post image
Ilustrasi vaksin Covid-19 pada ibu hamil/ Net
KOMENTAR

IBU hamil yang terpapar Covid-19 ketika melahirkan bayinya hampir dua kali lebih mungkin mengalami stillbirth (lahir mati) dibandingkan perempuan sehat tanpa Covid-19, menurut studi yang dirilis Centers for  Disease Control and Prevention (CDC), Jumat (19/11/21).

Studi tersebut melibatkan lebih dari 1,2 juta kasus persalinan di kota Washington DC antara Maret 2020 hingga September 2021.

Meskipun secara keseluruhan stillbirth merupakan satu kondisi yang jarang terjadi, mewakili kurang dari 1 persen dari semua kelahiran, ada 1,26 persen dari 21.653 ibu hamil dengan Covid mengalami stillbirth, dibandingkan 0,64 persen ibu hamil tanpa Covid.

Sekalipun sudah dilakukan penyesuaian untuk mengontrol perbedaan antara dua kelompok tersebut, ibu hamil dengan Covid masih memiliki kemungkinan 1,9 kali lebih besar mengalami stillbirth dibandingkan ibu hamil yang sehat.

Studi CDC tersebut juga menunjukkan bahwa risiko stillbirth lebih tinggi pada ibu hamil dengan Covid-19 semenjak varian Delta mendominasi penyebaran.

Ketika risiko stillbirth pada ibu hamil dengan Covid 1,5 kali lebih tinggi dari ibu hamil tanpa Covid sebelum bulan Juli 2021, maka saat varian Delta mendominasi, terjadi peningkatan 4 kali lebih tinggi pada bulan Juli – September 2021.

Selama periode penelitian di saat varian Delta menjadi dominan, 2,7 persen persalinan yang dilakukan ibu hamil dengan Covid mengalami stillbirth.

"Meski ada laporan yang menunjukkan peningkatan risiko, stillbirth adalah sebuah kondisi yang sulit dipelajari, karena—untungnya—jarang terjadi. Dari beberapa bukti yang menunjukkan peningkatan risiko, data paling kuat menunjukkan hal itu terkait varian Delta," ujar Dr. Denise Jamieson, kepala ginekologi dan kebidanan di Emory Healthcare.

"Pesan penting yang ingin kami sampaikan adalah pentingnya vaksinasi Covid-19 bagi ibu hamil," tegas Dr. Denise.

CDC sangat menganjurkan ibu hamil, ibu menyusui, dan perempuan yang sedang berencana hamil untuk segera divaksinasi. Namun arus penolakan sangat kuat, sekalipun kehamilan merupakan salah satu dalam daftar kondisi kesehatan CDC yang bisa meningkatkan risiko penyakit parah.

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa pasien hamil yang bergejala (simptomatik) memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk dirawat intensif, dipasang ventilator, atau bahkan meninggal dibandingkan pasien bergejala yang tidak dalam kondisi hamil. Anak yang dilahirkan juga lebih mungkin mengalami kelahiran prematur.

Studi CDC lain yang diumumkan sebelumnya pada Rabu (17/11/21) memperlihatkan kasus 15 ibu hamil di Mississippi yang meninggal karena Covid selama kehamilan atau tak lama setelah melahirkan; 6 perempuan meninggal sebelum varian Delta menjadi dominan dan 9 perempuan meninggal antara Juli hingga Oktober 2021—saat varian Delta mendominasi.

Dari 15 ibu hamil yang meninggal tersebut, 9 di antaranya adalah perempuan kulit hitam, 3 perempuan kulit putih, dan 3 perempuan Hispanik. Usia mereka rata-rata 30 tahun. Dari 14 perempuan yang memiliki kondisi medis tersebut, tidak ada yang divaksinasi. Lima kematian terjadi sebelum vaksin tersedia.

Studi CDC tersebut menyimpulkan bahwa risiko kematian ibu hamil dengan Covid adalah 9 kematian per 1.000 infeksi sedangkan risiko kematian akibat Covid bagi perempuan usia subur lain hanya 2,5 kematian per 1.000 infeksi.

Hal ketiga yang ditemukan para peneliti CDC adalah ibu hamil dengan Covid menghadapi risiko lebih dari 60 persen lebih tinggi untuk dirawat di ruang perawatan intensif, membutuhkan ventilator atau peralatan khusus untuk bernapas, bahkan meninggal selama periode Delta dominan, dibandingkan dengan ibu hamil pada periode sebelum dominasi varian Delta.

 

 

 

 

Close X

Pegal Karena Terlalu Lama Pegang Gadget? Ini 5 Olahraga Ringan untuk Sehatkan Tangan

Sebelumnya

Kecanduan Membunyikan Persendian, Enak Sih, Tapi ....

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Health