post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

ABDURRAHMAN bin Auf namanya. Si tangan emas yang memutuskan untuk hijrah dengan risiko kehilangan kekayaannya di Mekkah. Demi mempertahankan iman di dada, kemilau harta benda itu dilepaskannya, apakah hidupnya jadi terpuruk?

Tunggu dulu!

Kedatangan kaum Muhajirin tidak menjadi beban bagi kaum Anshar yang menyambutnya di Madinah. Mereka itu berhijrah bukan demi ekspor kemiskinan, melainkan demi memperjuangkan kondisi yang lebih baik, untuk dirinya dan lingkungan.

Dengan bijaksana Nabi Muhammad mempersaudarakan setiap Muhajirin dengan Anshar, pendatang dengan pribumi, tetapi mereka dibingkai sebagai saudara seiman. Maka Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’ al-Anshari.

Dan ternyata Sa’ad bin Rabi’ al-Anshari ini berhati permata. Pada buku Mereka Adalah Para Shahabat, Abdurrahman Ra’fat Basya mencantumkan ucapan Sa’ad bin Rabi’ yang spektakuler, “Saudaraku, aku adalah orang yang kaya di Madinah. Aku mempunyai dua kebun dan dua istri.

Lihatlah, manakah dari kedua kebunku itu yang kamu sukai tentu aku akan memberikannya kepadamu. Dan wanita mana dari kedua istriku yang kamu sukai tentu aku mentalaknya agar engkau bisa memperistrinya.”  

Tidak mengandalkan jurus aji mumpung, maka Abdurrahman bin Auf menolak dengan halus. Dari bibirnya yang mulia keluar ucapan yang legendaris, “Semoga Allah memberkahimu pada harta dan keluargamu. Tunjukkan aku pasar!”

Pasar adalah tempat roda perekonomian berputar, tempat kekuatan keuangan bergerak. Nah, tempat macam itulah yang dibutuhkan oleh orang sekaliber Abdurrahman bin Auf. Dia tidak ambil pusing dengan modal, lapak dan tetek bengek lainnya. Cukup baginya mengetahui tentang pasar. Itu saja.

Pasar Madinah yang tersohor itu dikuasai oleh kartel Yahudi, pedagang lainnya hanyalah pelengkap penderita saja. Kartel Yahudi ini yang mempraktikkan manipulasi, kecurangan hingga riba, dan orang-orang tidak berdaya menghadapi dominasi itu.

Abdurrahman bin Auf mengandalkan kejujuran dan kecerdikannya. Dia memulai dari nol dan pantang mneyerah.

Rizem Aizid dalam buku The Great Sahaba menerangkan, dengan modal seadanya, Abdurrahman bin Auf berjualan keju dan minyak samin. Dari usaha itulah, ia berhasil bangkit dan mampu menikah dengan salah satu perempuan Anshar. Sebagai pedagang sukses, Abdurrahman bin Auf terkenal jujur dan amanah. Dia memisahkan antara barang yang baik dan tidak baik.

Misalnya, barang yang kualitas bagus dipisahkan dari barang yang cacat. Ia hanya berpikir dapat menjual barang dengan harga yang sesuai kualitas. Ia tidak menjual barang cacat dengan harga sama dengan barang bagus. Ia menjual barang cacat dengan harga yang jauh lebih murah. Dan, karena sifat jujurnya itu, maka orang-orang yang berbelanja kepadanya merasa puas dan senang.

Akhirnya, Abdurrahman bin Auf bukan hanya menjelma jadi konglomerat muslim yang luar biasa tajir, tetapi juga mampu menyapu bersih dominasi kartel Yahudi yang dulunya menggurita. Rezekinya yang luas menjadi kian berkah, sebab menyelamatkan masyarakat dari praktik-praktik kotor bisnis Yahudi.

Bukan hanya meluaskan rezeki dirinya, Abdurrahman bin Auf juga melakukan terobosan agar hjrahnya itu memberi keberkahan rezeki bagi orang-orang lainnya. Masalahnya ada kartel Yahudi yang amat menggurita, bahkan pasar itu pun milik Yahudi, sehingga masyarakat Madinah dibuat tak berdaya.

Zaim Uchrowi dalam buku Muhammad Sang Teladan mengungkapkan, pasar itu milik seorang Yahudi dengan konsep serupa mal atau hypermart sekarang. Pedagang boleh berjualan di pasar itu dengan menyewa tempat pada pemilik tanah.

Abdurrahman lalu membuat pengumuman bahwa siapa saja boleh berdagang di tanahnya tanpa harus menyewa. Namun bila mendapat untung, pedagang menyisihkan sebagian uang (fee atau bagi hasil) bagi Abdurrahman selaku pemilik tanah. Bila tidak ada keuntungan mereka tak perlu membayar apa pun.

Sontak, hampir semua pedagang pindah ke pasar Abdurrahman bin Auf. Bagi mereka sistem ini lebih adil dan tak merugikan pedagang sama sekali. Maka konsep Abdurrahman bin Auf ini menjadi salah satu rujukan bagi pengembangan sistem ekonomi syariah sekarang.

Ini berkahnya dari hijrah. Abdurrahman bin Auf tidak hanya sukses meraih kejayaan bagi diri sendiri tetapi juga menebarkan keberkahan bagi yang lainnya. Dia amat pemurah dalam berbagi kepada masyarakat. Ah, andai tidak ada hijrah, entah bagaimana jadinya!

Hijrah itu pilihan sang pemberani bak elang yang terbang tinggi di angkasa. Mengapa orang yang hijrah mempu memperbaiki kualitas hidupnya? Karena mereka tidak punya pilihan lain kecuali berjuang keras. Tidak ada alasan untuk bermalas-malasan sebab tidak ada lagi tempat bergantung.

Maka orang yang hijrah itu dibukakan daya nalarnya oleh Tuhan, hingga mampu menangkap peluang-peluang yang akan meningkatkan kualitas dirinya. Sebagaimana yang dialami oleh Abdurrahman bin Auf, rezeki yang teramat luas ini terbentang bagi mereka yang berani hijrah.

Namun tidak tiba-tiba saja rezeki itu terbentang, di dunia ini berlaku hukum sebab akibat; sebab kita berusahalah maka hasilnya dapat dituai. Rezeki itu sebanding dengan apa yang kita perjuangkan.

Mari balik lagi kepada makna hijrah!

Sesungguhnya hijrah itu bukan hanya perkara berpindah tempat saja. Banyak mahkluk mampu pindah dari satu posisi ke posisi lain, tetapi tidak semuanya mampu berpindah keadaannya atau merubah nasibnya.

Oleh sebab itu, hijrah itu lebih kepada hijrahnya konsep pemikiran, hijrahnya konsep hidup, hijrahnya cara pandang, hijrahnya kematangan diri, yang semuanya itu menuju kepada kondisi yang lebih baik.

Jangan Pernah Menyerah, Ada Hikmah di Balik Musibah

Sebelumnya

Mendadak Yatim

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Farah Islam