post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

ALANGKAH kecewanya Nabi Ayyub terhadap kelakuan istrinya. Kecewa yang tentunya amat manusiawi, maksudnya, siapapun yang mengalaminya toh akan kecewa juga. Ketika dirinya terkapar sakit parah, dengan kulit bernanah plus aroma busuk, eh istri malah pergi meninggalkannya.

Kepergian istri ibarat memadamkan api kehidupannya yang sebetulnya telah redup, karena Nabi Ayyub terasing di tempat terpencil. Berhubung penyakit yang amat menjijikkan itu, masyarakat mengucilkan dirinya, lalu terasing di sebuah gubuk, jauh dari perkampungan. Saat dirinya terkapar tiada daya, hanya istri yang melayani kebutuhannya. Akan tetapi tipu muslihat setan memang lebih dahsyat, kini istri tercinta pun pergi bersama angin.

Tidakkah perempuan itu ingat masa-masa kaya raya dahulu? Apakah ia lupa istana megah dan kenikmatan berlimpah yang pernah dicicipinya? Saat kali ini cobaan menghantam, mengapa dirinya pergi tertelan hasutan setan? Mengapa kau tega?

Kekecewaannya teramat pekat, bahkan Nabi Ayyub bersumpah, kelak dirinya akan memukul istrinya 100 kali. Ini sumpah, lho!

Ternyata tidak lama juga istrinya itu dipecundangi hasutan setan. Dia pun menyadari kekeliruannya yang fatal. Ia dapat merasakan betapa perih kekecewaan suaminya. Dan atas kesadaran sendiri nan tulus, perempuan itu pun kembali ke gubuk.

Tetapi ia tak lagi mendapati pria berkulit busuk bernanah. Ada sih orang di sana, tetapi lelaki yang ganteng, bersih dan menawan. Hampir dirinya tidak mengenali, tapi setelah dipandang-pandang lelaki rupawan itu tak lain adalah suaminya. Dengan jalan mukjizat, Allah telah menyembuhkan Nabi Ayyub. Istrinya bersyukur, dan meminta maaf atas kekhilafannya.

Meski pun telah melakukan sesuatu yang tidaklah pantas, Nabi Ayyub memahami kekhilafan yang cukup manusiawi istrinya tersebut. Nabi Ayyub pun menerima kembali, karena istrinya telah insyaf. Lagi pula, di masa-masa sakit parah, istrinya yang tabah merawatnya, mengurusi kebutuhannya, melayani dengan telaten, bahkan konon sampai menjual rambut panjang indahnya demi beberapa potong roti.

Alhasil, kecewa itu telah sirna berganti dengan berseminya cinta. Toh, sedari dulu sebagai suami istri mereka pernah saling cinta, jadi tidaklah sukar bila kini keduanya masuk lagi ke episode; mengulang sayang. Akan tetapi masalah tidak kelar begitu saja!

Masalahnya, Nabi Ayyub teringat dengan sumpahnya, akan memukul seratus kali. Bagaimana mungkin dia akan menunaikan sumpah itu, selain tentunya tak tega, sebelum pukulan ke 100 istrinya bisa meregang nyawa. Tetapi, sumpah pada Tuhan tak boleh diingkari.

Ibnu Katsir menerangkan pada Kisah Para Nabi, bahwa Allah memerintahkan Ayyub agar mengambil seikat rumput untuk digunakan memukul istrinya dengan sakali pukulan. Hal itu sudah dianggap setara dengan seratus kali pukulan. Hal itu berkaitan dengan sosok istri Ayyub yang dikenal sangat tabah dan sabar dalam menjaga dan melayani suaminya selama sakit. Oleh sebab itu, Allah memberinya rukhshah (keringanan) hukuman seperti itu terhadap istri Ayyub.

Hal ini dinyatakan pada Qs. Shad ayat 44, yang artinya, “Dan ambillah seikat (rumput) dengan tanganmu, lalu pukullah dengan itu dan janganlah engkau melanggar sumpah.”

Sekalipun telah diberi rukhshah atau hukuman yang ringan, pukulan dengan rumput tidaklah menyakitkan badan, tetapi sudah cukup untuk menggentarkan hati, cukup sebagai pelajaran berharga agar dirinya tidak lagi dipecundangi hasutan setan.

Menilik dari kisah romantis itu dapat dipetik hikmah, bahwa suami kecewa pada istri atau sebaliknya itu kejadian biasa saja. Seorang nabi saja bisa kecewa, apalagi kita manusia biasa ini. Asal perasaan tak nyaman itu tidak diperturutkan atau terlalu sering ya!

Berikut ini adalah beberapa sikap bijaksana yang akan membantu kita menata rasa kecewa:

Pertama, kendalikan kecewa dalam tataran adil.

Bukan poligami saja lho yang perlu adil, dalam menata hati keadilan amatlah menentukan. Jangan sedikit masalah tiba-tiba saja langsung kecewa yang penuh drama. Bayangkan, seorang suami yang ngambek, gara-gara kecewa ia pun kabur ke rumah ibunya. Masalahnya, sang istri membuatkan teh yang kurang manis.

Kecewa sih memang manusiawi, tetapi untuk urusan macam ini dia pakai aksi kecewa yang dramatis sampai mengadu ke pangkuan ibunda, ini jelas kecewa yang tidak adil. Hindarilah menyia-nyiakan nikmat hidup yang indah ini, bila hanya mengisinya dengan rangkaian kekecewaan yang tak bermutu.

Kecewa macam ini menyakiti istri, bahkan mempermalukan dirinya yang memikul aib tatkala menjemput suami ngambek ke rumah mertua. Silahkan buat sendiri teh, agar tidak perlu kecewa, dengan manisnya yang sesuai dengan selera. Jadi kalau memang merasa perlu kecewa, carilah perkara yang berkualitas dan yang adil tanpa memangkas hak-hak pasangan.

Kedua, nothing is perfect, but you can make it better.

Betapa ringannya lidah seseorang berkata pada pasangannya, “Jangan pernah membuatku kecewa!”

Alangkah beratnya tuntutan macam itu, nyaris mustahil dikabulkan oleh manusia suci sekalipun. Karena kecewa itu kondisi yang amat personal, tegasnya, mau kecewa atau tidak itu amat bergantung pada kemampuan diri sendiri dalam menata hati. Jangan sampai kalimat itu justru menjerumuskan diri kita ke dalam jurang ego yang curam.

Ingat, bukan hanya diri kita yang punya hati dan ampela, orang lain juga, pasangan kita apalagi. Mereka dapat pula merasakan sakitnya dikecewakan.

Ketiga, pahami kecewa sebagai kekayaan psikologis.

Hartono menerangkan pada buku Psikologi Konseling, bahwa kecewa (disappointed problem) merupakan bentuk gangguan emosi yang ditimbulkan oleh ketidakserasian antara apa yang diinginkan dan kenyataan yang terjadi. Kekecewaan berlarut-larut tanpa penyelesaian dapat menimbulkan kompleks terdesak yang dapat mengakibatkan kegelisahan, frustasi, salah ambil, salah ucap, dan mimpi sesuatu sebagai wujud adanya keinginan yang tidak terpenuhi.  

Close X

Perempuan, Lebaran, dan 3 Jalan Memaknai Fitri di Tengah Pandemi

Sebelumnya

Sudahkah Kita Kembali ke Fitrah?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Islam