post image
Maura Magnalia Madyaratri, Putri Nurul Arifin yang meninggal dunia karena penyakit henti jantung mendadak/ Foto: Instagram @na_nurularifin
KOMENTAR

KABAR duka datang dari politikus Nurul Arifin. Putrinya, Maura Magnolia Widyaratri (27), meninggal dunia pada Selasa, 25 Januari 2022 akibat henti jantung mendadak.

Menurut Nurul, keluarga mereka memang memiliki riwayat penyakit jantung. Namun banyak orang kaget karena usia Maura yang masih muda dan ia pun terbilang pribadi yang aktif dan sehat.

Dalam keterangannya, Nurul mengatakan bahwa Maura sedang disibukkan dengan persiapan wisuda S2-nya.

Dilansir Mayo Clinic, henti jantung mendadak juga dikenal dengan istilah cardiac arrest atau sudden cardiac arrest (SCA), merupakan kondisi jantung berhenti berdetak secara tiba-tiba.

Ketika jantung berhenti berdetak, itu berarti jantung tidak bekerja dengan baik. Darah akan berhenti dipompa dari jantung menuju sejumlah organ vital termasuk otak, paru-paru, dan liver. Kondisi tersebut mengakibatkan orang yang mengalaminya tidak bernapas normal, tidak sadarkan diri, atau bahkan berhenti bernapas.

Perlu diketahui, jantung mempunyai sistem elektrik internal yang mengendalikan ritme detak jantung. Beberapa masalah detak jantung bisa terjadi saat sistem elektrik internal tersebut rusak, terutama aritmia (jantung berdetak tidak beraturan) dan serangan jantung (matinya jaringan otot jantung akibat kehilangan pasokan darah).

Kedua kondisi tersebut dapat menyebabkan jantung tiba-tiba berhenti bekerja. Henti jantung yang tidak segera ditangani dengan tepat dapat menyebabkan disabilitas hingga kematian.

Ketika jantung berhenti, kurangnya suplai darah yang mengandung oksigen dapat menyebabkan kerusakan otak.

Data Lousiana State University Health Sciences Center menunjukkan bahwa henti jantung merupakan penyebab umum terjadinya kerusakan otak. Kerusakan otak permanen juga kematian bisa terjadi dalam 4 – 6 menit setelah henti jantung.

Penyebab Henti Jantung

National Heart, Lung, and Blood Institute menjelaskan bahwa masalah pada sistem elektrik dalam jantung paling sering terjadi akibat fibrilasi ventrikel alias kondisi ritme jantung yang tidak wajar. Bilik (ventrikel) pada jantung bergetar tidak terkendali menyebabkan ritme jantung berubah drastis.

Ketika ventrikel bermasalah, jantung tidak dapat memompa darah dengan baik, bahkan peredaran darah bisa berhenti total hingga mengakibatkan kematian.

Selain fibrilasi ventrikel, sejumlah penyebab terjadinya henti jantung adalah penyakit arteri koroner, serangan jantung, kardiomiopati, penyakit jantung bawaan, penyakit keturunan pada jantung, penyakit katup jantung, juga penyakit jantung iskemik akibat plak pada arteri koroner yang menjadi penyebab henti jantung pada sebagian besar kasus pada orang dewasa.

Penyebab henti jantung lainnya adalah olahraga intens serta kadar kalium dan magnesium yang rendah dalam darah sehingga sinyal listrik jantung terganggu.

Faktor Risiko Henti Jantung

Faktor-faktor risiko henti jantung sebagai berikut:
-Diabetes, obesitas, merokok, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan konsumsi obat-obat terlarang.
-Gaya hidup yang tidak aktif.
-Laki-laki memiliki risiko terkena lebih tinggi dibanding perempuan (perbandingan 3:1).
-Usia yang makin lanjut (45 – 75 tahun).
-Pernah mengalami serangan jantung, riwayat jantung koroner, riwayat jantung iskemik, pernah mengalami henti jantung sebelumnya, keluarga dengan riwayat henti jantung, keluarga dengan riwayat aritmia, cacat jantung bawaan, dan riwayat kardiomiopati.

Diperkirakan sebanyak 7 juta kasus henti jantung berakhir kematian setiap tahun.

Tanda & Gejala Henti Jantung

Sebelum terjadi henti jantung, ada beberapa gejala yang dirasakan penderitanya yaitu rasa tidak nyaman pada dada, sesak napas, palpitasi jantung (sensasi jantung berdegup kencang), dan tubuh merasa lemah.

Dan gejala yang dialami saat henti jantung meliputi tubuh ambruk secara tiba-tiba, tidak ada denyut nadi, tidak bernapas, dan hilang kesadaran.

Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?

Henti jantung adalah kondisi yang sangat berbahaya yang memerlukan penanganan medis sesegera mungkin.

Jika terjadi nyeri dada berulang yang sering, jantung berdebar, bradikardia (detak jantung melambat), aritmia, wheezing (sesak napas tanpa alasan jelas), hampir pingsan atau pingsan, juga pusing, segeralah berkonsultasi ke dokter.

Mengingat gejala yang terjadi pada tiap orang bisa berbeda, jangan tunda untuk memeriksakan diri.



Close X

Lebih dari 100 Kasus Dilaporkan di Eropa, WHO Gelar Pertemuan Darurat Bahas Cacar Monyet

Sebelumnya

Waspada Penyakit Kaki Tangan Mulut pada Si Kecil, Ayah Bunda Wajib Kenali Gejalanya

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Health