Jaya Suprana/Net
Jaya Suprana/Net
KOMENTAR

SEMULA saya sangat tidak suka rasa sakit, maka sempat berdoa memohon Yang Maha Kuasa menghilangkan rasa sakit dari daftar perasaan yang saya miliki. Bagi saya rasa sakit adalah kutukan.

Anugrah

Lambat namun pasti saya tersadar bahwa saya keliru. Rasa sakit sebenarnya merupakan anugrah Yang Maha Kuasa agar manusia termasuk saya sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada tubuh mau pun jiwa saya.

Bola mata saya terasa sakit apabila debu masuk ke dalam kelopak mata saya demi menyadarkan saya untuk berusaha membersihkan mata saya dari debu.

Apabila saya makan sesuatu makanan yang menimbulkan rasa sakit pada lambung saya, maka disadarkan oleh rasa sakit bahwa terjadi sesuatu proses di dalam sistem pencernaan saya yang tidak wajar maka bisa merusak isi perut saya.

Akibat rasa sakit mencengkeram empedu saya berarti empedu saya mengalami infeksi yang harus segera diobati atau bahkan dioperasi.

Tanpa rasa sakit maka semua penderita radang usus buntu mati karena tidak sadar bahwa usus meradang dan potensial berakibat fatal.

Ketika menyaksikan penderitaan rakyat miskin digusur atas nama pembangunan yang seyogianya bukan menyengsarakan namun menyejahterakan rakyat, maka hati saya terasa sakit akibat menyaksikan sebuah pelanggaran hak asasi manusia yang tidak sesuai dengan sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

Pendek kata rasa sakit merupakan anugrah Yang Maha Kuasa kepada manusia termasuk saya agar bisa tersadarkan apabila kebetulan organ tubuh saya terganggu fungsinya maka mengancam kesehatan bahkan nyawa saya.

American Medical Association

Namun tampaknya dewan pengurus lembaga kesehatan nasional Amerika Serikat, American Medical Association masa kini tidak sependapat dengan saya mau pun dewan pengurus AMA masa sebelumnya.

Dewan Pengurus AMA masa kini menghendaki bahwa rasa sakit sebagai “fifth vital sign” dihapus dari standard medical yang berlaku di Amerika Serikat.

Gerakan anti rasa sakit sebagai sinyal vital ke lima berdasar gejala para dokter di Amerika Serikat sangat mengutamakan upaya menghindari bahkan melenyapkan rasa sakit dengan terapi dan obat-obatan farmasi kategori pain killer yang makin merajelala menguasai pasar obat-obatan di Amerika Serikat.

Jika kekuatiran itu benar adanya maka ibarat jangan cermin dipecah akibat buruk muka sendiri adalah lebih bijak ketimbang menghapus standard rasa sakit sebagai sinyal ke lima adalah memperbaiki sikap dan perilaku para dokter yang gemar menulis resep obat kategori pain killer agar masyarakat jangan membabibutatuli menggunakan obat pemati rasa sakit.




Viral, Seorang Terapis Diduga Lakukan Kekerasan kepada Anak Penyandang Autisme

Sebelumnya

Menggratiskan Tes PCR Pasti Mampu Jika Mau

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana