post image
KOMENTAR

DI dunia terdapat berbagai kelompok masyarakat yang masing-masing memiliki latar belakang peradaban dan kebudayaan saling beda satu dengan lainnya. Namun pada hakikatnya kesemuanya yang saling beda itu bersatu dalam upaya mencari makna kehidupan. Maka masing-masing kelompok masyarakat memiliki Kisah Penciptaan yang saling beda satu dengan lainnya.

Kisah Penciptaan
Masyarakat Yunani Kuno meyakini kisah penciptaan versi Hesiodus bahwa dewa Quranos dan dewi Gaia melahirkan kaum Titan, Hecatoncheires, Erynes, Afrodit, dan para dewa-dewi mitologi Yunani temasuk Jupiter.

Masyarakat Norsa di kawasan Skandinavia memiliki kisah penciptaan yang tersurat di dalam karya Prosa Edda gubahan Snorri Sturluson bahwa Bapak Alam Semesta adalah Ymir.

Masyarakat Mesir Kuno berkisah penciptaan bahwa pada awalnya hanya ada samudera primal Nun  alias Ketidakadaan. Atum bangkit dari Nun  kemudian dari tubuhnya sendiri melahirkan para dewa mitologi Mesir mulai dari Shu, Tefnut, kemudian Hathor yang dari air matanya lahirlah manusia.

Masyarakat Tahiti percaya bahwa semula alam semesta adalah kulit kerang berbentuk seperti telur. Di dalam telur itu hadir Ta’aroa yang tidak punya ayah dan ibu namun kemudian menjadi pencipta segenap mahluk hidup di planet bumi.

Masyarakat Minahasa memiliki kisah tentang Toar dan Lumimuut yang digambarkan sebagai nenek moyang mereka.

Suku Lakota di Amerika percaya bahwa sebelum bumi diciptakan, dewa-dewa tinggal di surga sementara manusia hidup di dunia bawah yang tidak punya peradaban.

Tafsir
Masyarakat Mande di Mali selatan percaya bahwa pada mulanya hanya ada Mangala sebagai makhluk tunggal yang kuat dan dahsyat. Di dalam Mangala terdapat empat bagian, yang antara lain melambangkan empat hari dalam satu minggu, empat unsur alam, dan empat arah (ruang).

Mangala juga mengandung dua pasang kembar yang berjenis kelamin ganda. Mangala bosan menyimpan semua unsur ini di dalam dirinya, maka mengeluarkannya dan membentuknya menjadi sebuah benih. Benih inilah yang menjadi penciptaan dunia ini.

Menurut kosmologi Hindu, alam semesta terbentuk secara bertahap dan berevolusi. Penciptaan alam semesta dalam kitab Upanisad diuraikan seperti laba-laba memintal benangnya tahap demi tahap.

Demikian pula dewa Brahma menciptakan alam semesta tahap demi tahap dengan bertapa yang memancarkan enerji panas. Menurut kitab Purana, pada awal proses penciptaan, terbentuklah Brahmanda.

Pada awal proses penciptaan juga terbentuk Purusa dan Prakerti. Kedua kekuatan ini bertemu sehingga terciptalah alam semesta.

Mohon dimaafkan jika akibat kedangkalan wawasan pemikiran dan pengetahuan maka saya keliru dalam menafsirkan beraneka-ragam Kisah Penciptaan  

Bhinneka Tunggal Ika
Fakta kultural-antropologis membuktikan bahwa umat manusia terdiri dari beraneka-ragam (Bhinneka) masyarakat yang masing-masing memiliki latar belakang peradaban dan kebudayaan saling beda satu dengan lainnya.

Namun secara spiritual, segenap masyarakat bersatupadu (Tunggal Ika) dalam upaya mencari makna kehidupan dengan segala aspeknya. Mulai dari kesehatan, kesejahteraan, kebahagiaan sampai ke kisah penciptaan alam semesta beserta segenap mahluk hidup di dalamnya.

Akibat saling berbeda latar belakang lingkungan peradaban dan kebudayaan mau pun alam maka para Kisah Penciptaan juga saling berbeda satu dengan lain-lainnya.

Selaras mashab keyakinan 'Agamamu Agamamu, Agamaku Agamaku' maka InshaAllah segenap pihak  berkeyakinan Kisah Penciptaanmu Kisah Penciptaanmu, Kisah Penciptaanku Kisah Penciptaanku. Sehingga tidak ada yang merasa dirinya memiliki Kisah Penciptaan lebih benar ketimbang Kisah Penciptaan orang lain. (F)

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan.

Bencimologi

Sebelumnya

Filsafat Spanyol

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jayasupranalogi