post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

MARET 2020 menjadi awal dari sebuah kisah tidak mengenakkan yang kemudian menjadi sejarah kelam Indonesia. Dua bulan sebelumnya, satu per satu negara di dunia sudah lebih dulu tumbang dihantam penyakit menular yang menyebar cepat. Sejarah kelam global ini tercatat sebagai pandemi Covid-19.

Biasanya bila kita bicara tentang penyakit, maka yang terkena dampaknya adalah fisik. Solusinya bisa dicari dalam dunia medis. Cukup sampai di situ. Tapi pandemi Covid-19 meruntuhkan anggapan tersebut. Betapa tidak, karena pandemi ini tak hanya menyerang kesehatan fisik seseorang tapi juga berdampak se segala aspek kehidupan umat manusia.

Saya ingat betul ketika pemerintah mengumumkan kasus pertama Covid-19 di Indonesia. Saat itu saya hanya terkejut sembari berharap penyakit ini tidak menyebar luas. Banyak orang mengira pandemi ini hanya berlangsung dalam hitungan tiga hingga empat bulan.

Namun dalam perkembangannya, bulan demi bulan berlalu, angka kasus Covid-19 terus bertambah. Masyarakat dunia dilanda kepanikan. WHO pun menyusun protokol kesehatan untuk dilaksanakan secara global.

Seperti tadi saya katakan, pandemi tak hanya menyerang kesehatan fisik seseorang. Covid-19 ini tak hanya berdampak secara fisik, tapi juga psikis, ekonomi, budaya, sosial kemasyarakatan, hingga politik.

Saya yang berprofesi sebagai guru, tak pelak juga merasakan dampak pandemi. Hampir dua tahun saya belum bisa juga mengadakan kegiatan belajar mengajar di kelas.

Sungguh, saya begitu merindukan interaksi menyenangkan dengan para peserta didik. Di dalamnya ada canda tawa, dan saya dapat merasakan antusiasme yang jujur khas anak-anak. Meski sesekali harus berteriak di depan kelas, demi memastikan mereka memahami penjelasan yang saya berikan.

Hingga saat ini, saya harus mengikuti arahan pemerintah. Rencana kegiatan belajar yang telah para guru kemas rapi, mau tak mau harus berubah total, termasuk pelaksanaan Ujian Nasional tahun lalu yang akhirnya ditiadakan, padahal persiapannya sudah mencapai 80%.

Tidak hanya itu, saya dan semua guru se-Indonesia harus menggunakan metode dadakan yang mau tidak mau harus kami kuasai. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sungguh sebuah situasi yang tidak mudah karena pembelajaran dan penilaian tidak seefektif kondisi normal dahulu, saat belajar tatap muka di sekolah.

Namun suka tidak suka, mau tidak mau, pelaksanaan belajar mengajar haruslah melalui jagat virtual. Semua demi kebaikan bersama untuk menghindari penyebaran Covid-19.

Stres dan jenuh perlahan-lahan muncul, tidak hanya melanda para peserta didik tapi juga para guru (saya yakin ini kenyataannya). Selanjutnya giliran para orangtua. Tak sedikit yang mengaku “gara-gara daring jadi darting (darah tinggi)” karena tidak terbiasa mengajarkan pelajaran sekolah ke anak mereka. Belum lagi kesibukan WFH dan keharusan #stayathome yang membuat orangtua—terutama para bunda—bertambah repot.

Ya, ujian pandemi ini bukan hanya soal fisik yang terpapar Covid-19 melainkan juga soal kesabaran dan keuletan. Roda ekonomi mandek, para pelaku UMKM babak-belur. Meski kini mulai bangkit sedikit demi sedikit, badai pandemi belum juga mereda.

Jenuh? Capek? Kita pasti merasakan semuanya karena sudah satu setengah tahun merasakan kepanikan berkali-kali dengan mewabahnya varian baru yang lebih menular. Setiap hari kita bisa mendengar sirene mobil ambulans terdengar seolah tangisan kepiluan di masa pandemi. Fasilitas kesehatan sudah tak mampu menampung pasien. Banyak pasien Covid-19 yang harus menjemput ajal saat menjalani isolasi mandiri.

Lalu sejauh ini, hikmah apa yang sudah kita ambil untuk dijadikan pelajaran berharga untuk masa depan?

Dulu pernah saya mendengar seorang murid mengatakan “mudah-mudahan kita bisa libur sekolah selama setahun”, kalimat yang diucapkan karena merasa jenuh setiap hari harus pergi ke sekolah, belum lagi dengan adanya tugas dan kegiatan lain. Akan tetapi ternyata Allah menjawab doanya tersebut. Siapa sangka kita berada dalam masa yang selalu berada di rumah.

Alangkah baiknya bila kita senantiasa melantunkan doa yang baik-baik saja dalam kondisi dan situasi apa pun. Karena tak butuh waktu lama bagi Allah mewujudkan munajat yang diaminkan hamba-Nya.

Jika memang virus ini adalah bala tentara Allah yang dikirim untuk umat manusia sebagai ujian kesabaran, seberapa besar kesabaran yang sudah kita terapkan? Masihkah kita mengeluh untuk hari ini, ketika kita masih bisa bangun dari tidur dalam keadaan sehat? Sementara kita melihat banyak orang berebut mengisi oksigen demi bisa menghirup oksigen karena paru-paru yang mengalami penurunan kondisi untuk bisa bernapas normal.

Jangan pernah abai mengucapkan “alhamdulillah” dengan segala kisah yang Allah berikan hingga hari ini kita masih merasakan nikmat sehat.

Begitu pula ketika mendengar kabar duka melalui media sosial, sementara kita masih diberi kesempatan oleh Allah bersama dengan keluarga dan orang-orang tersayang. Kita masih bisa mendengar ocehan mereka, tawa mereka, bukankah itu sebuah bentuk kebahagiaan? Menikmati quality time bersama keluarga, itu adalah kebahagiaan yang tak tergantikan.

Coba kita tengok saudara-saudara kita yang dipisahkan ‘garis’ isolasi mandiri atau tembok rumah sakit. Ketika orang tercinta sakit, tapi kita tak bisa ada di samping mereka, mengurus langsung kebutuhan mereka, karena khawatir kita bakal terpapar virus. Menjaga jarak interaksi menjadi sebuah keharusan.

‘Senjata’ kita hanyalah usaha dan doa. Lagi-lagi, Allah rindu akan doa-doa hamba-Nya yang menjulang ke langit.

Kita sekarang sangat memahami bahwa nikmat sehat adalah nikmat yang tidak terhingga. Kita sekarang mulai bijak menyikapi pandemi dengan lebih berintrospeksi diri untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt., dan tentunya dengan ikhtiar demi menjaga diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita.

Kita memahami hanya dengan menaati protokol kesehatan dan hidup bersih sehat kita bisa meminimalkan penularan Covid-19.. Mengenakan masker salah satunya, sudah sangat membantu dalam memutus rantai penyebaran virus SARS-CoV-2.

Semoga orang-orang tersayang yang sedang sakit disembuhkan dan dipulihkan seperti sedia kala, dan Allah bersihkan serta lenyapkan virus ini dari dunia. Aamiin.

Setan dalam Bahaya

Sebelumnya

Mengenal 11 Astronot Muslim, Tetap Bisa Beribadah Meski Di Ruang Angkasa

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Horizon