post image
Ilustrasi salat berjamaah/ Net
KOMENTAR

SUDAH harmoniskah hubungan kita dengan salat?

Karena tidak banyak dari kita menyadari bahwa salat ibarat timbangan, banyak dari kita mencurangi salat tanpa memahami akibatnya..

Kesibukan yang menyita waktu kerap menjauhkan kita dari kesempurnaan pahala salat. Entah mengapa, menatap layar laptop atau telepon seluler seolah candu. Sulit untuk berpaling. Sebaliknya, menatap lembaran qur’an dan sajadah segera mendatangkan gelisah.

Imam Abdullah Al Mubarak dalam kitab Az-Zuhud menukil perkatakaan sahabat Nabi penggagas parit dalam perang Khandaq, Salman Al Farisi, “Salat adalah takaran (timbangan), siapa yang menunaikan salat dengan sempurna, diberikan pahala dengan sempurna, siapa yang mengurangi salat, engkau telah mengetahui apa yang Allah katakan dalam surah Al-Muthafiffin.”

Bagaimana seseorang mencurangi salatnya?

Ustaz Ahmad Zainuddin, Lc. menjelaskan bahwa ada 4 hal yang didefinisikan sebagai “mencurangi” salat.

Pertama, melalaikan salat dengan mengerjakan salat pada waktu tertentu tapi meninggalkannya di waktu yang lain.
Kedua, mengerjakan salat di luar waktunya tanpa alasan syar’i.
Ketiga, mengerjakan salat di akhir waktu.
Keempat, tidak mengerjakan salat sama sekali.

Salman Al Farisi menyamakan orang yang mencurangi salat layaknya orang yang mencurangi timbangan dalam surah Al-Muthafiffin. Dalam surah ke-83 dalam Al-Qur’an tersebut, Allah mengancam penjual yang mengurangi timbangan dan pembeli yang meminta tambahan timbangan dengan wail.

Sebagian ulama mengartikan wail sebagai lembah dalam neraka jahanam yang sangat dalam dan berbau busuk. Sedangkan sebagian ulama lain mengartikan wail sebagai lembah dalam neraka jahanam yang berisi darah dan nanah.

Maka salat ibarat takaran keimanan kita. Ketika kita mendirikan salat dengan sempurna, maka pahala Allah akan sempurna. Dan jika selalu berusaha mengurangi takaran salat kita, tak hanya pahala yang berkurang tapi juga neraka wail menanti kita. Naudzubillah.

Saat ini kita sudah merasakan bagaimana Allah membalikkan tatanan kehidupan manusia di muka bumi. Semua yang semula asing menjadi akrab. Semua yang semula dekat dengan keseharian menjadi tak mungkin dilakukan. Kun fayakun. Masihkah kita memilih untuk hidup seperti dulu, kerap melalaikan salat? Masihkah prioritas hidup kita hanya seputar pekerjaan?

Mari kembali pada hakikat azan pada zaman Rasulullah; panggilan untuk bersegera pergi ke masjid untuk menunaikan salat.

Ketika kita mendengar azan, kita meninggalkan apa yang sedang kita ketik, apa yang kita obrolkan, apa yang kita baca, apa yang kita masak, apa yang kita bersihkan, apa yang kita rapatkan.

Menepilah sejenak untuk menegakkan tiang agama. Berpuaslah untuk menghamba, memohon, dan menyerahkan segala urusan kepada Sang Maha Menguasai.

Yakinlah, selepas kita salat, hati akan terasa lebih tenang dan otak lebih jernih untuk berpikir. Dengan timbangan salat yang sempurna, insya Allah semua urusan kita akan diridhai Allah Swt. (F)

 

 

Close X

7 Adab Bangun Tidur Sesuai Sunnah Rasulullah SAW

Sebelumnya

Biar Saya Yang Bayar!

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Islam