post image
Jaya Suprana/Net
KOMENTAR

MESKI maknanya masih diperdebatkan, namun eudaimonialogi dapat dianggap sebagai satu di antara sekian banyak ikhtiar pemikiran manusia dalam berupaya mempelajari perasaan yang disebut sebagai bahagia.

Berdasar beberapa hasil telaah eudaimonialogis dapat disimpulkan bahwa mensyukuri apa yang sudah dimiliki berperan penting bagi manusia dalam mencari kebahagiaan.

Hewan Ternak

Alkisah seorang petani merasa tidak bahagia maka menghadap ke seorang begawan tersohor arif bijaksana untuk mohon petunjuk agar bisa merasa bahagia.

Sang begawan bertanya apakah sang petani memiliki hewan ternak. Sang petani menjawab bahwa dia punya selusin ayam, sepuluh bebek, delapan kambing, enam sapi dan empat kerbau. Sang begawan lanjut bertanya di mana para hewan ternak itu berada pada malam hari.

Sang petani menjawab bahwa pada malam hari semua hewan ternak senantiasa berada di dalam kandang. Sang begawan bersabda bahwa apabila sang petani benar-benar ingin merasa bahagia maka apabila malam hari tiba sebaiknya sang petani memindah segenap hewan ternaknya dari kandang ke dalam rumah sang petani.

Dengan penuh harapan bisa merasa bahagia sang petani bergegas pulang lalu pada malam hari memindah selusin ayam, sepuluh bebek, delapan kambing, enam sapi dan empat kerbau dari kandang ke dalam rumah untuk tidur bersama sang petani beserta isteri dan enam anak-anaknya.

Tidak Bahagia

Berselang seminggu kemudian, sang petani datang kembali ke sang begawan sambil marah-marah sebab sama sekali tidak merasa bahagia meski sudah mematuhi seluruh petunjuk sang begawan.

Sang begawan bertanya kenapa sang petani tidak merasa bahagia. Sang petani bertanya balik ke sang begawan tentang bagaimana mungkin dia bisa merasa bahagia sebab setiap malam harus tidur bersama selusin ayam, sepuluh bebek, delapan kambing, enam sapi dan empat kerbau lengkap dengan air seni dan tinja mereka  yang tentu saja membuat ruang dalam rumah berbau busuk secara paripurna dan sempurna.
 
Bahagia


Sang begawan bersabda agar sang petani segera kembali ke rumahnya untuk mengeluarkan selusin ekor ayam, sepuluhbebek, delapan kambing, enam sapi dan empat kerbau dari dalam rumah agar setiap malam kembali berada di dalam kandang masing-masing.

Sambil tetap mengomel, sang petani segera pulang ke rumahnya demi mematuhi instruksi sang begawan mengeluarkan segenap hewan ternak dari dalam rumahnya untuk kembali setiap malam berada di dalam kandang masing-masing.

Sejak itu, sang petani tidak pernah kembali menemui sang begawan sebab sudah berhasil hidup bahagia bersama isteri dan anak-anaknya .

Eudaimonialogi

Buku saya berjudul “Pedoman Menuju Tidak Bahagia” memuat kisah petani mencari kebahagiaan tersebut sebagai telaah eudaimonialogis demi menyadarkan kita semua bahwa pada hakikatnya apa yang disebut sebagai bahagia bukan merupakan suatu bentuk perasaan berdasar tafsir yang senantiasa siap hadir apabila kita mau dan mampu  mensyukuri apa yang bukan belum namun sudah kita miliki.

Jika ingin merasa “tidak” bahagia, maka caranya mudah saja yaitu serta merta dengan sendirinya “jangan” sekali-kali mensyukuri apa yang sudah kita miliki.(F)

Penulis pembelajar eudiamonialogi dan penyusun buku “Pedoman Menuju Tidak Bahagia

Anugrah Humor Paling Ambyar

Sebelumnya

Sewu Kutho

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Jayasupranalogi