Muthalib tidak akan makan sebelum cucunya juga turut makan pula. Sebelum dirinya menyantap makanan, Abdul Muthalib terlebih dulu minta dipanggilkan cucu kesayangannya.

Sang kakek menemaninya bermain, dan juga mendampingi Rasulullah yang akan beranjak tidur.

Dalam episode mengharu-biru ini Abdul Muthalib tidak mau menjadi satu-satunya lakon. Sang kakek menyadari keterbatasan dirinya dalam pengasuhan, tetap saja cucunya membutuhkan sosok perempuan yang akan mengasihi, memperhatikan, dan merawat.

Kejutannya adalah, pilihan itu malah jatuh kepada seorang perempuan budak, yang amat dekat dengan kehidupan Rasulullah, siapa lagi kalau bukan Barakah alias Ummu Aiman. Di masa itu perbudakan merajalela, tetapi Abdul Muthalib memperlakukan mereka dengan teramat baik, bahkan diberi amanah yang mulia.

Muhammad Ali Quthb dalam buku Perempuan Agung di Sekitar Rasulullah saw. (2009: 33) mengungkapkan, Abdul Muthalib juga selalu berpesan kepada Barakah, “Wahai Barakah! Janganlah kamu menelantarkan cucuku, karena aku mendapatinya sebagai anak yang dekat dengan Sidrah al-Muntaha. Banyak Ahli Kitab yang meramalkan bahwa cucuku ini adalah calon nabi untuk umat semesta alam.”

Pilihan ini tentunya dengan pertimbangan matang, setara dengan kapasitas intelektual Abdul Muthalib sebagai tokoh terkemuka. Barakah atau Ummu Aiman adalah perempuan muda yang berlimpah cinta, yang gagah berani melindungi Nabi Muhammad dari Abwa ke Mekah, yang mendampingi cucunya sejak lahir hingga kanak-kanak. Ummu Aiman telah membuktikan kapasitasnya untuk berperan sebagai ibu.

Abdul Muthalib memberi pengertian kepada Ummu Aiman, pengasuhan cucunya perlu perhatian yang lebih mengingat  bocah tersebut akan menjadi nabi. Pesan sang kakek membuat Ummu Aiman lebih bersemangat dalam menunaikan tugasnya. Karena apa yang dilakukannya merupakan bagian dari upaya menyukseskan agenda Ilahi.

Jasa-jasa Ummu Aiman yang menakjubkan itu demikian berkesan di hati Nabi Muhammad. Bahkan beliau pun menyebut Ummu Aiman sebagai ibunya, karena peran mulia itulah yang diembannya sepenuh kasih, dengan pengorbanan jiwa dan raga.

Bassam Muhammad Hamami dalam buku Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam (2017: 20-21) menerangkan, ia adalah Barakah binti Tsa’labah bin Amar bin Hishn bin Malik bin Salamah bin Umar bin Nu’mân al-Habasyiyyah. Ketika Aminah melahirkan Rasulullah, sepeninggal ayahandanya, Ummu Aiman mengambil dan merawat beliau hingga dewasa.

Ummu Aiman mendidik Rasulullah dengan baik dan tulus. Karena itu, Rasulullah bersabda, “Ummu Aiman adalah ibuku sesudah ibuku.”




Mereka yang Menyongsong Cahaya

Sebelumnya

As-Sabiqun al-Awwalun

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Sirah Nabawiyah