post image
Ilustrasi pengguna masker/ Net
KOMENTAR

HIMBAUAN untuk #upgrademaskermu belakangan ini gencar dilakukan. Hal tersebut didasarkan varian Delta yang dapat menular begitu cepatnya.

Masyarakat pun diarahkan untuk menggunakan masker dobel, yaitu memakai masker disposable di dalam dan ditutup dengan masker kain 3 lapis.

Kebutuhan akan masker disposable yang terus meningkat membuat sejumlah oknum berupaya untuk mencari keuntungan. Caranya, dengan menjual masker palsu yang tidak memiliki efektivitas terhadap pencegahan virus.

Sebenarnya, ada cara mudah yang bisa dilakukan untuk memeriksa keaslian sebuah masker medis. Yaitu, dengan memeriksakan merk masker ke website infoalkes.kemkes.go.id.

Tapi, ada cara lain yang lebih efektif untuk mengetahui apakah masker tersebut (utamanya disposable mask) asli atau tidak.

1. Masker Disposable

Ada beberapa uji visual yang bisa dilakukan:

• Sobek bagian sisi masker medis. Masker media yang asli terdiri dari 3 lapis, dengan lapisan tengah seperti tisu yang bersifat elektrostatis. Sedangkan yang palsu, bagian tengahnya terbuat dari kertas.

• Lakukan uji air. Masker medis harusnya waterproof atau tahan air, karena harus menahan percikan droplet dari si pemakai. Jadi, saat dilakukan uji air, maka masker yang asli dapat menahan air tidak jatuh (tidak bocor).

• Lakukan pula uji api. Masker medis yang asli jika dibakar akan meleleh dan tidak gosong. Jika gosong, sudah dipastikan bahwa masker tersebut palsu karena lapisan tengahnya berupa kertas.

• Uji tiup. Letakkan lilin sejajar dengan mulut. Jika kita meniup lilin tersebut dengan memakai masker medis asli, maka api lilin tidak akan mudah padam karena filtrasinya yang baik.

2. Masker KN95/KF94

Untuk masker/respirator dengan model KN95 atau KF94, bisa melakukan pengecekan izin edarnya di Kemenkes. Atau, belilah merek yang terpercaya di agen maupun tempat-tempat resmi.

"Gunakan masker KN95 atau KF94 yang sudah memiliki sertifikasi. Jangan hanya melihat dari bentuknya saja, kotak-kotak, karena bisa jadi itu hanya masker medis biasa," pesan dr RA Adaninggar, SpPD dalam akun Instagramnya.

 

Cukup Sekali Saja, Vaksin Jhonson & Jhonson untuk Siapa?

Sebelumnya

Sebuah Cara Mengenal Penutup Kepala Perempuan Nusantara

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel News