Jaya Suprana
Jaya Suprana
KOMENTAR

SEJAUH ingatan saya yang masih tersisa, dapat dikatakan bahwa pada masa belajar dan mengajar di Jerman pada dekade 70-an abad XX, saya tidak pernah mendengar ada istilah populisme. Namun di Eropa masa kini, istilah populisme mendadak popular. Terutama setelah pengungsi dari negara-negara Eropa yang kurang makmur mulai imigrasi ke negara-negara Eropa yang lebih makmur.

Praktik

Menurut sang mahasosiolog Cas Muddle, populisme merupakan sebuah respons demokrasi semu terhadap liberalisme yang tidak demokratis. Populisme bisa menjadi ancaman, namun juga bisa menjadi peluang untuk memperbaiki politik yang berjarak dengan rakyat.

Di negara seperti Amerika Serikat, gagasan tentang populisme masih dikaitkan dengan politik sayap-kiri di dalam kemelut konflik dengan Partai Demokrat karena dianggap terlalu mengarah ke pemikiran sentris. Di AS hadir anggapan bahwa liberalisme berhubungan dengan Sosial-Demokrasi dan populisme adalah versi keras-kepalanya.

Sementara di Eropa, liberalisme tidak bisa disandingkan dengan populisme sama sekali. Maka gerakan Occupy Wall Street juga dikategorikan sebagai gerakan populis.

Kerja sama antara kelompok kanan dan kiri yang melakukan kritik terhadap politik arus utama di sebuah negara juga disebut sebagai populisme. Baik Donald Trump maupun Bernie Sanders dituduh populis oleh kelompok kanan maupun kiri, yang memiliki kesamaan dalam hal antikemapanan akibat amarah, frustrasi, dan kebencian yang sedang merajalela di masyarakat Amerika Serikat.

Politisi di Eropa selalu menunjuk musuhnya sebagai populis dalam konotasi buruk. Namun apabila populis berarti bekerja bersama masyarakat, mereka sangat bangga disebut sebagai populis.

Akademis

Populisme merupakan suatu sikap politik yang mengedepankan gagasan "rakyat" sambil kerap menyandingkan kelompok ini dengan "elit". Dalam ilmu politik dan ilmu sosial lainnya, berbagai definisi populisme telah digunakan, meskipun beberapa ilmuwan menolak istilah itu sama sekali.

Tidak ada definisi tunggal dari istilah populisme, yang dikembangkan pada abad ke-19 dan telah digunakan untuk memaknai berbagai hal sejak saat itu. Beberapa politisi atau kelompok politik menggambarkan diri mereka sebagai "populis" dan istilah ini sering diterapkan kepada orang lain secara merendahkan.

Nasib populis mirip marhaenisme di Indonesia. Berpihak ke rakyat tertindas berarti marhenis yang rawan digelincirkan ke komunis.

Makna

Berdasar telaah kelirumologis yang dilakukan Pusat Studi Kelirumologi terhadap apa yang disebut sebagai populisme, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya populisme sekadar sebuah terminologi ilmu politik yang pada hakikatnya bebas nilai.

Nilai positif atau negatif sepenuhnya tergantung kepada bagaimana dan untuk apa serta oleh siapa dan untuk siapa istilah populisme digunakan.

Jika populisme digunakan untuk memecah-belah bangsa atau bahkan menindas rakyat, maka dengan sendirinya makna populisme menjadi positif bagi yang ingin memecah-belah bangsa dan/atau menindas rakyat.

Namun langsung menjadi negatif bagi bangsa yang dipecah-belah dan rakyat yang ditindas.

Penulis adalah pendiri Pusat Studi Kelirumologi




Viral, Seorang Terapis Diduga Lakukan Kekerasan kepada Anak Penyandang Autisme

Sebelumnya

Menggratiskan Tes PCR Pasti Mampu Jika Mau

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana