post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

SAAT ini banyak sekali stereotip yang menyelimuti isu kesehatan mental. Hal ini tentu saja banyak menimbulkan stigma, diskriminasi, dan isolasi pada orang-orang dengan gangguan mental.

Mereka akan semakin sulit mendapatkan pengobatan yang baik, apalagi masih minimnya fasilitas kesehatan jiwa di berbagai daerah di Indonesia.

Kesehatan mental nyatanya sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Sayangnya, masih banyak orang yang belum menyadari dan memerhatikannya dengan sungguh-sungguh, Bahkan tidak sedikit informasi yang salah beredar di masyarakat.

Satu hal yang perlu diketahui, tidak berbeda jauh dengan penyakit fisik, penyakit mental juga bisa dialami siapa saja. Gangguan mental adalah hal yang nyata dan harus mendapatkan penanganan tepat.

Berikut ini mitos Vs fakta tentang kesehatan mental yang perlu diketahui:

1. Kesehatan mental identik dengan IQ yang rendah

Mitos: individu yang memiliki masalah kesehatan mental adalah individu dengan kapasitas kecerdasan yang rendah.

Fakta: gangguan mental sama dengan penyakit fisik, dapat menyerang siapa saja tanpa memandang kapasitas kecerdasan, status sosial, bahkan tingkat pendapatan.

2. Tidak perlu menjaga kesehatan mental

Mitos: kesehatan mental hanya perlu dijaga saat ada masalah, jika tidak maka diabaikan saja.

Fakta: semua orang, tanpa terkecuali, akan mendapat manfaat yang besar dari menjaga kesehatan mental. Bagaimana cara menjaga kesehatan mental? Beberapa di antaranya adalah dengan selalu mengatakan hal-hal positif pada diri sendiri, olahraga, tuliskan hal-hal yang patut disyukuri, istirahat, tidur tepat waktu, coba terbuka pada orang lain.

3. Kesehatan mental bukan masalah yang besar

Mitos: masalah kesehatan mental bukan hal yang besar bagi remaja, sebab masalah ini biasanya terjadi karena fluktuasi hormon atau cara mereka mencari perhatian.

Fakta: walaupun memang kesehatan mental pada remaja salah satunya dipengaruhi oleh faktor hormon, namun tidak bisa disepelekan. Ana-anak dan remaja membutuhkan kesehatan mental yang baik untuk berkembang dengan cara yang sehat, membangun hubungan sosial yang kuat, beradaptasi dengan perubahan, dan menghadapi tantangan hidup.

4. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental

Mitos: tidak ada yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental, karena kesehatan mental hanya dapat dialami oleh orang yang memiliki tingkat kecerdasan rendah.

Fakta: kesehatan mental identik dengan rasa bahagia, jadi kebahagiaan tersebut sudah seharusnya dijaga dengan baik. Jika tidak, bukan tidak mungkin anak akan mudah menjadi depresi dan saat dewasa nanti memiliki temperamen yang buruk.

5. Kesehatan mental adalah tanda kelemahan

Mitos: masalah kesehatan mental adalah tanda kelemahan. Individu yang kuat pasti tidak memiliki masalah ini.

Fakta: kondisi kesehatan mental tidak ada kaitannya dengan lemah atau tidaknya seseorang, siapapun bisa mengalaminya. Yang membedakannya adalah cara penanganannya. Apabila seseorang yang kesehatan mentalnya sedang bermasalah dan langsung mengakui serta mencari bantuan ahli, maka masalah tersebut dapat segera diatasi tanpa memakan waktu yang lama.

6. Kesehatan mental remaja berprestasi tidak perlu dikhawatirkan

Mitos: remaja yang berprestasi dan terkenal di lingkungan sosialnya, pasti tidak akan memiliki masalah kesehatan mental, karena tidak ada yang perlu dicemaskan.

Fakta: justru anak remaja yang berprestasi dan terkenal memiliki kekhawatiran permasalahan kesehatan mental yang tinggi. Apalagi prestasi yang ditorehkannya adalah hasil tuntutan dari orangtua. Saat mereka menjadi terkenal pun, mereka harus berbuat hal-hal yang baik dan berusaha semaksimal mungkin untuk menutupi kekurangannya. Jadi pada intinya, ada banyak faktor yang menyebabkan munculnya masalah kesehatan mental, termasuk faktor biologis, sosial, maupun psikologis.

Berbicara dari hati ke hati dengan anak remaja Anda tentang kondisi dan kesehatan mentalnya adalah langkah awal yang perlu dilakukan. Jika Anda mengkhawatirkan kesehatan mentalnya, maka mulainya mengajaknya berbicara.

Close X

Omicron Melesat, Wapres Ma'ruf Amin Minta Kebijakan PTM Dikaji Kembali

Sebelumnya

Komnas KIPI: Efek Samping Vaksin COVID-19 pada Anak Cenderung Lebih Rendah Dibandingkan Orang Dewasa

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel News