post image
Ilustrasi/Net
KOMENTAR

Skoliosis  adalah kondisi kelainan pada tulang belakang yang tingkat keparahannya bisa berbeda-beda dan memicu berbagai keluhan. Data dari World Health Organization (WHO) memperlihatkan, 3 persen warga di dunia rentan terkena penyakit ini. Di Indonesia sendiri angkanya mencapai 3 sampai 5 persen.

Dikutip dari WebMD tulang, skoliosis berbahaya bila bengkoknya sudah lebih dari 10 derajat membentuk seperti huruf "S" atau "C. Lalu apa bahayanya dan bagaimana cara pengobatannya?

1. Bahaya skoliosis. Ketika sudut kebengkokan tulang skoliosis tidak segera ditangani dampak yang paling ringan adalah keluhan nyeri otot di daerah punggung. Menurut Benedictus Megaputera SpOT, MSi, hal ini terjadi karena otot pada satu sisi tubuh bekerja ekstra akibat ketidaksimetrisan tulang. Bila dibiarkan dalam jangka panjang, skoliosis bisa sampai menimbulkan gangguan pada fungsi paru-paru dan jantung.

2. Penyebab skoliosis. Dr dr Rahyussalim, SpOT(K), dokter ortopedi dari RS Cipto Mangunkusumo menjelaskan, skoliosis paling banyak menyerang perempuan. Tidak diketahui pasti apa penyebabnya, namun diyakini berhubungan dengan komposisi hormonal dalam tubuh. Beberapa teori mengaitkan skoliosis dengan kelainan protein, namun dr Salim tidak berani memastikan karena di kalangan dokter pun masih banyak teori lain yang berkembang. Namun yang jelas, risiko skoliosis lebih besar pada orang-orang yang memiliki riwayat penyakit serupa dalam keluarga. Beban yang berat dan posisi duduk yang salah tidak menjadi penyebab skoliosis langsung, tetapi bisa memperburuk kelengkungan kurva.

3. Ciri skoliosis. Karena tulang belakang sulit dilihat langsung tanpa bantuan rontgen, orang dengan skoliosis mungkin akan tampak dari cara berdiri. Bisa jadi ia sedikit membungkuk ke depan atau bahu dan pinggangnya tinggi sebelah. Dr dr Wawan Mulyawan, SpBS, SpKP, dari Lamina Pain and Spine Center, Rumah Sakit Meilia Cibubur mengatakan, skoliosis juga bisa dilihat dari ciri biasanya seseorang sulit menemukan posisi tidur yang nyaman. Sesak napas juga bisa dialami ketika derajat kelengkungan skoliosis sudah terlalu besar dan menekan diikuti dengan penyusutan tinggi badan.

4. Pengobatan skoliosis. Untuk mengobati skoliosis dr Andri Primadhi, SpOT, dari RS Hasan Sadikin Bandung mengatakan penanganannya beragam tergantung dari faktor berat, usia, dan derajat skoliosis. "Sebagian pasien tidak perlu penanganan khusus, tapi sebagian lain perlu tindakan yang bervariasi seperti penggunaan penyokong tulang belakang (brace), fisioterapi, bahkan operasi," papar dr Andri.(F)

Ini Tips Jaga Kesehatan Untuk Warga Terdampak Karhutla

Sebelumnya

Waspada! Tiga Kasus Infeksi Zika Ditemukan Di Singapura

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Health World