Ilustrasi/ Net
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

TSUWAIBAH termasuk perempuan yang berlimpah anugerah dari kelahiran putra Aminah. Ketika dirinya menyampaikan kabar gembira lahirnya Nabi Muhammad saw., maka seketika itu pula dirinya memperoleh kemerdekaan hingga terbebas dari perbudakan.

Hal ini diceritakan oleh M. Quraish Shihab dalam bukunya Membaca Sirah Nabi Muhammad Saw.

Dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits Shahih (2011: 211), Abu Lahab mendengar dari jariyah-nya (hamba sahaya), Tsuwaibah, berita kelahiran bayi lelaki almarhum saudara kandungnya (Abdullah).

Ia demikian gembira sehingga memerdekakan Tsuwaibah, walau tidak kurang dari empat puluh tahun kemudian, Abu Lahab tampil sebagai salah seorang yang sangat memusuhi Nabi saw. Kendati demikian, kegembiraannya terhadap kelahiran Nabi Muhammad diberi ganjaran oleh Allah Swt.

Dalam satu riwayat dinyatakan bahwa paman Nabi saw., Abbas, setahun setelah kematian saudaranya Abu Lahab, bermimpi melihatnya memakai pakaian putih dan dia menanyainya tentang keadaannya.

Abu Lahab menjawab dalam mimpi itu bahwa dia di neraka, hanya saja setiap malam Senin Allah meringankan siksa atasnya karena dia memerdekakan hamba sahayanya, Tsuwaibah, yang datang menyampaikan kepadanya berita kelahiran kemenakannya, yaitu Nabi Muhammad saw. (HR. Bukhari)   

Lahirnya Rasulullah memberi keberkahan bagi siapa saja yang bergembira dengannya. Bahkan Abu Lahab yang kemudian hari teramat kerasnya menentang dakwah Islam yang disyiarkan oleh Nabi Muhammad pun memperoleh keringanan azab neraka.

Kelahiran Nabi Muhammad bukan hanya membuat Tsuwaibah berhasil menjadi manusia bebas, tetapi juga menjadikan dirinya memperoleh suatu peran penting yang hanya perempuan terpilih yang dapat merasakannya. Tsuwaibah menjadi ibu susu pertama bagi bayi paling mulia sedunia.

Beberapa hari Aminah menyusui putranya yang baru berumur hitungan hari. Kemudian disebabkan keterbatasan ASI dan juga tradisi penyusuan yang berkembang dalam masyarakat Arab ketika itu, maka ASI Tsuwaibah pun yang menjadi bagian penting pertumbuhan bayi Aminah.

M. Quraish Shihab dalam bukunya Membaca Sirah Nabi Muhammad Saw. Dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits Shahih (2011: 213) mengungkapkan, Aminah menyusukan anaknya beberapa hari lamanya, lalu dilanjutkan oleh Tsuwaibah al-Aslamiyah, yang dimerdekakan Abu Lahab ketika dia datang menyampaikan berita kelahiran Nabi Muhammad saw., juga beberapa hari.

Tsuwaibah memang berprofesi sebagai ibu yang menyusukan bayi-bayi. Tsuwaibah sendiri ketika itu menyusukan juga bayinya yang bernama Masruh.

Disini terkuaklah sebab musabab Tsuwaibah dapat menyusui bayinya Aminah, karena dia pun dalam masa menyusui anaknya, sehingga memungkinkan baginya menyusui bayi-bayi lainnya. Dengan demikian pula, Nabi Muhammad pun memiliki saudara sepersusuan, yaitu Masruh, anak dari Tsuwaibah.

Dan sejak kelahirannya Nabi Muhammad telah membuktikan kesamaan derajat manusia. Terbukti, pada tubuh agung beliau mengalir darah dari yang berasal dari saripati ASI seorang budak. Kemuliaan Rasulullah tidaklah tercederai akibat menyusu kepada perempuan budak, justru kemuliaan beliau memberikan dampak positif bagi derajat ibu susunya.

Terpilihnya Tsuwaibah bukanlah keputusan yang gegabah, mengingat perempuan itu memiliki latar belakang yang dipercaya oleh keluarga besar Abdul Muthalib.

Moenawar Khalil dalam buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad (2001: 329) mengungkapkan, Tsuwaibah seorang hamba sahaya dari Abu Lahab (Abdul Uzza bin Abdul Muthalib) yang sudah dimerdekakan. Ia menyusui seorang anak pula yang bernama Abdullah bin Abdul Asad al-Makhzumi, di samping menyusukan anaknya sendiri yang bernama Masruh. Menurut riwayat, Tsuwaibah juga baru selesai menyusui paman Nabi saw., yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib.

Karena Tsuwaibah menunjukkan reputasi yang baik selama menyusui Hamzah, maka dari itu Aminah maupun Abdul Muthalib tidak meragukan lagi untuk mempercayakan Nabi Muhammad kepada Tsuwaibah.

Berkat menyusu dengan Tsuwaibah, maka sejak bayi Nabi Muhammad memilik beberapa saudara sepersusuan, yaitu Masruh, Abdullah bin Abdul Asad al-Makhzumi, hingga pamannya sendiri, yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib. Orang-orang tersebut tentunya bangga mendapatkan keberkahan pernah menyusu kepada perempuan yang sama dengan Rasulullah.

Tsuwaibah menyusui putra Aminah hanya berkisar selama tujuh hari, akan tetapi jasanya teramat membekas di hati Nabi Muhammad. Sehingga beliau pun memberikan banyak kebaikan kepada ibu susuannya itu. Maklum saja, beliau pun menyadari ASI merupakan asupan yang teramat penting bagi bayi.

Faisal Ismail dalam buku Sejarah & Kebudayaan Islam Periode Klasik (Abad VII-XII M) (2017: 91) menguraikan, kendatipun Tsuwaibah menyusui beliau hanya beberapa hari, namun kebaikan ibu susu ini tak pernah dilupakan oleh Muhammad untuk selama-lamanya. Setelah Nabi Muhammad dewasa dan berkeluarga, beliau sering memberi Tsuwaibah uang, makanan, dan pakaian.

Tatkala Tsuwaibah menapaki usia senja, Nabi Muhammad semakin menunjukkan perhatiannya. Beliau memberikan kebutuhan hidup yang layak bagi perempuan yang teramat berjasa bagi kehidupan masa kecilnya.

Berhubung masa penyusuan bersama Tsuwaibah berlangsung relatif singkat, hanya dalam hitungan hari, maka Aminah mulai mempertimbangkan ibu susu lain bagi bayinya. Disinilah dibutuhkan peran aktif sang kakek, hingga Abdul Muthalib menemukan hal-hal yang menakjubkan. 




Belum Ada Perang Seunik Perang Ahzab

Sebelumnya

Mukjizat Nabi pada Periuk Istri Jabir

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Sirah Nabawiyah