post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

PERSOALAN demi persoalan bermunculan selama pandemi Covid-19 ini. Tak hanya masalah kesehatan, pandemi juga mengubah seluruh sendi kehidupan manusia, mulai dari perekonomian, hingga psikologis seseorang.

Dalam hal ini, tidak hanya tenaga medis yang menjadi garda terdepan, para ibu pun memiliki fungsi yang tidak kalah pentingnya. Juga menjadi garda terdepan keluarga, yang harus menjaga mental anggota keluarga agar tetap survive menghadapi segala perubahan.

"Ibu adalah garda terdepan keluarga. Baik buruknya keluarga, jatuh bangunnya keluarga, kuncinya terletak pada ibu. Kalau mental ibu tidak sehat, bisa menularkan ke anak dan suami," begitu kata Irma Gustiana, M.Psi, Psi, seorang psikolog, dalam ZoomTalk Farah.id, Rabu (7/10).

Membangun ketahanan mental keluarga menjadi tugas utama ibu, tidak hanya saat pandemi seperti sekarang. Untuk memulainya, kesiapan ibu harus diperhatikan betul. Jangan sampai saat memulai hari, ibu belum siap namun sudah harus mengerjakan semua tugas.

"Di mulai dengan kesiapan ibu. Kalau ibu belum siap, jangan memegang anak atau pekerjaan lainnya. Jika dirasa sudah mampu, mulailah membuat kesepakatan dengan anak dan suami. Semua anggota keluarga harus bisa saling menyesuaikan diri dan menyamakan persepsi tentang situasi yang tengah terjadi," ujar founder ruangtumbuh.id ini.

Selanjutnya, orangtua harus bisa memberikan edukasi kepada anak, bahwa situasi di rumah sudah berubah. Ajarkan anak tentang protokol kesehatan yang benar dan sadarkan anak bahwa perekonomian keluarga tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja (delay of gratification atau menunda kepuasan demi sesuatu yang lebih baik).

"Mulai beri pengertian kepada anak bahwa uang jajannya saat ini hanya berapa rupiah. Atau, beri pengertian kepada mereka bahwa tidak perlu takut menghadapi pandemi, karena dengan menjalankan protokol kesehatan yang benar, maka semua akan aman-aman saja. Cari situasi yang tenang, tidak emosional, untuk memberikan edukasi tersebut," papar Irma.

Setelah kesepakatan dibuat, jalankan dengan baik dan sisihkan waktu ibu untuk beristirahat, minimal 30 menit. Gunakan waktu tersebut secara maksimal. Rebahkan diri, tarik napas panjang dan hembuskan perlahan. Lakukan terus menerus hingga ibu siap untuk kembali ke "medan pertempuran".

"Ketika mama sedang "burn out" atau mulai penat dan tidak bisa menerima keadaan, tarik napas panjang. Sebenarnya itu saja sudah cukup. Yang terpenting, beri waktu untuk tubuh dan otak beristirahat. Tidak perlu lama-lama, tapi yang terpenting adalah kualitasnya. Nah, dengan begitu, ketahanan mental keluarga akan terbangun dan hal-hal buruk yang bisa saja berujung pada perceraian orangtua, dapat dihindari," demikian Irma. (F)

 

Close X

Dua Pilihan Libur Panjang Aman Bareng Jubir Cantik dr Reisa Broto

Sebelumnya

5 Tips Anak Hafal Quran Ala Bunda Wirianingsih, Ibu 11 Anak Hafidzul Quran

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Family