post image
Nadiya Hussain bersama Ratu Elizabeth/Net
KOMENTAR

Nadia lantas mengingat mereka menonton musim pertama Bake Off dan sangat menyukainya. Ia memperhatikan teknik memanggang dan mulai akrab dengan istilah-istilah baking. "Abdal menonton setiap episode sambil berteriak 'Nadiya, kamu bisa melakukan itu!' Tapi saya tidak menghiraukannya."

Hingga suatu hari sang suami memperlihatkan formulir untuk mengikuti Bake Off musim ke-6. Setelah menyelesaikan kegiatan sekolah anak-anak, menyiapkan makan malam, mandi, dan menyetrika, Nadia memandang suaminya sambil berkata, "Tidak mau!"

Menurut Nadiya, sepanjang 20 tahun ia mengalami gangguan panik, sang suami adalah satu-satunya orang yang menyaksikan titik terendah dalam hidupnya. Abdal adalah orang yang selalu menyemangatinya ketika Nadiya berpikir bahwa ia gagal. "Sayap-sayapmu mungkin telah patah sepanjang perjalanan, namun aku pikir ini saatnya kamu untuk terbang tinggi," ujar Abdal antusias pada istrinya.

Akhirnya Nadiya mendaftar ke Bake Off musim-6 karena menurutnya Abdal benar. Ia telah kehilangan dirinya di tengah hiruk-pikuk kehidupan. "Saya adalah seorang anak, seorang kakak, seorang istri, juga seorang ibu. Tapi saya belum juga menemukan siapa diri saya sesungguhnya," ungkap Nadiya.

Mengikuti Bake Off menjadi pengalaman pertamanya pergi seorang diri. Perjalanan dengan taksi, kereta, dan subway, serta untuk pertama kalinya meninggalkan suami dan anak-anaknya. Kecemasannya memuncak dan ia tak bisa menahan airmatanya.

Setiap minggu kompetisi, Nadiya berpikir bahwa dialah yang akan tereliminasi. Hingga tanpa terasa ia maju sampai ke final. Saat itu ia merasa tidak lagi memerlukan kemenangan untuk menemukan siapa dirinya, karena ia sudah mampu mengalahkan berbagai ketakutan dalam hidupnya.

Maka ketika diumumkan menjadi pemenang musim ke-6, semua tampak tak nyata bagi Nadiya. Ia bahkan sempat mengembalikan piala kepada Paul Hollywood (salah satu juri) sambil bertanya apakah dewan juri yakin tidak membuat kesalahan (dengan memilihnya).

Dan ya, hidupnya berubah drastis semenjak itu. Nadiya menjadi sangat sibuk. Ia merasa dirinya adalah stay at home mom dengan bonus melakukan pekerjaan terhebat yang ia sukai. Menjalani mimpi, itulah yang dilakukan Nadiya. Tak ada lagi kepanikan yang berpuluh tahun menghantui hidupnya.

Tak hanya memasak, ia pun menulis. Buku pertamanya, Nadiya's Kitchen adalah buku memasak untuk anak-anak. Ia menulis kolom mingguan untuk The Times. Ia juga menjadi juri di kompetisi Junior Bake Off dan memiliki acara memasak sendiri.

"Siapa menyangka? Yang saya tahu, saya sangat bersyukur untuk semua kesempatan dan petualangan dalam kehidupan saya. Saya ingin melakukannya seumur hidup. Dan setiap hari saya melakukannya dengan giat, penuh energi, dan penuh cinta, seolah itu adalah yang terakhir," tulis Nadiya dalam NadiyaHussain.com.




Bukan Perempuan 'Biasa', Inilah Sosok Erina Gudono Sang Calon Mantu Presiden Jokowi

Sebelumnya

Membanggakan, Perempuan Muslim Berdarah Palestina Ini Jadi yang Pertama Duduki Kursi Parlemen Georgia

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Women