post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

JANGANLAH sampai terjadi hattrick (tiga kali beruntun), karena dua aksi terorisme belakangan ini terasa begitu menyeramkan. Bukan perkara berapa jumlah korban yang jatuh, tetapi keterlibatan perempuan dalam kekerasan telah membuat bulu kuduk merinding.

Biasanya perempuan yang ditakut-takuti, kini malah mereka menyebarkan ketakutan. Lazimnya, perempuan yang menjadi korban kekerasan, kini malah ambil bagian sebagai pelakunya.

Di mana kelembutan hatinya? Kemana raibnya intuisi femininisme itu? Bagaimana bisa ideologi kekerasan itu merasuki makhluk Tuhan yang paling cantik?

Dan yang semakin sulit dinalar, bagaimana bisa salah seorang pelaku aksi teror yang berujung kematian dirinya itu tengah hamil empat bulan. Entah apa yang merasukimu?

Orang itu dibuai ajaran kebencian hingga membuat gelap mata, lalu janji surga ditempuhnya dengan jalan kebinasaan. Di antara perempuan itu ikut menebar teror demi menaati suaminya; jangankan ke surga, bahkan ke neraka pun turut. Aksi ini dibingkai dengan janji surga, plus bingkai kewajiban taat pada suami. Dan jabang bayi itu dalam kandungannya pun turut menjadi korban. Tragis!

Betapa orang-orang tidak kebingungan, ada kejadian yang tak kalah miris, setelah ditangkap, istri dari pelaku teror malah mengamuk. Pasalnya, mengapa dirinya tidak ditembak mati saja, biar masuk surga bareng suami.
 
Surga yang mana sih membuka pintunya untuk pelaku kejahatan?

Tak jarang pelaku aksi teror ini menjelma sebagai lone wolf, yang bernyali tinggi melakukan aksi seram sendirian. Buktinya, aksi belakangan lebih bernyali lagi, karena berani menebar teror di markas aparat.

Pelakunya masih jomblo, generasi milenial, tapi menjelma bak srigala. Mbak cantik ini terang-terangan mencari jalan cepat kematian, karena diiming-imingi mimpi palsu surgawi. Entah mengapa generasi milenial mulai kehilangan daya kritisnya.  

Terorisme itu tidak ada hubungannya dengan agama mana pun juga, apalagi Islam. Tidak ada tuh ayat atau hadis yang menunjuki jalan menuju surga dengan syarat melakukan aksi terorisme. Bahkan dalam perang pun Islam melindungi hak-hak kemanusiaan pihak musuh, dan memberi hak hidup bagi para tawanan. Itu dalam perang lho, apalagi dalam masa-masa damai.

Sayangnya, hampir semua agama ternoda citranya gara-gara aksi terorisme penganutnya yang tega membawa-bawa nama Tuhan pula.

Bagaimana akar sengkarut masalahnya?

Ada semboyan kaum pembaru, “Agama hanya diyakini oleh orang yang berakal; tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal.” (Nourouzzaman Shiddiqi dalam buku Fiqh Indonesia: Penggagas dan Gagasannya)

Nah, beragama tanpa berakal yang sehat, hanya akan melahirkan fanatisme buta, lalu ketika dirasuki ideologi kekerasan, ujungnya malah menjadi aksi terorisme, alias makin jauh dari nilai kebenaran agama itu sendiri.

Peran akal itulah yang berulang-ulang kali diingatkan oleh agama Islam, yang tercantum di berbagai ayat-ayat suci Alquran. Di antaranya, ada redaksi afala ta’qilun (tidakkah kalian berpikir)? Afala tatafakarun  (apakah engkau tidak memikirkan)? Dan juga, afalaa tadabbarun (apakah engkau tidak mengambil pelajaran)?

Muhammad At-Tijani As-Samawi dalam buku Tidakkah Kamu Berpikir menerangkan, Allah mengulang-ulang firman-Nya: afala ta'qilun,-tidakkah kalian berpikir? sampai 13 kali dalam Kitab-Nya yang mulia untuk mendorong manusia setiap saat menggunakan akal-pikirannya dan tidak menyia-nyiakan nikmat terbesar ini yang dikaruniakan-Nya kepada hamba-hamba-Nya.

Allah Swt. sudah menetapkan siksaan yang pedih dan neraka Jahanam bagi setiap orang yang menyia-nyiakan akalnya dan bertindak seperti binatang buas. Ini berarti bahwa jika mereka berpikir maka itu berarti mereka menyelamatkan diri mereka sendiri dari siksaan di neraka Jahim, dan mereka termasuk penghuni surga.

Akal sehat adalah yang berfungsi normal akan mampu kritis terhadap apapun. Termasuk dalam menolak ajakan melakukan aksi terorisme, yang logika mana pun tidak akan dapat menerimanya. Tidak ada jalan surgawi dengan cara mencelakai apalagi merampas hak hidup orang lain.

Begitulah bahayanya beragama tanpa dipayungi akal sehat, penyimpangannya menimbulkan kebinasaan. Oleh sebab itu, bukan agamanya yang salah, melainkan ideologi kekerasan itulah yang sepatutnya ditolak. Caranya gampang, jauhi fanatisme dan optimalkan peran akal sehat.
 
Sekilas perempuan-perempuan itu terlihat sebagai pelaku terorisme. Sejatinya, mereka adalah korban. Perempuan menjadi korban di atas ketidakberdayaan mereka membuat pilihan hidup, ketidakberdayaan membebaskan diri dari cengkraman ideologi kekerasan, dan ketidakberdayaan memfungsikan nalar sehatnya.

 

 

Close X

Kabsyah Binti Rafi; Rumahnya Bermandikan Cahaya

Sebelumnya

Istimewanya 10 Hari Pertama Ramadhan yang Tak Boleh Dilewatkan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Islam