Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net
KOMENTAR

MESKI menuai kontroversi, buku panduan rekomendasi buku sastra sebagai alat bantu bahan ajar tetap dipakai tahun 2024/2025.

"Kita usahakan tetap sebelum tahun ajaran baru," kata Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikbud Ristek, Anindito Aditomokepada wartawan di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (31/5).

Mengenai sejumlah judul buku yang mendapat kritik dan dinilai vulgar oleh beberapa kalangan, menurut Dito buku panduan tersebut sudah ditarik kembali dan dilakukan evaluasi. 

Dito juga mengatakan bahwa program sastra masuk sekolah ini tidak akan mengganggu kurikulum merdeka. Sifatnya hanya pelengkap dan tidak wajib bagi guru.

"Kita tetap usahakan perbaikan, telaah internal, evaluasi yang paling tidak sebagian yang sudah siap sehingga guru-guru yang tertarik dengan gunakan karya sastra sudah bisa digunakan di semester baru tahun ini," ujarnya.

Dito menjelaskan tujuan dari program kurikulum sastra adalah untuk merangsang dan meningkatkan literasi khususnya kepada pelajar. Karya-karya sastra yang bisa digunakan guru itu sebelumnya juga melewati kurasi oleh kurator yang terdiri dari sastrawan, akademisi dan Guru.

"Pendekatannya tidak ada yang diwajibkan karena kita tahu kesiapan murid juga berbeda-beda. Ini perlu waktu yang panjang sekali tapi kalau kita tidak mulai dari sekarang kapan kita ya kapan lagi Kita bisa memperkenalkan karya sastra ini di pembelajaran," kata dia. [F]




Hadiri Pertemuan WIPO di Jenewa, Menparekraf Sandiaga Uno: Indonesia Punya Potensi Kekayaan Intelektual yang Sarat Tradisi dan Kearifan Lokal

Sebelumnya

Dari Kampung Zakat Hingga Kota Wakaf, Kementerian Agama RI Terus Optimalkan Pemberdayaan Ekonomi Umat

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel News