Sopiyah Supriatin (berkaos coklat)/Net
Sopiyah Supriatin (berkaos coklat)/Net
KOMENTAR

KISAH pilu seorang gadis dari Indramayu yang terpaksa menyamar menjadi lelaki agar bisa diterima sebagai kuli bangunan viral.

Sopiyah Supriatin mengubah penampilannya menjadi pria agar bisa mendapatkan pekerjaan kasar itu demi menghidupi adiknya, Samsul Ramadhan.

Kedua saudara itu tinggal di rumah sederhana di atas tanah pemerintah di Jalan Samsu Blok Bong, Kelurahan Lemah Mekar, Kecamatan Indramayu, Jawa Barat. Sang ayah terpaksa merantau sebagai buruh serabutan setelah ibu keduanya meninggal.

Dalam pekerjaannya, Sopiyah biasa mengangkut semen, mengaduk semen, dan lainnya. Dari pekerjaannya itu, Sopiyah bisa menerima upah hingga Rp 120 ribu per hari.

Meski sudah maksimal mengganti dandanannya agar bisa diterima sebagai kuli harian lepas, namun tidak setiap hari Sopiyah bisa mendapatkan pekerjaan itu.

"Kalau sekarang suka ikut-ikut kerja bangunan. Ini juga lagi enggak kerja-kerja," kata Sopiyah.

Bila sudah tak bekerja, dia dan adiknya, Samsul pun harus tidur dengan perut lapar. 

"Kadang pernah dua hari enggak makan, kadang pernah tiga hari," ujar dia.

Akibat keadaan yang sulit itu, Sopiyah dan adiknya terpaksa putus sekolah. Padahal, Samsul merupakan siswa berbakat dan berprestasi.

Samsul bahkan pernah membawa pulang piala Juara 2 ajang Wall Climbing Competition (WCC) bersama Mahameru Climbing Club (MCC) Indramayu yang diadakan oleh Mahasiswa Kehutanan Pecinta Alam (Mahakupala) Universitas Kuningan.

Setelah kisah Sopiyah dan adiknya viral, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Indramayu serta Pemerintah Kecamatan Indramayu langsung bertindak cepat dengan mendatangi rumah keduanya untuk memberi bantuan.

Meski dibantu dan diberi kesempatan untuk meneruskan sekolahnya, Sopiyah menyadari posisinya sebagai tulang punggung bagi keluarga. Dia tetap bekerja, mendukung kehidupan dan sekolah adiknya, Samsul. [F]




Hadiri Pertemuan WIPO di Jenewa, Menparekraf Sandiaga Uno: Indonesia Punya Potensi Kekayaan Intelektual yang Sarat Tradisi dan Kearifan Lokal

Sebelumnya

Dari Kampung Zakat Hingga Kota Wakaf, Kementerian Agama RI Terus Optimalkan Pemberdayaan Ekonomi Umat

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel News