Kembalilah kepada tugas kita sebagai manusia, yakni berusaha sekuat tenaga, dengan terus menjaga harapan. Dengan sikap batin yang positif itu Allah akan melimpahkan rahmat-Nya yang luar biasa/ Net
Kembalilah kepada tugas kita sebagai manusia, yakni berusaha sekuat tenaga, dengan terus menjaga harapan. Dengan sikap batin yang positif itu Allah akan melimpahkan rahmat-Nya yang luar biasa/ Net
KOMENTAR

PANDEMI begini memang masa yang teramat sulit, semua orang tahu itu. Tetapi belum tentu seluruh orang menyadari, ada bibit penyakit hati yang diam-diam bersemi. Berhati-hatilah, agar kesucian hati kita tidak dicederai oleh benalu-benalu yang tak kalah berbahaya ini.

Apa saja ya penyakit hati yang rawan muncul?

Pertama, putus asa

Telah diterangkan pada surat Az-Zumar ayat 53, yang artinya, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”

Urgensi ayat ini kian terasa di masa-masa yang teramat berat begini. Tak sedikit orang yang menyimpulkan, jangankan masa depan, masa sekarang pun teramat gulita. Dan di antara mereka memilih untuk berputus asa, menyerah kalah lalu membiarkan dirinya dipermainkan oleh hempasan gelombang nasib.

Pastinya putus asa ini penyakit hati yang berbahaya. Karena bukan saja dapat membuat orang putus harapan, bahkan dapat menjadi gelap mata. Tidak jarang rumah tangga yang dulu adem ayem berujung dengan perpisahan yang memilukan, sebab suami istri kehilangan harapan. Dan yang memilukan, di antara yang putus asa ini tega mengakhiri hidup mereka sendiri.

Putus asa itu memang buruk, tetapi apa jenis putus asa yang paling dilarang agama?

Yaitu, putus asa dari rahmat Allah, begitulah yang diingatkan oleh Al-Qur’an.

Penyakit hati berputus asa ini terlahir dari persepsi yang melenceng, yang mengira rahmat Allah itu sudah tidak ada. Padahal rahmat Allah itu teramat luas, tak terbatas, dan tidak akan pernah mampu diukur oleh logika manusia. Bahkan seringkali rezeki itu didatangkan Allah Swt. dari pintu-pintu yang tidak disangka-sangka.

Tidak tiba-tiba saja orang jadi berputus asa. Ayat di atas menyebutkan salah satu penyebab utamanya, yaitu melampaui batas. Apa contohnya?

Terkadang ada manusia yang mencampuri urusan Tuhan, misalnya menakar rezeki yang pantas untuk dirinya. Padahal yang menentukan takarannya adalah hak mutlak Allah Swt. Dan amat disayangkan, ketika menemukan kenyataan yang tidak sesuai dengan imajinasi, maka dirinya pun berputus asa.

Oleh sebab itu, kembalilah kepada tugas kita sebagai manusia, yakni berusaha sekuat tenaga, dengan terus menjaga harapan. Dan dengan sikap batin yang positif itu Allah akan melimpahkan rahmat-Nya yang luar biasa.

Kedua, prasangka buruk

Said Bin Ali bin Wahf Al-Qahthany dalam buku Berbaiksangka Pada Allah Cara Islami Untuk Berfikir Positif mengungkapkan, Samir meriwayatkan, Abu Hurairah berujar, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya berprasangka baik kepada Allah adalah wujud laku ibadah yang bagus.”

Seseorang belum disebut baik laku ibadahnya, selama lubuk hatinya masih berprasangka buruk kepada Allah. Tidak menerima ketentuan takdir Allah dengan lapang hati adalah cermin buruk sangka kepada Allah.

Tidak tanggung-tanggung, orang-orang yang lemah hatinya malah terjebak dalam prasangka buruk justru kepada Tuhan. Saking beratnya beban kehidupan yang rasanya tidak terpikul lagi, terbersitlah prasangka bahwa Tuhan tidak adil dalam memberikan beban.

Padahal Al-Qur’an mengingatkan, surat Al-Baqarah ayat 185, yang artinya, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. “  

Dengan demikian, Tuhan begitu adil memberikan ujian bahkan cobaan hidup. Dan tergantung kepada kemampuan kita dalam mengeluarkan segenap potensi diri dan mengasah ketangguhan mental.

Sayangnya, jebakan buruk sangka ini mematahkan keyakinan untuk bangkit dari keterpurukan. Tak mengherankan juga sih, karena terlanjur berprasangka buruk pada kemurahan Ilahi, maka jadilah kita terperosok di lubang dalam yang digali sendiri.

Selain kesehatan tubuh, jangan lupa yang teramat penting itu menjaga kesehatan mental. Peliharalah diri kita dari penyakit-penyakit hati di masa pandemi. Karena virus yang menyerang hati manusia ini malah lebih sulit menditeksinya.  

Penyakit-penyakit ini amatlah berbahaya, karena dapat mematikan hati. Kalau sekiranya kita terlanjur dihinggapinya, maka bertaubatlah dan bersihkan lagi hati kita!
    

        

    




Adab Anak Adalah Tanggung Jawab Orang Tuanya

Sebelumnya

Apa Hubungan Bersyukur dengan Percaya Diri bagi Seorang Muslimah?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur