post image
Sosis/ Net
KOMENTAR

HADIRNYA sosis meramaikan jagad kuliner merupakan wujud dari kecenderungan umat manusia terhadap sesuatu yang praktis. Apalagi telah ada pula sosis yang bisa langsung dikunyah tanpa proses dimasak dulu, bahkan sekalian bungkusnya pun enak ditelan. Sampai disini sosis telah teruji sangat membantu kepelikan manusia soal urusan perut.

Di negeri kita, sosis mungkin sekedar menu pelengkap atau pengganti. Namun, dalam perkembangannya kehadiran sosis seperti merajalela.

Komariah dkk. dalam buku Aneka Olahan Daging Sapi (2005: 33) menerangkan, sosis atau sausage berasal dari Bahasa Latin salsus yang berarti digarami. Secara harfiah, sosis diartikan daging yang diolah melalui proses penggaraman. Definisi lainnya adalah daging giling yang dicampur dengan bumbu dan dimasukkan ke dalam selongsong sebagai wadahnya. Sosis merupaka  salah satu produk makanan yang dapat digunakan sebagai sumber protein  hewani.

Dari sudut bahasa, sosis berakar dari sausage (bahasa Inggris). Nama ini sesungguhnya berakar dari saussiche (bahasa Prancis kuno). Sosis juga dikenal dalam bahasa Latin sebagai salsus yang berarti digarami.

Sekitar dua ribuan tahun yang lalu, orang sudah berpikir tata cara pengolahan daging yang dihaluskan. Di antara hasil kreasinya dikenal sebagai sosis. Caranya gampang; daging digiling atau dihaluskan, lalu dicampur lemak hewan serta bumbu rempah atau digarami.

Kemudian diadakan pengasapan supaya awet. Maka jadilah sosis yang pada mulanya masih dibungkus menggunakan usus hewan.

Zaman kian maju, dan bahan pokok sosis masih setia dengan daging cincang atau halus. Bedanya, kini pengawetan telah menggunakan zat-zat kimiawi. Bumbunya pun menyesuaikan dengan kreasi kemodernan, serta selongsongnya memakai bahan sintesis atau bahan yang bisa langsung dilahap.

Tergoda Kelezatannya

Sosis bukanlah makanan hasil cipta karya Indonesia. Namun, disini pengemar sosis kian menjamur. Olahannya kian digemari tua, muda, hingga anak-anak. Setiap makanan memang memiliki daya pesona tersendiri.

Sosis yang bulat panjang dengan warna merah atau coklat berbahan baku utama daging. Cuma, karena prosesnya akan dihaluskan juga, maka pilihan dagingnya sering dari bagian-bagian yang tidak favorit, contohnya bahan baku sosis dagingnya justru diambil di sekitar bagian pinggul sapi.

Ya, yang penting tetap daginglah!

Di Indonesia ini, kita lebih akrab mengenal sosis dari daging sapi. Meski belakangan daging ayam pun mulai diolah menjadi bahan bakunya. Sementara orang Jepang berkreasi dengan sosis ikan. Tidak pula bisa dikesampingkan fakta adanya pengolahan sosis dari daging babi.

Konsumen dituntut jeli memilah tulisan di kemasannya, apakah itu sosis sapi atau tertulis beef sausage, sosis ayam atau tertera chicken sausage atau juga sosis daging babi dengan keterangan pork sausage.

Dengan berbahan dasar daging, berbagai ramuan bumbu, adanya protein dan lainnya membuat kita tak bisa menampik kalau sosis juga mengandung zat-zat gizi yang baik. Sosis bisa menjadi pilihan demi mendapatkan makanan bergizi dengan cita rasa beda.

Cukup banyak jenis sosis yang meramaikan pasaran, dengan perbedaan bumbu, jenis daging yang diolah, tata cara produksi, warna maupun ukuran melahirkan aneka macam jenis sosis, juga ada jenis sosis emulsi yang dagingnya dilumat halus dengan penambahan lemak, dan juga sosis daging giling atau tidak sampai halus. Sehingga pada sosis jenis ini serat-serat dagingnya masih terlihat dengan kekhasan tersendiri.  

Lumayan Kritis

Amat disayangkan bila meriahnya konsumsi sosis oleh penggemarnya belum sepenuhnya diiringi pengetahuan mencukupi perihal standar makanan sehat dan halal. Padahal makanan bukan saja perkara enaknya di lidah, sosis yang dilahap itu akan menjadi darah daging di tubuh.

Jika yang masuk sesuatu yang tidak sehat, maka penyakit akan merajam tubuh. Bila yang disantap tergolong haram, maka secara syariat kita mengalami cacat moral agama.

Ariani dalam buku Pengetahuan Bahan Makanan dan Minuman Seri: Babi dan Khamar menerangkan, sebagai contoh adalah sosis pasta hati sapi yang tidak hanya mengandung bahan dari sapi saja tetapi hatinya berasal dari babi, begitu pula lemaknya. Sebagai informasi, hati babi lebih disukai dari pada hati babi karena hati sapi rasanya pahit.

Pada laman https://www.halalmui.org diungkapkan, titik kritis kehalalan sosis terletak pada bahan pembuat sosis ini, di mana secara umum bahan pembuat sosis terdiri dari: daging mentah, garam, fosfat, bahan kuring, air, pengawet, bumbu, perisa (flavouring), antioksidan, selongsong sosis, bahan pengikat dan bahan pengisi.

Daging yang digunakan seringkali tidak hanya satu jenis daging saja, bisa merupakan campuran.  Di samping itu, hasil samping industri daging sering dimanfaatkan untuk membuat sosis seperti daging tetelan, daging sisa proses trimming, dan lain-lain.

Di samping itu, bagian lain dari babi seperti kulit (kulit babi) dan jeroan seperti jantung yang dimanfaatkan untuk pembuatan sosis. Penggunaan hati babi juga perlu diwaspadai, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Singkatnya, di atas segala kelebihan, sosis juga rentan dari segi kesehatan dan kehalalan. Karena sosis adalah produk berbasis daging, penting sekali dipastikan dagingnya bukan yang haram seperti babi.

Kalaupun dari binatang halal tentu harus disembelih sesuai dengan ajaran Islam.




Produk Herbal Kok Perlu Sertifikasi Halal?

Sebelumnya

Begini Cara Meyakini Kehalalan Wangi Vanili

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Halal Haram